Cinta yang Menuntun Langkahku #03

0
169
views
Cinta yang Menuntun Langkahku

Tiga orang sahabat baik sedang berkumpul di ruang tamu, dirumah salah satu dari mereka. Dua orang di antara mereka membawa gitar dan bas di punggung masing-masing, mereka adalah Edward, Virgo dan Revan.

“Kemana sih tu anak? Tumben amat telat” Virgo menggerutu kesal sambil memainkan bass.

“Rumah loe sepi banget, loe tinggal sendiri ya Van” tanya Edward menatap sekeliling penjuru rumah, membuat Revan berpaling menatap kearahnya lalu tersenyum.

“Gue tinggal berdua dengan adek gue, kedua orang tua gue tinggal di Jerman” Edward manggut-manggut mendengar jawaban dari Revan.

“Berarti kalian berdua selalu makan di luar dong” tebak Virgo,

“Soal itu ya enggaklah, kami makan di rumah kok. Adek gue yang masak!”

“Wow, adek loe cewek dong. Namanya siapa?” Tanya Edward teruja, belum sempat Revan menjawab tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dan ditutup kuat oleh seseorang diiringi dengan hentakan kaki menghantam lantai.

“Dasar cowok sinting, psico…. Aaaa…. sialann!!” Gerutuan itu datang dari mulut mungil Nelisa, melangkah masuk ke dapur. Tak sadar bahwa saat itu ia sedang jadi pusat perhatian tiga orang cowok yang menatapnya bingung, tak lama Nelisa kembali dengan sekotak obat di tangan.

Kakinya hendak melangkah ke lantai atas, tetapi niatnya terhenti saat pandangannya teralihkan ke arah Revan, kakaknya yang saat itu sedang menatap kearahnyw. Putar balik, dia kini melangkah menghampiri kakaknya, dan duduk di samping Revan dengan wajah cemberut yang tentu membuat Revan makin bingung.

“Kak Re obatin luka Neli dong, Neli gak bisa obatin sendiri!” Pinta Neli manja,

Ucapan Nelisa barusan membuat Revan segera menunduk, baru menyadari keberadaan luka di tangan dan kaki adiknya. Dia mengernyit menatap Nelisa khawatir.

“Emangnya kamu dari mana aja sih? Kok bisa luka-luka begini” omel Revan sembari meraih kotak obat dan mulai telaten mengobati luka di tangan Nelisa.

“Ini semua tuh gara-gara–”

Nelisa tak melanjutkan ucapannya, ia teringat akan perbuatan laki-laki tak di kenal itu, yang telah lancang mengambil ciuman pertamanya.

“Gara-gara siapa?” Ulang Revan saat tak mendapat respon dari adiknya itu,

“Nggak tahu kak, orangnya tadi pake helm!” Jawabnya memilih berbohong ketimbang menjelaskan semuanya,

“Maksud loe, tuh orang nabrak loe?” Tanya Virgo membuat Nelisa berpaling, baru menyadari keberadaan sahabat-sahabat kakaknya disana.

“Iya!”

“Terus, tuh orang udah nabrak loe lalu gak mau tanggung jawab dan langsung pergi gitu aja” kata Edward pula, Nelisa angguk, membuat ketiga cowok itu geleng-geleng kepala prihatin.

“KASIHANN….!!!” Seru ketiga lelaki itu bersamaan membuat Nelisa begitu kesal,

“Iiihh,, nyebelin banget sih loe semua!” Nelisa yang ngambek langsung melempari mereka dengan bantalan sofa, lalu segera berlari naik ke atas menuju kamarnya, meninggalkan ketiga lelaki itu dengan keadaan ruangan yang berantakan.

“Gila man, adek loe cantik banget, putih juga, sayangnga dia juga galak banget” kata Edward setelah Nelisa tak tampak lagi oleh pandangan matanya,

“Yoii man, benar tuh. Bdw, dia udah punya cowok nggak sih?” dengan seringaian Virgo bertanya, membuat Revan memutar kedua bola matanya melihat sikap kedua sahabatnya itu.
Tak menjawab dia memilih diam.

“Woy Van, gue nanya lho. Jawab dong!”

“Iya Van, dia sekolah dimana? Kelas berapa? Berapa umurnya? Udah punya cowok apa belum?” Tanya Virgo tak sabaran,

“Brisik amat sih loe, untuk sepengetahuan kalian berdua. Dia kelas IX di SMP JAYA ABADI, umurnya baru 13 tahun, dan kalau masalah cowok gue gak tahu. Dia nggak pernah cerita ke gue” jelas Revan, kedua cowok di hadapannya angguk-angguk mengerti.

Pandangan mereka teralihkan saat kedatangan Evan dengan bibir yang memar, lelaki itu menghampiri ketiga temannya dengan senyuman, sekaligus heran melihat keadaan ruangan itu yang berantakan. Evan pun duduk di sebelah Revan.

“Sorry guys, telat. Bdw, barusan ada gempa ya. Berantakan gini!”

“Dari mana aja sih loe? Kenapa dengan bibir loe, kok memar gitu?” Tanya Edward mengacuhkan pertanyaan Evan barusan.

“Loe habis berantem ya!” Tebak Virgo yang segera di jawab Evan dengan gelengan.

“Terus kenapa bisa memar gitu?,kalau nggak ada sebabnya!” Tanya Revan pula.

“Panjang ceritanya” kata Evan singkat,

“Loe ceritain ke kita dong, jangan bikin gue penasaran deh” seru Virgo memaksa.

“Kepo banget sih loe pada” seru Evan sedikit kesal.

“Udah deh, ceritain cepatan”

“Okey, dengarin baik-baik gue nggak bakalan mengulang!” Seru Evan menyerah, ia mulai bercerita tentang kejadian yang dialaminya tadi.

Tentang kesialannya menghadapi para perempuan di sekolah yang terus mengejarnya, terpaksa melarikan diri dari Nanda yang terus menempel padanya, dan pertemuannya dengan gadis kecil yang telah membuat bibirnya memar begitu tentunya minus ciuman itu. Dia tak ingin teman-temannya tahu kalau dia sudah mencium seorang gadis, bisa-bisa dia akan dijadikan bahan tertawaan nanti oleh mereka.

“Udah gitu aja!” Ucap Evan mengakhiri cerita nya, teman-temannya manggut-manggut mengerti.

“Rasain, giman rasanya di tampar cewek? Enak nggak?” Ledek Edward dengan senyuman, membuat Evan memutar bola mata kesal.

“Rese’ loe!” Ketus Evan.

“Udah deh, yuk latihan. Keburu malam nih!” Ajak Revan, lalu bangkit diikuti ketiga temannya melangkah ke ruang latihan.

□□□■■■

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here