Cinta Terhalang Virus Corona #02

0
390
views

Setibanya aku diruangan isolasi, kulihat seorang pria berwajah teduh sedang terbaring tak berdaya, Kuberanikan diri memasuki ruangan tersebut. Pura-pura memeriksanya dan sambil mencuri pandang, kulihat wajah pasien yang saat itu ada dihadapanku.

Kaget, sedih, bagaikan ditimpa langit runtuh, aku melihat sekujur tubuh lemah berbaring dihadapanku, diruangan isolasi pasien yang sudah dinyatakan positif terjangkit virus Corona.

“Ihsan, Tidak … tidak mungkin! tidak mungkin kamu Ihsan Jamal.” isakku.

“Kamukah itu Aluna?”

“ Ah, emm, bukan, aku dr.Anita, bukan Aluna.”

“Sejak kapan kamu pandai berbohong?” Uhuk… uhuk….

“Meskipun kamu memakai pakaian astronot dan memakai masker begitu, aku tetap bisa mengenalimu.”

“Kalau begitu, apa perlu aku jawab iya? Dimana istrimu? Apakah kerjanya hanya berdandan saja dan membiarkan anak dan suaminya sekarat dirumah sakit?”

“Istri? aku belum menikah Aluna. Apa mungkin kamu yang sudah memiliki suami?”

“Belum menikah? Lalu siapa anak yang berusia 10 tahun itu?”

“Dia anak majikanku, sepulang dari luar negeri majikanku meninggal, anak semata wayangnya sakit, dan kubawa kesini. Entah mengapa aku juga ternyata tertular penyakitnya.”

“Apa kau tau, kau sedang mengidap penyakit apa tuan Ihsan jamal?”

“Corona?”

“Ya, kau tau, belum ditemukan vaksin atau obat untuk penyakit itu, jika paru-parumu kronis maka kamu akan mati perlahan-lahan. Dan keluargamu tidak bisa menjenguk selama kamu sedang diisolasi seperti ini, bahkan jika kamu mati, kamu akan dipakaikan jas astrounot sepertiku, supaya penyakitmu tidak tertular.”

“Aku sudah tau, apakah kamu sudah menikah Aluna?”

“Aku sudah dilamar oleh pemilik rumah sakit ini dan dia juga ingin memberikanku Rumah sakit ini sebagai hadiah pernikahan kami.”

“Kabar baik Aluna, semoga kamu berbahagia, kamu pantas memperoleh kebahagiaan.”

“Kamu? mengapa kamu belum menikah? Apakah kamu impoten sehingga sampai saat ini tidak mau menikah? Apakah kamu tidak menyukai wanita?Apa selama tujuh tahun menimba ilmu tidak cukup untuk membina rumah tangga? Apa bekerja selama tujuh tahun tidak cukup untuk mencari biaya pernikahan?”

“Aluna … Bahkan berjuang sampai matipun, aku tetap tidak bisa menikah, karena yang aku inginkan adalah seorang bidadari yang berasal dari keluarga terpandang, sedangkan aku hanyalah seorang supir pribadi.”

“Siapa Bidadari itu?”

“Aluna, Isti Aluna.”

“Kamu jahat tuan Ihsan Jamal, mengapa engkau tinggalkan aku waktu itu? dimana sisi kelelakianmu? Kau pecundang! mundur sebelum berperang. Apakah cinta harus memandang status sosial? Apakah wajib hukumnya orang kaya menikah dengan orang kaya? rasa tawakkalmu sangat rendah tuan Ihsan Jamal, apa yang kau pelajari selama ini? Apakah kamu hanya menulis ilmu dan menghafalnya? Kau tau? tanpa sadar kau sudah melukai hati wanita, kau melukai hatiku dengan sikap pecundangmu itu. 7 tahun lamanya aku merasa seperti wanita kotor, yang tidak bisa menjaga hati, menjaga diri hingga tidak layak engkau jadikan istri. 7 tahun lamanya rasa cinta yang teramat dalam menggerogoti setiap sisi hatiku. Tujuh tahun lamanya aku menyeka air mata demi menahan rindu. Seharusnya, kau coba saja dulu melamarku. Orang tuaku bukan orang yang materialistis, mengapa kamu justeru meninggalkanku seperti itu, Kau tau, aku sangat mencintaimu. Hingga detik ini tidak pernah berkurang sedikitpun. Aku masih berharap menikah denganmu, itu sebabnya hingga saat ini aku memilih untuk sendiri, dan menolak semua lamaran yang datang.”

“Maaf Aluna, jangan begitu … menikahlah! Jangan menunggu laki-laki pecundang sepertiku. Lihat, sebentar lagi aku juga akan mati. Berhentilah memanggilku tuan, kamu terlihat menggemaskan jika memanggilku seperti itu.”

“Ugh, tidak semudah itu menyuruh wanita yang sudah jatuh cinta pada satu pria untuk menikah dengan orang lain Tuan Ihsan jamal! Bagaimana jika kelak saat menikah dengan orang lain, saat suamiku mencium bibirku, tapi yang kuingat adalah bibirmu? Saat suamiku memelukku yang kuinginkan adalah pelukanmu? Lebih baik aku menunggumu saja, daripada kelak aku tersiksa. Bisa jadi kelak kamu akan siap menikah dan ingin menikahiku sedangkan suamiku tidak mau menjandakanku, apalagi hak talak ada ditangan suaminya bukan. Aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku cintai, dan aku yakin seyakin-yakinnya bahwa kamu adalah jodohku.”

“Virus ini belum ditemukan obatnya bukan Dr Aluna? Kalau begitu, sebaiknya jangan menungguku.”

“ Tuan Ihsan Jamal … Sakit yang kau alami belum begitu parah, kamu harus semangat untuk sembuh. Di beberapa rumah sakit kabarnya ada yang sembuh dari virus Corona, Imunitas tubuh bisa menangkal virus Corona. Kamu harus melawan penyakit ini, kamu harus memerangi virus itu agar tidak menginfeksi paru-parumu. Aku akan meminta pada Dr Anita, agar kamu aku saja yang menangani penyakitmu. Kamu harus sembuh. Kamu harus menunaikan janjimu, bahkan jika kamu tidak sembuh, kamu tetap harus menikah denganku tidak peduli apakah aku juga akan tertular virus itu.”

Ihsan tersenyum,

“Apakah cintamu sebesar itu Aluna? Apakah cintamu segila itu? Aku sangat mengagumi, mengagumi kuatnya perasaan wanita, Ya, aku akan berusaha untuk sembuh, berikhtiar sebaik mungkin. Tapi jika aku semakin parah, jangan paksa aku untuk menikahimu.” Uhuk … uhuk,

“Bukan karena tidak mencintaimu, tetapi aku khawatir jika kamu tertular virus ini dan sakit sepertiku.”

“Kau tau Tuan Ihsan Jamal, perkataanmu itu membuat aku ingin segera memanggil KUA, orang tuaku, dan meminta izin kepada pihak rumah sakit agar menggelar pernikahan di kamar ini, hari ini juga!”

“Whoa … Aku tidak menyangka kamu punya keberanian seperti itu Aluna. Alunaku yang dulu adalah wanita polos, kalem, manis, penakut dan manja. Sekarang sangat cerdas dan pemberani.

“Ya, aku sudah sadar, bahwa kepolosanku itu tidak berguna. Agar sebuah keinginan tercapai, maka salah satu dari kita harus keluar dari zona kepolosan atau zona kepecundangan. Jika kau tetap menolak aku akan memaksamu untuk menikah denganku.”

Ihsan tersenyum dan menggeleng di atas tempat tidur pasien, aku sangat geram melihatnya. Juga kesal, mungkin Ihsan menganggap semua kata-kataku tadi hanya kicauan.

Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengatakan itu, tidak lagi memikirkan malu, karena nyatanya rasa sakit yang kualami selama ini jauh lebih perih, daripada rasa khawatir menanggung malu. Lebih baik aku blak-blakan pada Ihsan, daripada aku harus menahan segala rindu lagi di 7 tahun yang akan datang. Fix, sudah terlanjur basah, lebih baik mandi sekalian. Jika dia tidak berani melamar, aku yang akan melamar.

“Tuan Ihsan Jamal, untuk perkataanku tadi, aku serius. Jika kamu tidak sembuh dan menikahiku, maka aku akan memaksamu menikahiku walaupun engkau sedang sakit. Aku hanya mau menjadi milikmu.”

“Bagaimana dengan lamaran pemilik rumah sakit ini?”

“Aku sudah menolaknya.”

“Sayang sekali, bagaimana caramu memaksaku menikahimu?”

“Aku akan menggodamu, seperti ini.”

Kudekatkan wajahku kewajahnya, ku elus lembut bahunya .” Kamu mau? Kamu mau kusentuh setiap hari? Kamu mau kusentuh sampai kamu mati? Bukankan kau tau? Bahwa ditusuk jarum besi lebih baik daripada bersentuhan dengan wanita?”

“Sudah! Menyingkir! Kamu keterlaluan Aluna, jangan dekati aku … Jika aku sembuh dan kamu tertular virus ini, maka kita tidak akan jadi menikah.”

“Baik, kalau begitu semangatlah untuk sembuh. Aku akan merawatmu dengan baik. Kalau begitu, aku permisi meninggalkanmu, akhir-akhir ini pasien membludak, Kami para medis harus bekerja ekstra dan tanggap menghadapi musibah ini. Kau lihat kantung mata ini? Sudah berhari-hari sulit bagiku untuk tidur.”

Setelah memeriksanya, Aku bergegas meninggalkan Ihsan Jamal, saat kakiku mendekati pintu, Ihsan memanggilku,

“Aluna … “

“Ya?”

“Terimakasih, telah memberiku semangat hidup. Semangat kerena Allah ya, jadilah dokter yang luar biasa, Semoga kebaikanmu dibalas dengan kebaikan yang lebih baik oleh Allah, makan yang banyak, dan jaga kesehatan.”

Ku balas ucapannya dengan senyuman, lalu berlalu meninggalkan pasien sekaligus jantung hatiku yang bernama Ihsan Jamal untuk mengecek pasien lainnya, antara sedih percampur bahagia, akhirnya aku bisa bertemu dengan Ihsan Jamalku. Aku ingin menemukan obat penyembuh virus Corona, dan Ihsan Jamal sembuh, lalu kami menikah. Tidak terasa tetes bening membasahi sudut netra. Jiwaku terasa bagaikan letusan kembang api, Aku tidak tau bagaimana cara mengungkapkan perasaanku setelah bertemu Ihsan Jamal. Motivasinya, membuat darah yang hampir berhenti kini berdesir kembali.

by : Amie Yasmine 

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here