Cinta yang Tertunda #10

0
162
views

Sepoy-sepoy angin datang di sore itu, kemudian membawa Yusuf melayang seolah hendak menyusul awan-awan yang terus bergerak perlahan menjelajahi bumi dari udara.

Terdengar dengan samar-samar lantunan nada dari petikan sebuah gitar di taman itu, memecahkan lamunan Yusuf pada saat itu, Yusuf mencari dari mana arah suara itu, angin kini berganti berhembus kencang, menyapu dedaunan, Yusuf melihat seorang gadis duduk di bawah pohon yang rindang sedang memainkan gitarnya.

“Ziyah,” ucapnya dalam hati.

Yusuf mendekati Ziyah dan duduk tepat di samping Ziyah, sehingga menghentikan aktifitas Ziyah memainkan gitarnya.

“Kamu bisa main gitar juga, Zi?”

“Iya Kak,” jawab Ziyah lalu tersenyum melihat Yusuf.

“Bisa main alat musik apa aja kamu?”

“Banyak, Piano, Biola, Harmonika, dan Gitar,”

“Pantesan ingin sekolah jauh-jauh ya.. ”

“Aku suka banget dengan seni, Kak, main musik, menyanyi, ngelukis, semuanya aku suka, Kak. ”

” Mainkan lagi dong gitarnya, nyanyi juga.” pinta Yusuf.

Ziyah mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu, untuk Yusuf.
Ziyah menyanyikan lagu you are the reason, milik callum scoot.

There goes my heart beating, cause you are the reason
I’m losing my sleep, please come back now
There goes my mind racing, and you are the reason
That I’m still breathing i’m hopeless now.
I’d climb every mountain, and swim every ocean
Just to be with you, and fix what I’ve broken
Oh, ’cause I need you to see, that you are the reason.

Seolah terhipnotis dengan musik yang dimainkan Ziyah, Yusufpun ikut menyambung menyanyikan lagu tersebut, sambil menatap Ziyah.

There goes my hand shaking, and you are the reason
My heart keeps bleeding, I need you now
If I could turn back the clock, I’d make sure the light defeated the dark, I’d spend every hour, of every day
Keeping you safe.

Sadar di perhatikan Yusuf, Ziyah menghentikan petikan jari-jarinya pada gitarnya tersebut. Jantungnya berdegup kencang, melihat tatapan Yusuf yang begitu dalam padanya.

“Udah ah … Ziyah capek, lagian udah sore, Ziyah mau pulang dulu ya Kak,”

“Kamu naik apa tadi ke sini Zi,”

“Naik motor Kak, aku duluan ya, Assalamualaikum, Kak.”

“Waalaikumsalam.”

___

KAFE

Yusuf menemui Arif dan Dini, “Sorry, gua telat.”

“Dari mana aja lu?” tanya Arif.

“Tadi, sebelum ke sini, gua ke taman sebentar, gua jumpa Ziyah, ya udah kita ngobrol sebentar.”

“Ziyah kok gak lu ajak sih, Suf, kan seru kalo ada dia.”

Yusuf hanya menyunggingkan senyumannya, “Din, Rif, dia mau ninggalin gua,”

“Siapa?” tanya Dini dan Arif serempak.

“Ziyah, dia ingin ngelanjut sekolahnya di Inggris.”

“Serius,!! lu?”

Yusuf mengangguk, “Di saat gua udah mulai menerima dia di hidup gua, sekarang dia mau ninggalin gua begitu aja, sama seperti Shofa, yang meninggalkan gua, rasanya gua gak berhak apa ya untuk jatuh cinta, dan ingin memiliki seseorang, kenapa orang-orang yang mencintai gua, pada ninggalin gua.”

Dini dan Arif saling pandang mendengar penuturan Yusuf,

“Lu cinta Ghaziyah, Suf?” tanya Dini sambil tersenyum-senyum.

“Sial!! Napa gak gua rekam tadi omongan lu ya, Suf.” Ucap Arif

“Gua udah mulai bisa menerima Ziyah, tapi gua masih belum berani mengungkapkannya, karena gua bingung, perasaan ini apa emang karena Ziyahnya, apa karena bayang-bayang Shofa yang selalu ada pada Ziyah.”

“Coba lu istikhara, Suf, semoga lu menemukan jawabannya, terus lu sambil meyakinkan Ziyah, agar bisa bersekolah di Indonesia aja.” ucap Arif.

“Ziyah itu dah banyak ngebantu lu, Suf, sekarang gua lihat perubahan lu, sekarang gua udah ngenalin lu lagi, lu dah kembali menjadi Yusuf yang gw kenal dulu.”

“Ini juga karena kalian, kalian yang mengingatkan gw, disaat gw benar-benar terpuruk.”

“Cinta datang karena terbiasa, jangan lu sia-siakan si Ziyah, gua dan Dini akan selalu ngedukung lu, Suf, dan gw Yakin, Shofa juga pasti senang, melihat perubahan elu,”

Hari sudah semakin larut malam, Yusuf, Dini dan Arif pun sudah kembali kerumah masing-masing.

___

“Fa, Kamu tau, kamu adalah anugrah terindah yang pernah aku miliki, mengenalmu adalah hal yang sangat indah, kini aku hanya dapat mengenangmu, Ziyah hadir mengisi kekosonganku, membantuku bangkit dari keterpurukanku atas kehilanganmu, Fa … aku tak tau dari mana awalnya, rasa ini tumbuh dengan tulus pada Ziyah, orang yang kamu titipkan hatimu, aku tidak tau, apakah ini akan berakhir, semua ini diluar kuasaku Fa,” ucap Yusuf sambil menatap Foto Shofa.

“Shofa, kamu memang sudah tak terlihat lagi, kamu sudah menjadi semu, tetapi Fa, perlu kamu tau, kamu akan selalu ada di dalam diriku, dan kamu gadis yang bernama Ghaziyah, kamu mampu membuat hidupku yang hampir hancur berubah menjadi lebih berwarna, dan kamu tau Zi, aku akan berusaha untuk tak membiarkan kamu pergi meninggalkan aku, aku akan ungkapkan perasaanku padamu, dan andaipun kamu tetap pergi, aku akan menunggumu.”

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here