Cinta Terhalang Virus Corona #05

0
230
views

Seminggu setelah meninggalnya anak kecil yang dibawa Ihsan Jamal, akhirnya ada kemajuan pada kesehatan Ihsan Jamal.

Kondisinya berangsur-angsur pulih. Saat memeriksanya, suara telvon berbunyi dari gawainya.

[Bagaimana kabarmu Ruqayyah? Terimakasih telah mendoakan Abang. Alhamdulillah keadaan Abang mulai membaik.]

[Cepat pulang dari Jakarta Bang Ihsan, Abang kan janji akan melamar Ruqayyah].

[InsyaAllah, jika semua memungkinkan Abang akan pulang bulan depan, dan akan melamar Ruqayyah, untuk saat ini masih ada pekerjaan yang harus Abang selesaikan.]

Aku terkejut mendengar percakapan Ihsan dengan wanita di sebrang telvon sana. Entah mengapa hatiku cemburu membara. Kerja kata Ihsan?

Apakah wanita disana itu adalah kekasihnya? Apakah wanita yang dipanggil Ruqayyah itu tidak tau bahwa lelaki yang akan melamarnya terpapar Corona. Jika saja wanita itu tau bahwa Ihsan sedang berjuang melawan virus mematikan dan menular itu.

Tentu, dia tidak akan mau meminta Ihsan melamarnya.

“Dengan siapa kau menelfon Ihsan?” tanyaku setelah Ihsan menutup telfonnya.

“Dengan Ruqayyah, calon istriku.”

“Mengapa kamu berbohong padanya? Apakah dia tidak tau bahwa kamu sedang terbaring dirumah sakit sehingga ia tidak pernah menjengukmu?”

“Bukan urusanmu Isti Aluna!”

“Oh, ternyata benar kamu memiliki wanita lain dihatimu selain aku. Mengapa engkau tega mempermainkan hatiku Ihsan?”

“Bukankah sudah kukatakan padamu, jangan terlalu mendekatiku, nanti kamu akan berharap kepadaku. Aku juga sudah bilang kalau aku akan melamar Ruqayyah.”

“Bagaimana janjimu padaku Ihsan? Bukankah kamu akan melamarku jika bertemu denganku? Aku sudah sangat sedih karena berfikir bahwa Corona menjadi halangan kita bersatu setelah kita bertemu. Tetapi kini, mengapa harus ada Ruqayyah juga? Tidak adakah arti cintaku kepadamu Ihsan? Tidakkah kamu tau bahwa betapa tersiksanya aku menunggu, menahan rindu, berharap perjumpaan denganmu? Setelah bertemu dengan entengnya kau mengatakan akan menikah dengan orang lain?” Bulir-bulir air mata membasahi pipiku, tidak kusangka Ihsan setega itu. Padahal Ihsan tau betapa aku mencintainya, berharap agar aku dijadikan istri olehnya. Usiaku bahkan sudah menginjak 35 tahun, aku memilih menutup hati dari pria manapun demi dia. Tapi dia?

“Sudahlah Aluna, jangan buang-buang air matamu!Ingat pesanku, jangan pernah menangis karena laki-laki. Ia tidak akan iba atau kasihan. Justeru akan memandangmu remeh. Karena ia tau betapa engkau mencintainya. Air matamu seperti engkau sedang menunjukkan engkau mengemis cinta kepadanya. Tunjukkan kamu kuat ada atau tanpa ada dia. Kalau kau mau menjadi istri keduaku, aku akan tetap melamarmu. Tapi setelah menikah dengan Ruqayyah.”ucap Ihsan seolah empati.

“Aku tidak mau menjadi yang kedua! Apa yang sedang kau fikirkan? Kau tidak adil Ihsan.”ucapku menyeka air mata. Aku tidak percaya apa yang dikatakan Ihsan barusan.

“Satu lagi Aluna. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adikku saja. Tidak lebih. Dimataku kamu adalah wanita ambisius, tetapi belum layak dijadikan pendamping hidup. Kamu manja dan murahan. Mudah dicium olehku, bahkan menginap disisiku kemarin malam. Wanita seperti itukah yang akan kujadikan istri? Jangan-jangan kamu seperti itu dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuanku. Dan lagi, lelaki lebih suka mengejar. Bukan dikejar-kejar seperti ini. Ya aku menawarkan kesempatan padamu agar menjadi istri keduaku, hanya karena aku pernah mengatakan aku akan menikahimu. Jika kamu tidak mau yasudah. Aku tidak peduli.

“Cukup Ihsan! ironi sekali aku melihatmu. Aku tidak menyangka sepicik itu penilaian dan pemikiranmu terhadapku. Baik, demi Allah setitik air mata ini tidak akan jatuh dihadapanmu lagi. Apa yang membuat kamu buta? Hingga tidak bisa menilai dengan waras, bahwa aku nampak murahan bukan karena aku murahan. Tapi karena terlalu mencintaimu.”

“Hih! Selain manja, murahan, kamu juga emosional Aluna, betul-betul tidak layak dijadikan istri.” sahut Ihsan diiringi lengkungan kecil disudut bibirnya.

“Ya! Aku tidak layak menjadi istri. Menikahlah dengan Ruqayyah! Jangan hanya banyak bicara dan bisanya menyakiti hatiku saja! Menikahlah dengannya, undang aku saat kamu menikah dengannya. Supaya aku tidak pernah menaruh harap padamu lagi.” ucapku. Sungguh, sulit menahan perih dihati setelah mendengar pengakuannya. Kusudahi memeriksanya, kutinggalkan Ihsan dan bertekad tidak akan kembali lagi. Mungkin kali ini adalah kali terakhir aku memeriksa keadaannya. Aku harus menata hati.

by : Amie Yasmine 

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here