Cinta yang Menuntun Langkahku #18

0
558
views
Cinta yang Menuntun Langkahku

Nelisa terdiam mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir Edward, ia masih memikirkan perasaannya terhadap Evan. Jujur, ia memang benci dengan Evan tetapi diam-diam ia juga menyukai sikap usil Evan yang datang tiba-tiba. Tak jarang ia sering tersenyum saat mengingat kembali keusilan yang lekaki itu perbuat, ia juga merasakan kehilangan saat tak lagi ada keusilan Evan seperti biasanya.
Saat Evan tak terlihat ia akan tercari-cari sosok lelaki itu, bahkan ia selalu membukakan pintu rumahnya saat teman-teman kakaknya datang untuk latihan, dengan harapan ia akan bertemu dengan Evan. Dan ia akan kecewa saat tak melihat laki-laki itu di antara mereka.
Mungkin tanpa ia sadari, perasaannya telah beralih arah mencintai Evan.

Nelisa mendongak menatap Edward di hadapannya, “kak, gue tahu kalau sekarang gue suka Evan, gue sayang dia Kak!” Beritahu Nelisa tulus dari hati yang paling dalam, Edward tersenyum lalu menepuk pundak Nelisa pelan.

“Kejar dia Nel, cepatan sebelum terlambat!”

“Gue pergi dulu Kak, thanks karena udah sayangi Nelisa!” Pamit Nelisa.

Ia berbalik hendak pergi tetapi tertunda saat melihat Ayu disana, mereka saling berpandangan. Tak lama, Nelisa mengakhirinya duluan. Ia harus mengejar cintanya, sebelum laki-laki itu benar-benar pergi dan tak kembali lagi.

Sementara itu di Bandara, Evan melangkah longlai memasuki loket, disana sudah ada Fasya yang menunggunya. Ia mendekati Fasya yang sepertinya baru saja habis menangis.

“Sudah?” Tanya Fasya, Evan hanya mengangguk lalu menarik bagasinya melangkah masuk ke ruang tunggu.

Dalam hitungan menit lagi, deadline mereka akan lepas landas menembus langit biru.

Revan menghentikan mobilnya bersamaan dengan taksi yang di tumpangi Nelisa, adiknya. Kedua Kakak beradik itu bertemu di lobi, keduanya tampak terkejut, tanpa sadar saling melemparkan pertanyaan dalam waktu yang bersamaan.

“Lho, ( kakak ) loe kok ada di sini sih?”

“Gue lagi nyari Evan ( Fasya )”

Mereka tak sempat berpikir saat tiba-tiba terdengar sirent pemberitahuan kepada penumpang jalur Jakarta-London akan segera terbang dan menganjurkan para penumpang memasuki deadline.

“WHATT???”

Seketika mereka segera berlari menyusuri bandara, mereka tak ingin terlambat.

Evan menarik napas lalu bangkit dan menarik kopernya menuju deadline, sekali lagi ia menoleh kebelakang, berharap bisa menemui Nelisa disana. Namun hampa, Nelisa tak akan datang. Hal yang sama juga di lakukan Fasya, namun nihil Revan tak akan datang. Fasya menoleh ke arah Evan lalu mengangguk lalu melangkah beriringan menuju deadline yang akan membawa mereka bumi london, meninggalkan Jakarta dengan segala kenangannya.

“EVANNN ( FASYAA )” jeritan Revan dan Nelisa terdengar kuat di seluruh penjuru, kedua Kakak beradik itu ngos-ngosan, capek berlari.

“PLEASE, DON’T TO GO”

“Kak pake pengeras suara aja!”

“Ide bagus, cepatan sebelum terlambat!” Balas Revan segera berlari menuju ruang informasi.

Evan akan memberikan karcisnya saat tiba-tiba terdengar ada yang memanggil namanya lewat pengeras suara.
Itu suara Nelisa, ia sangat terkejut.

“EVAN, DON’T TO GO. PLEASE! JANGAN PERGI, GUE… GUE SAYANG SAMA LOE. TETAPLAH DISINI, GUE NGGAK MAU LOE PERGI. PLEASE, DON’T TO LONDON”

Evan tak bisa berkata-kata, ia kaku di tempat. Ia takut itu hanya mimpi, ia takut semua yang di dengarnya tidak nyata, ia tak mau berharap lagi, sungguh tak mau.

“FASYAA, INI GUE REVAN. TOLONG, LOE JANGAN PERGI. GUE CINYA LOE SYA, DON’T TO LONDONG. PLEASE!”

Hal yang sama juga di rasakan Fasya, kedua kakak adik itu saling pandang lalu menggeleng pelan, menganggap itu hanyalah mimpi.

“EVANNN ( FASYAA )” Teriak Nelisa dan Revan bersamaan, seketika Evan dan Fasya menoleh ke sumber suara.

Kedua kakak adik itu mengerjap berkali-kali, sosok Nelisa dan Revan berdiri di depan beberapa meter dari mereka.
Semuanya nyata bukanlah hayalan mereka, tanpa sadar keduanya melangkah mendekati Nelisa dan Revan.

Masih menatap Nelisa, Evan berjalan sangat pelan. Hal yang sama di lakukan Fasya.
Tahu-tahu Nelisa berlari menghampiri Evan, menubruknya dan memeluknya erat yang Evan balas memeluknya juga.

“Gue juga sayang loe kak, gue baru menyadari perasaan gue yang sebenarnya ke elo. Please, jangan tinggalin gue Kak!” Ungkap Nelisa masih memeluk Evan, sementara lelaki itu tak tahu harus menjawab apa. Ia sedang tidak bermimpi bukan?

Sementara itu.

“Sya, gue cinta sama loe. Gue sadar, cinta gue bukanlah Vika, tapi elo Sya. Please Sya, don’ t to go London. Aku sayang kamu, Sya. You’re be married me?” Ungkap Revan bersungguh-sungguh, Fasya tak bisa berkata selain hanya mengangguk.
Revan tersenyum lalu memeluk Fasya erat, ia sangat bahagia, amat teramat sangat bahagia.

Evan melepaskan pelukan Nelisa, kini mereka saling berpandangan. “Aku sedang tidak bermimpi bukan?”tanya Evan lirih, Nelisa angguk.

Seketika Evan tersenyum lalu tiba-tiba ia menggendong Nelisa membawanya keliling bandara, tindakannya itu membuat Neliaa terkejut, secara reflek ia mengalungkan kedua tangannya di leher Evan.

“AKU SAYANG KAMU NELISAAA, SEKARANG, ESOK DAN SELAMANYA KAMU ADALAH MILIK KU!” Teriak Evan gila-gilaan.

..END…

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here