Derita Ibuku Terbawa Hingga ke Liang Kubur

0
103
views

“Prangggg…” Suara jendela pecah mengagetkan kami dipagi hari itu. Hari dimana semua umat muslim bergembira, menyambut datangnya Idul Fitri.
Ya, hari itu Ayahku untuk yang kesekian kalinya merusak benda-benda yang ada didalam maupun sekitar rumah kami. Beliau kembali melakukan hal itu karena perselingkuhannya yang kesekian kalinya Ibu dan kami anak-anaknya mengetahuinya.

Ya dia Ayahku, laki-laki yang sering menyakiti juga menghianati istrinya.
Kami tujuh bersaudara. Empat laki-laki dan tiga perempuan. Dari kecil sudah terbiasa melihat Ibu kami disiksa dipukul oleh Ayah kami. Secara ekonomi sebenarnya kami bukanlah keluarga yang kekurangan, tapi karena Ayahku seorang pemain perempuan, judi dan suka minum yang membuat kami sering makan apa adanya. Ya uangnya dipakai buat kesenangan pribadi Ayahku. Beliau seorang PNS disalah satu instansi pemerintahan.

Hari itu sehari sebelum idul fitri. Usiaku sdh 13 tahun. Para tetangga dan family kami sudah sibuk menyiapkan sajian istimewa untuk hari raya. Saat itu aku melihat Ibu termenung dan sedih, jangankan baju baru sebutir beras dan seekor ayampun untuk sajian besok tidak bisa kami siapkan.
Ayahku entah kemana sudah dua hari tidak pulang ke rumah. Kami menunggu dengan harapan Ayah akan pulang membawa bahan makanan yang bisa Ibu sajikan esok dihari idul fitri.

“Kring kring kring” , suara telpon rumah berdering. Saat itu handphone belum ada. Setelah ku angkat ternyata Om adik Ayahku yang menelpon. Beliau sangat dekat dengan kami bahkan menyayangi kami seperti anaknya sendiri. Beliau juga sangat menyayangi Ibu kami.

“Hallo nak ini Om, tadi Om lewat di depan rumah petak di jalan bakahuni. Om lihat ada mobil Ayahmu disitu. Ayo Om jemput, Om antar buat ketemu Ayahmu”, begitu informasi yang Om sampaikan.

Akupun mengiyakan agar dijemput Om. Aku dibonceng Om dan dua saudara laki-lakiku mengikuti dari belakang dengan berboncengan sepeda motor. Tibalah kami dilokasi yang disebutkan Om. Betapa kagetnya kami melihat Ayah kami dengan seorang perempuan paruh baya yang jika disandingkan dengan Ibu kami yang keturunan belanda cantik putih dan tinggi, perempuan itu ibarat langit dan bumi. Ya, Ayahku lagi menikmati pesta persiapan lebaran bersama keluarga perempuan simpanannya. Mereka sibuk memasak dengan aneka lauk istimewa.
Aku menangis, melihat keadaan itu.
Membayangkan Ibuku, adik-adikku yang masih kecil manahan lapar dirumah, sementara Ayahku bersenang senang dengan wanita simpanannya.
Aku marah dan mengamuk. Ku maki-maki Ayahku tak kupikirkan lagi masalah dosa.

Suasana dirumah petak jadi ribut. Tetangga berhamburan keluar melihat pertengkaran antara anak dan Ayah.
“Dasar anak durhaka, bikin malu awas kau ku laporkan polisi”, kata Ayahku sambil berkacak pinggang. Saudara laki-lakiku pun emosi dan kami saling dorong dengan Ayah kami. Entah siapa yang menelpon polisi tiba-tiba sudah ada dilokasi.
Aku di angkut pakai mobil patroli,bersama saudaraku. Hatiku sangat sakit sambil menangis, bayangkan aku seorang anak gadis harus merasakan naik mobil patroli karena perbuatan Ayahnya.
Ayahku pun dibawa ke kantor polisi dan perempuan simpanannya ikut mendampingi.
Omku pulang menjemput Ibuku. Di kantor polisi Ibuku hanya bisa mengelus dada dan menangis saat kami diperiksa. Ayahku memakiku dan ibuku juga saudaraku. Sampai pak polisi yang memeriksa kami marah melihat kelakuan Ayah kami.

Akhirnya setelah lama diproses, kami dibolehkan pulang. Aku, Ibuku dan saudaraku pulang ke rumah kami. Sementara Ayahku tentu saja mendampingi selingkuhannya.
Sampai dirumah kami berpelukan sambil menguatkan satu sama lainnya.

Malam itu kami lalui dengan air mata. Untunglah Omku datang membawa uang untuk Ibuku pakai belanja seadanya untuk idul fitri besok.
Subuh dini hari Ibuku bangun kepasar lalu memasak untuk hari raya pagi ini. Tak kami duga saat kami sedang didapur membantu Ibu, Ayahku datang tiba-tiba dan memecahkan tiga buah jendela depan rumah kami.
Tetangga yang lewat untuk menuju lapangan dan masjid untuk sholat pun kaget mendengar keributan dari arah rumah kami.

by : Henny Zacky

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here