Cinta Sang Majikan

0
271
views

San, mobil barumu sudah siap di depan,” ujar pak Jatmiko setelah memasukan sepotong roti ke mulutnya.

Usai menyantap sarapan yang disiapkan Mbok Ipah di meja dapur tadi, aku berdiri di sisi meja makan sambil menatap lekat tingkah anak gadis Pak Jatmiko–majikanku–yang baru saja turun dari kamar.

“Mobil baru, Pah?” jawab Sandara antusias. Seperti baru dibelikan mainan baru, gadis itu kegirangan.

Pak Jatmiko mengangguk. Tangannya terbentang seakan menunggu rengkuhan sang putri kesayangan.

“Makasih Papah Sayang ….” Satu kecupan mendarat di dahi sang ayah. “Tapi aku buru-buru, Pah. Nanti sarapan di kampus aja.”

Tanpa menyentuh sarapannya sama sekali, lalu dengan cepat meraih segelas jus jeruk dan meminumnya. Kemudian meninggalkan ruang makan.

“Bye pah ….”

“Bye ….”

Rambutnya yang tergerai, terayun bebas. Sesekali menampakkan lehernya yang jenjang.

Cantik.

Sial. Pemandangan itu hampir setiap pagi menjadi canduku. Mungkin kah, ini yang membuatku betah melajang dan memilih bertahan kerja dengan beliau?

Perangainya cuek tapi mampu menghipnotis para kaum adam sepertiku. Aku yang berselisih umur terpaut jauh darinya sekitar sepuluh tahun saja merasa harus menahan napas setiap kali melihatnya.

Bagaimana tidak? Hampir sering Sandara berpakaian seksi setiap hari, tidak hanya di rumah, kuliah pun sama dan Pak Jatmiko seakan tidak peduli akan hal itu.

Semua barang-barang branded dimilikinya, bahkan lelaki paruh baya itu siap memberikan apapun yang dia mau. Tak ada larangan untuk Sandara membeli dan melakukan apapun, kecuali dua hal, narkoba dan pergaulan bebas. Itu yang sangat menjadi perhatian oleh sang papah juga merupakan tugas terberatku.

Namun, memiliki segalanya bukan berarti ia sudah bahagia. Nyatanya setiap malam tiba, gadis itu sering kudapati tengah melamun di taman kolam ikan dekat ruang makan.

“Mikir apa, Non?” tanyaku berdiri membelakanginya.

Gadis itu tersentak. Menoleh sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya pada ikan-ikan di kolam. “Eh, Mas Ardan. Nggak mikir apa-apa kok, cuma kangen sama Mamah.”

“Oh. Nggak jenguk makam Mamah, Non?” tanyaku kala itu.

Dia meringis, matanya berkaca-kaca. Aku bergerak mendekat, masih membelakanginya.

“Mas,” panggilnya lirih. Tanpa menoleh ke arahku.

“Ya, Non.”

“Bisa anterin aku ke makam mamah?” Tangan gadis itu masih sibuk memainkan air di kolam ikan.

“Bisa, Non. Besok jam delapan saya sudah datang.”

Dia menoleh. Terlihat basah pipi mulus itu. Seketika aku menunduk.

“Aku … maunya sekarang.”

Reflek aku mendongak. “Malam-malam gini, Non?” tanyaku tak percaya.

Dia mengangguk. Matanya sayu. Membuatku enggan untuk menolak.

Mau tidak mau, aku pun menurut. Menuruti keinginan gadis itu.

Sepeninggal mamahnya 15 tahun lalu, Pak Jatmiko lah yang merawat Sandara dengan Mbok Ipah berdua. Tak ada kasih sayang seorang ibu di dalamnya, karena alasan itulah, Pak Jatmiko sangat menyayanginya.

Selama hampir sepuluh tahun bekerja dengan lelaki tua itu, aku memang tak pernah melihatnya dekat dengan seorang wanita. Mungkin karena cintanya pada sang istri masih terlampau besar atau karena alasan lain aku tak tahu pasti.

Pak Jatmiko selama ini mempercayakan putri semata wayangnya padaku, kemanapun dia pergi haruslah aku yang menemani. Sangat sulit dipercaya, bahwa sebagian banyak waktuku tersita hanya demi menemani sang nona belia itu.

“Yuk, mas,” ajaknya. Dengan cekatan aku berjalan mendahului lalu membukakan pintu mobil untuknya.

“Oya mas, kita nanti ke mall dulu ya bentar,” pintanya sebelum masuk kedalam mobil.

“Baik, Non.” ucapku.

Sepanjang perjalanan, dia hanya membuka laptop sembari memasang headset di telinga.

“Ngerjain tugas, Non?” tanyaku.

“Iya nih mas, nggak kelar-kelar. Pusing.”

“Terus kenapa minta ke mall, non? tanyaku sekali lagi.

“Refreshing, Mas ….”

“Oh ….” Anak sultan mah bebas.

“Oya nanti kalau dah sampe tunggu di cafe mall saja ya, Mas,” perintahnya.

“Enggak non, saya nunggu warung depan saja.” Kebetulan di dekat mall ada warung makan kecil. Tempat itu sering dijadikan pangkalan para tukang ojek.

“Oh gitu. Ya udah.”

Tiba di mall, Sandara masuk ke sebuah cafe yang tak jauh dari tempat parkirku. Semua aktivitas di dalam cafe dapat terlihat dengan jelas.

Dari tempatku duduk, aku bisa dengan leluasa mengamati apa saja yang dia kerjakan. Sampai dia didatangi seorang lelaki, yang dengan bebas memeluknya, mengobrol, makan, semua kuamati dengan seksama. Tidak ada kesan yang mencurigakan dari aktivitas mereka. Sepertinya mereka memang hanya berteman saja.

Merasa yakin Non Sandara bisa kutinggalkan, sejenak aku melipir ke rumah makan yang tak jauh dari Mall itu. Setelah makan juga menghabiskan satu batang rokok, aku kembali ke area parkir lalu kembali mengamati Non Sandara yang masih mengobrol disana.

Jika sedang santai begini, aku selalu fokus pada bisnis onlineku. Jual beli komputer juga perangkat-perangkat lainnya. Sudah hampir lima tahun aku dan adikku menggeluti bisnis online ini. Hasilnya lumayan, bisa menambah penghasilan kami sekeluarga.

“Mas, ayo ke kampus,” panggilan non Sandara mengagetkanku.

“Oh iya Non, maaf.” Seketika aku menutup chatting dengan pelanggan yang tertunda lalu menyimpan gawaiku kedalam saku celana.

“Gimana mas usahanya lancar?” tanyanya saat mobil mulai melaju.

“Alhamdulillah, Non,” jawabku sekenanya.

“Ehmm … boleh nanya gak, Mas?”

Dahiku berkerut. Tak biasanya gadis itu mengajukan pertanyaan. Aneh. Dari kaca depan, aku bisa melihat ekspresinya kini setengah menahan tawa.

“Boleh. Tanya apa Non?”

“Umur mas Ardan sekarang berapa?”

Kan?

“Kenapa Non?”

“Nggak papa sih, kok belum nikah, Mas?” Senyumnya tertahan. Asem.

Benar. Ternyata itu arah pembicaraannya. “Umur saya 30 tahun Non, belum nemu jodohnya aja,” jawabku seperti tak punya alasan lain. Ngenes.

“Memangnya Mas Ardan gak punya pacar?”

Apa gak punya pertanyaan lain? Gimana mau punya pacar orang tiap hari nganterin kamu. Aku mengelus hidungku pelan, menghela napas lalu menjawab seadanya. “Belum ada yang mau, Non?”

Mendengar jawabanku, dia tertawa hingga gigi putihnya bisa kulihat dari kaca spion di atasku. “Mas Ardan bisa saja.”

“Dah sampe Non.”

Tak mau dibukakan pintu dia langsung turun dan pergi begitu saja tanpa pamit. Pamit? Memangnya kamu papahnya Dan, aneh-aneh saja.

Usai mencari tempat parkir yang nyaman, kuambil lagi gawaiku lalu melanjutkan chattinganku yang tertunda. Saat scrolling beberapa pesan di WA, tiba-tiba ada pesan masuk dari Non Sandara.

{Mas, pulang saja dulu, kuliahku sampe malam. Jemput aku jam 8 malam ya.}

Aku sangat hafal sekali jam kuliahnya. Kenapa hari ini beda. Atau mungkin ada jam tambahan?

{Yakin, Non?}

{Ya, Mas pulang saja.}

{Baik Non.}

Sepertinya memang ada jam tambahan. Syukurlah, aku bisa pulang ke rumah dan fokus seharian di toko.

Penulis: Farah Maheswara

Bersambung

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here