Cinta yang Menuntun Langkahku #17

0
455
views
Cinta yang Menuntun Langkahku

Sudah seminggu Evan tak tampak di sekolah, ia sibuk mengurus kepindahannya, kini ia datang ke sekolah bukan untuk belajar, tetapi untuk menyelesaikan semuanya sebelum ia benar-benar meninggalkan Jakarta.
Turun dari motor ia menggendong ransel di punggungnya, lalu melangkah pergi meninggalkan parkiran.
Kedatangannya yang memakai pakaian bebas mengundang perhatian semua orang, termasuklah Nelisa yang tak sengaja melihatnya dari balkon di lantai dua.

“Eh, datang juga dia. Kirain nggak akan pernah datang lagi!” Gumamnya tanpa sadar,

“Tapi kok dia pake pakaian bebas sih, mau kemana dia?” Gumamnya lagi sambil mikir.

“Eh, ngapain juga gue mikirin dia? Bukan urusan gue juga kan?” Sambungnya, lalu kembali menatap ke depan memperhatikan pemandangan pagi hari, menikmati udaranya yang sejuk.

“Hmm,, Kak Edward mana sih? Beli minumnya kok lama banget!” Gumamnya pelan.

Evan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, ia ingin menemui seseorang disana.
Menginjak ke anak tangga terakhir, siapa sangka ia akan berhadapan dengan Nelisa. Mereka saling berpandangan lama, saat itulah Nelisa mulai di serang rasa tak sedap hati saat melihat tatapan Evan yang tak ia ketahui apa artinya.

Berdeham sebentar Evan mulai angkat bicara, “Gue… mau ngomong sesuatu sama loe, bisa?”

“Ngomong apaan? Cepatan gue nggak punya waktu banyak!” Balas Nelisa dengan nada yang ketus seperti selalu.

“Gue… gue suka sama loe!” Ungkapnya membuat mata Nelisa membulat tak percaya dengan pendengarannya barusan.

“Gue suka sama loe sejak ciuman itu, gue sayang sama loe. Gue nggak bisa ngungkapin perasaan gue lewat kata-kata, selama ini gue iseng ke elo sebenarnya itu ungkapan atas rasa suka gue ke elo. Dan itu malah ngebuat loe ngebenci gue!” Jelas Evan, lalu tertawa hambar.

“Gue senang loe akhirnya nemuin cinta sejati loe, gue turut bahagia loe dengan Edward. Gue doain deh kalian bahagia selalu, mungkin kita emang gak berjodoh!” Sambungnya dengan senyuman tipis.

Tak kuat lagi Evan berbalik hendak pergi, tetapi tertunda saat melihat Edward berdiri di hadapannya dengan pandangan yang sulit di artikan.
Nelisa masih terpaku saat tiba-tiba Edward meninju wajah Evan sekali, ia mendorong Evan hingga menghantam tembok di belakangnya.

“Kenapa Van, kenapa loe nggak pernah bilanh kalau cewek itu Nelisa? KENAPA VAN?” tanya Edward setengah menjerit, ia mencengkram kuat kerah baju Evan.

“Karena gue tahu Nelisa akan lebih bahagia bersama loe!” Sambil menyingkirkan tangan Edward yang mencengkram kerah bajunya.

“Jaga dia baik-baik bro, gue pamit dulu!” Pamitnya sambil berlalu pergi.

“Loe mau pergi kemana?” Tanya Edward bingung.

“Gue bakalan balik ke London!”

“Ha, apa karena ini loe keluar dari E2RV?” Tanya Edward menyadarkan Nelisa.

Jadi Evan tak tampak lagi ikut latihan karena laki-laki itu sudah tidak lagi bergabung di E2RV, dan lelaki itu akan pergi ke London?.
Mendadak ia merasakan perasaan takut, takut tak bisa melihat Evan lagi.
Perasaan apakah ini?.

“Bilang ke yang lain gue pamit, selamat tinggal!” Pamitnya lalu beranjak pergi tanpa menoleh lagi, panggilan Edward tak ia iraukan. Tekadnya sudah bulat ia tak akan melihat ke belakang lagi.

●●●

Revan sedang berduaan dengan Vika di kantin Kampus namun pikirannya tak lagi disana, ia sedang memikirkan Fasya. Beberapa minggu ini dia selalu melihat Fasya dengan mata yang sembab, dan hari ini ia tak melihat gadis itu. Fasya tidak kelihatan dimana pun, ia mulai khawatir.
Selama ini ia tak bisa mendekati gadis itu karna ancaman Vika, yang akan memutuskan hubungan mereka.
Jelas ia tak ingin putus.
Tetapi hari berganti hari ia malah rindu dengan Fasya, ia sering terlihat uring-uringan saat tak melihat wajah gadis itu sehari saja.

REvan baru tersadar dari memikirkan Fasya saat tiba-tiba Virgo menelponnya, ia mengangkat panggilan itu.
Ia diam mendengarkan ucapan sahabatnya itu, ia tampak terkejut.

“Kapan?— APA, SEKARANG?–Oke, kesana sekarang!” Balasnya mengakhiri panggilan.

“Kenapa sayang?” Tanya Vika heran saat melihat Revan tampak terburu-buru.

“Sorry Vi, gue udah tahu perasaan gue sekarang untuk siapa. Vi kita putus ya, gue emang sayang sama loe, tetapi hanya sebatas sahabat. Sorry Vi, gue harus pergi. Gue harus kejar cinta gue yang sesungguhnya!” Pamit Revan lalu berlalu pergi meninggalkan Vika dalam kekagetannya.

■●□●■

Note: Ending akan terbuka linknya besok jam 07.25 pagi tgl 3 maret 2019

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Ending

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here