Cinta yang Menuntun Langkahku #05

0
87
views
Cinta yang Menuntun Langkahku

DUA MINGGU BERLALU

Di sekolahnya SMP JAYA ABADI, Nelisa dan Ayu sedang duduk di kantin sambil menikmati semangkuk bakso Mang Udin yang pasti bakalan mereka rindukan setelah hari kelulusan nanti di umumkan.

“Rencananya loe mau ngelanjutin sekolah dimana Nel?” Tanya Ayu memulai pembicaraan.

“Gue masuk ke SMA NUSA BANGSA Yu, dan gue udah daftar kemarin!”

“HA,, Serius loe? Terus keputusannya apa?” Tampak jelas raut kaget di wajah Ayu mendengar penjelasan Nelisa barusan.

“Gue belum tahu Yu!”

“Loe serius masuk ke SMA itu?”

“Ya begitulah, sementara loe mau lanjut dimana?” Tanya Nelisa balik.

“Hmm,, kalau begitu kita satu sekolah lagi dong. Gue juga masuk ke sana, udah daftar seminggu yang lalu” jelas Ayu sambil tersenyum lebar.

“Serius loe. Yee,, berarti kita kan selalu bersama!” Seru Nelisa senang.

●●●

Di Kampus Sriwijaya.

Revan dan Vika sedang duduk berdua di Kantin, mereka terlihat sedang ngobrol yang sepertinya serius dan menegangkan.

“Vi, tolong percaya sama gue. Davit bukan cowok yang baik buat elo, dia nggak cinta sama loe, nggak serius suka sama loe!” Jelas Revan, Vika yang mendengarnya merasa jengah.

“Stop Van, berhenti ngejek-jelekin Davit. Jangan ngomong yang enggak-enggak deh!”

“Gue nggak bohong Vi, dia hanya mempermainkan loe, dia nggak tulus Vi. Loe harus tahu itu!”

“Udah deh Van, gue nggak mau dengar loe ngejelekin Davit lagi. Lagian loe kenapa jadi begini sih? Loe tuh udah beda, gak kayak Revan yang gue kenal dulu!” Ketus Vika bersuara, dia menatap Revan dingin.

‘Karna gue cinta ama loe Vi, gue sayang loe. Gue gak mau loe sakit hati!’ Kata Revan dalam hati sambil menatap wajah Vika dengan pilu.

“Tolong jangan ganggu gue lagi Van, loe emang teman gue, tapi kalau loe terus-terusan ngejelekin Davit kek begini, gue sebagai pacarnya juga bisa kesal Van. Mulai hari ini gue nggak mau lagi kenal ma loe, jauhi gue!” Jelas Vika sambil berlalu meninggalkan Revan yang terluka untuk kesekian kalinya, tanpa mereka sadari dari kejauhan Davit tersenyum melihat kejadian itu.

●●●

Nelisa lagi bersantai di ruang tamu sambil menikmati es krim mangkuknya saat Revan pulang, dengan wajah yang kusut. Lelaki itu langsung berbaring di sofa, saat merasakan pusing di kepalanya.

“Loe kenapa Kak? Kakak sakit ya? Capek banget kayaknya” tanya Nelisa prihatin.

Memicit dahinya berulang kali Revan menjawab dengan suaranya yang serak, ” “Kakak nggak apa-apa kok Nel, cuma sedikit lelah aja”

Menggeleng tak percaya, Nelisa beranjak mendekati kakaknya. “Kakak nggak usah bohong ama Nelisa, kakak lagi ada masalah kan? Kakak boleh kok cerita ke Nelisa”

“Nggak papa kok Nel, nggak ada masalah kok!”

“Kakak nggak percaya ya ama Neli!” Ucap Nelisa sayu, sementara Revan yang mendengarnya diam sejenak, lalu di detik berikutnya Revan beranjak bangkit duduk berhadapan dengan adik perempuannya itu yang sesaat tampak terkejut.

“Kak Revan habis nangis ya? Matanya merah gitu. Ih, kak Re cengeng ah! Cowok kok mewek!” Canda Neli, ia ingin tertawa tetapi urung saat melihat kakaknya tidak bereaksi sedikitpun.

‘Baiklah, mungkin kakak Revan sedang ada masalah, bukan waktu nya untuk bercanda’ pikir Nelisa.

“Kak, Neli siap kok dengarin cerita Kakak. Mungkin Neli gak bisa bantu, tapi dengan kakak cerita ke Neli sedikit pasti perasaan Kakak akan tenang. Percaya deh!”

“Nel, apa yang kurang dari Kakak ini? Apa yang gak Kakak punya dari Davit?” Tanya Revan prustasi, Nelisa mengernyit bingung atas pertanyaan itu.

“Maksud kakak apa? Neli gak ngerti”

Menatap tepat di manik mata Neli, Revan mulai bercerita masalah yang sedang melandanya. Sepanjang bercerita air matanya terus mengalir membuat Nelisa ikut merasakan kesedihannya, dia pun memeluk Revan.

“Kak Re yang kuat aja ya, jangan nangis hanya karna wanita itu. Dia memang bodoh menyia-nyia kan lelaki sebaik kakak, lihat aja nanti dia pasti akan menyesal” bijak Nelisa berkata.

“Makasiy ya Nel, kamu udah dengarin cerita Kakak” kata Revan lalu melepaskan pelukan mereka.

“Sama-sama Kak, Neli senang kok dengarin cerita Kakak!” Sambil tersenyum yang membuat Revan ikutan tersenyum dan tangannya menghapus air mata di pipi adik tersayangnya itu.

“Kak Re jangan nangis karna wanita lagi ya!” Sambil menghapus air mata di pipi Revan yang di jawab laki-laki itu dengan anggukkan mantap.

■■■□□□

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here