Cuitan Sayang

0
73
views

“Dek, tahu tak di mana kaos kaki Abang?”

Aku yang sedang mematut diri hendak memakai celak laksana Sridevi menunda sebentar aktivitasku.

Tanpa kata aku berjalan ke arah lemari kemudian membuka lemari bagiannya. Ada sepuluh pasang kaus kaki yang rapi tertata di dalam sana.

Duh, pusing.

Dia hanya cengar-cengir saja.

Selamat. Tenang kembali, akhirnya aku bisa memanjangkan bulu mataku dengan cetar membahana.

Namun, baru satu bulu mata yang menempel, eh terdengar teriakan-teriakan dari luar.

Aku berlari meninggalkan bulu mata petir gledekku melayang satu. Takut sesuatu terjadi dengan suamiku.

Alamak, ketika aku keluar kamar dengan sangat kebingungan dia bertanya.

“Dek, tahu kacamata Abang di mana?”

“Melihat jauh sudah kabur ini.”

Tanpa kata aku mendekat ke arahnya. Kemudian menepuk-nepuk pipinya yang chubby. Lalu tanganku beralih ke atas kepalanya dan mengambil kacamata coklat itu.

Sekali lagi dia nyengir.

Aman, tentram sekarang. Kulanjutkan memoles bibir kecil yang aduhai semlohai ini. Sambil memonyongkan bibir kuoleskan jupon terbaru berwarna merah kalem. Sempurna, sekali polesan lagi.

Namun, ya Allah Rabii. Polesan bibirku beralih di pipi gara-gara teriakan Abang suami, lagi.

Tergopoh-gopoh aku berlari.

“Dek, kalau naruh sepatu yang benar dong. Masak sepatuku di buang dalam sampah.”

Dahiku berkernyit. Kudekati dia yang berjongkok di dekat bak sampah dapur.

Allahu Rabbi. Kalau saja pernikahan kami tidak mencapai angka dua puluh tahun pasti aku sering darah tinggi.

Wajahnya masih bersungut-sungut. Kutinggalkan dia dan beralih ke rak sepatu. Kuambil sepatu barunya yang persis sama. Bagian solnya masih utuh dan bagus sementara satu sepatu di tangannya kuambil. Sol bawahnya sudah bolong long long.

Dia nyengir lagi. Harusnya aku hari ini dapat piring gratis selusin bagaimana tidak sudah tiga kali dia lupa dan biasanya beli tiga gratis piring, begitu promo di tipi.

Bismillah ya Allah. Sudah tidak ada lagi teriakan, dan aku berhasil menyelesaikan riasan dengan cepat. Berganti pakaian yang rapi dengan aksen renda merah di bagian bawah dan clutch kutenteng di ketiak. Biar kayak artis-artis dah.

Namun, begitu aku sampai di ruang tamu, celoteh Abang kumat lagi.

“Ya Allah, dek. Mau kemana lagi sih. Abang ada acara keluar masak kamu keluar juga.”

Sebenarnya di atas meja makan ada terong gosong yang ingin sekali kusambal. Apalagi omongan Abang semakin menambah semangatku untuk mengulek cabai dan kroni-kroninya. Pedas, Bang omongannya.

“Abang!” Aku hanya berteriak satu kali kemudian mengambil satu buah undangan di dekat meja tipi.

Undangan Pernikahan
Untuk Bapak/Ibu Hermawan
Sekalian

Dia terdiam. Kemudian nyengir kembali.

“Nyengir lagi sandal melayang deh, Bang. Sebel. Lupa mulu, lupa lagi. Untung kagak lupa kalau punya istri.”

Lalu kututup pintu kamar di belakangku. Kondangan hari ini batal.

Sebal.

_Tamat_

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here