Cinta Sang Abdi Ndalem # 07

0
489
views

Lir ilir Tandure Wus Sumilir


Namamu telah bersemayam dalam kastil hati ini. Dindingnya amatlah kokoh, sehingga kau aman di sana.

——

“Oh, baju. Oh, yo nanti biar tak kasihkan Ishma. Siapa nama orang yang kasih ini?”

Aku mulai gelagapan. Tadi tak sempat berpikir dan mengarang sampai nama segala .

“Ehm, maaf saya lupa menanyakan, Bu nyai,” jawabku asal.

Pelipisku mulai berkeringat melihat dahi bu nyai mengernyit.

“Lho, piye to. Lha nanti aku berterimakasihnya bagaimana?”

Waduh, gawat. Bagaimana ini Ya, Allah.

“Ciri-cirinya bagaimana?” kejar bu nyai tak putus asa.

Aku sedemikian takut cinta yang masih ranum ini akan terkoyak dan dipetik paksa sebelum matang. Tidak, jangan sampai bu nyai tahu dan murka karenanya. Biarlah aku sendiri yang menanggung pahitnya menyembunyikan cinta yang terus merekah hari demi hari. Aku tak sanggup jika Ning Ishma harus menanggung malu jika aku berkata jujur saat ini juga.

“Bagaimana nggeh, Bu nyai.”

Benar kata ustad bahasa inggrisku saat aku masih duduk di bangku Aliyah Madrasah Manba’ul Ulum Lasem bahwa, “nervous makes everything in your brain will lost.”

That’s real and it happens to me. Ah, Ya Allah kenapa aku jadi terserang virus bahasa inggrisnya Ustad Nailul. Bukannya sekarang lebih penting memikirkan bagaimana lolos dari kejaran pertanyaan bu nyai?

Seisi dapur kini sedang memperhatikanku yang tengah berkeringat di hadapan wanita nomor satu di Pesantren Ar-Raudloh ini. Kalau masalah wanita nomor satu di hatiku tidak usah ditanya lagi.

“Lho, tadi ngasihnya kapan?” Bu nyai terlihat gemas padaku yang masih bungkam.

“Nggeh sebelum saya masuk pintu samping menuju lorong dapur,” ujarku tanpa pertimbangan. Asal nyeplos begitu saja. Actingku benar-benar payah.

“Laki-laki apa perempuan?” tanya bu nyai lagi.

“Laki-laki, Bu-nya-i.”
Aku menyesali kata-kataku hingga tak lancar waktu menyebut wanita di hadapanku. Pandangannya tajam, seolah ingin segera menerkamku saat ini juga. Apa semua aura bu nyai itu menakutkan seperti ini?

“Lho, wong lanang?”

“Inggih, Bu nyai.”

Aku menghela napas sebentar. Sudah terlanjur aku berkata laki-laki. Waduh, bisa tambah panjang ini ceritanya.

Beberapa pasang mata kini bergantian menatap ke arahku dengan tatapan menyelidik. Terkhusus Kang Zuher, dia juga menunggu jawaban dariku yang kini sedang menjadi tawanan. Sedang Lek Den hanya sesekali melirik, lalu kembali sibuk mengipasi sate dan mencicipi beberapa tusuk yang sudah matang.

“Mosok wong lanang kasih gamis Ishma?”

Ingin sekali aku menampar mulut yang tak bisa diajak kompromi ini.

“Eh-ehm.”

Sebenarnya aku ingin menjawab, “maaf bu nyai, ciri-ciri orang yang kasih ini ganteng, kulitnya kuning langsat, hidung bangir, dan jangkung. Ya persis seperti saya.” Tapi aku tak mungkin kan melakukannya? Bisa-bisa esoknya aku tak diperbolehkan lagi menginjak tanah Kajen ini.

“Emmm, mungkin dia disuruh sama ibunya memberikan ini ke saya untuk disampaikan bu nyai.”

Huft, jawaban yang lumayan juga ini. Alhamdulillah, hehe.

Sekilas kulihat mata bu nyai masih menyimpan curiga.

“Yo wes, yo wes. Besok lagi kalau dikasih titipan jangan lupa tanya namanya. Apalagi gamis ini pasti harganya mahal. Kalau begini ya nggak bisa bilang makasih, wong nggak tahu siapa yang kasih,” keluh bu nyai padaku yang tertunduk ketakutan.

Sungguh tidak perlu terbebani dan ingin berterima kasih segala bu nyai. Aku benar-benar tak mempermasalahkannya.

“Injih bu nyai, injih. Pangapunten saestu.

(Iya, Bu nyai, iya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.)”

Akhirnya bu nyai berlalu sambil menenteng dua plastik besar itu. Debaran jantung yang sesaat tadi sangat kencang perlahan mereda. Aku pun bisa bernapas lega. Huft.

****

Suasana pesantren bertambah semarak. Panggung megah untuk acara selawat akbar besok malam sudah terpasang dengan ratusan sorot lampu mengelilinginya.

Ruang tamu putra maupun putri tak pernah sepi dari para tamu dan wali santri membuat kami-sebagai santri ndalem berkali-kali menyuguhkan teh hangat dan mengisi toples dan piring dengan jajanan kering dan kue basah.

Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Berbagai aneka buah tangan membuat penuh ruang tengah dan dapur. Kami pun sebagai santri ndalem ikut kecipratan berkah.

Beberapa kali juga Ning Ishma ke dapur untuk membantu. Kali ini ia tidak sendiri karena ada sahabatnya datang ikut hurmat acara haul Mbah Ahmad Mutamakin yang puncak acaranya adalah besok, yaitu tepat pada tanggal sepuluh syuro.

Acara itu semakin semarak karena akan ada puluhan marching band beratraksi dan berjalan mengelilingi desa santri ini. Jangan ditanya bagaimana jalanan dua hari kemudian. Jalan raya dan gang sempit akan berubah menjadi lautan manusia. Jika ingin menonton marching band harus berangkat gasik agar mendapat tempat strategis.

Aula putra pun sudah disulap untuk acara pentas seni nanti malam. Kami sebagai santri ndalem tak begitu memperhatikan acara para santri yang begitu meriah dan menyenangkan karena mau tak mau harus terus berkutat di dalam dapur dan ndalem.

Saatnya yang ditunggu-tungguakan tiba. selawat akbar yang dimeriahkan oleh grup rebana putra berkolaborasi dengan grup rebana ternama desa Kajen, Az-Zihaf dan grup rebana ternama Kudus, Ahbabul Mustofa.

Ruang prasmanan hampir siap untuk memanjakan lidah pada Kyai nanti malam.

Sewaktu aku sibuk menyiapkan pencuci mulut di dapur, Gus Heri datang dengan wajah gusar.

“Amar mana Amar?”

Kami semua menoleh dan menatap Gus hitam manis yang sedang kelihatan resah itu.

Sedetik kemudian, ia langsung memintaku untuk segera mencuci tangan.

“Mar ayo melu aku.”

“Ada apa, Gus?”

“Wes ayo cepet!”

Setelah mengelap tangan, aku segera mengikuti Gus Heri.

Sesampainya di lorong dapur ia menghentikan langkah dan memandangku gusar.

“Gini, Mar. Vokal utama kita, Kang Alfi kan ini lagi sakit, tipusnya kambuh jadi nanti malam nggak bisa ikut majlis selawat bersama para habaib dan grub rebana lain.”

“Lalu?”

“Ya aku mau kamu yang gantiin.”

“Wah, saya ndak bisa, Gus. Suara saya pas-pasan.”

“Halah, aku wes ngerti suaramu. Kmrn sempat dapat jatah tilawah pas muhadloroh di aula putra, to?”

“Waduh, tapi kalau selawatan saya belum ahli, Gus.”

“Nggak ada penolakan. Pokoke kamu kudu mau. Nggak mungkin bisa tilawah bagus gitu kok gk bisa selawatan.” Gus Heri terus mendesakku. Aku masih ragu apakah bisa menggantikan Kang Alfi, padahal belum pernah ikut latihan sama sekali. Acaranya pun nanti malam. Betul-betul mendadak.

“Apa ndak ada yang lain, Gus?”

“Ya ada. Tapi kurang satu lagi untuk vokal utamanya. Dah nanti tak kasih seragam. Ini masih ada waktu siap-siap. Tak tunggu di aula putra jam empat sore.”

Tanpa menunggu persetujuanku, Gus Heri berlalu begitu saja. Dulu waktu di Lasem aku memang pernah gabung grub rebana, tapi untuk sekarang aku benar-benar belum siap. Apalagi nanti malam Ning Ishma pasti ikut mendengarkan. Bagaimana kalau penampilanku payah.

****

Sebelumnya Gus Heri sudah mengizinkan kepada Abah yai jika aku tidak turut serta mengerjakan urusan dapur malam ini.

Ia pun sudah memberikan seragam baru yang akan dipakai nanti malam. Baku koko putih, sarung warna hitam, sorban, dan peci.

Kucoba mengingat beberapa judul selawat yang pernah kuhapal. Selain lagu-lagu trend masa kini, aku mengusulkan lagu selawat kuno tapi sarat makna yakni lagu ‘lir ilir.’

Lagu ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk penyebaran Islam di Nusantara.

Sejarah lagu ini juga tertulis di buku diary Mbah Wahab Hasbullah, berikut beserta artinya.

Dengan hati berdebar aku melantunkan lagu ini. Dengan puluhan habaib dan kyai tersohor, aku duduk di atas panggung dengan ratusan sorot lampu.

Sejak beberapa jam yang lalu, lapangan samping Pesantren ini sudah total menjadi lautan manusia dengan pakaian serba putih mengibarkan bendera merah putih dan bendera berwarna hijau kebanggaan para santri K.H Hasyim Asy’ari.

Dadaku kian berdebar saat melihat Ning Ishma ikut duduk di teras Pesantren beberapa langkah dari Panggung. Ia mengenakan pakaian serba putih, khimar besar berwarna putih menambah cantik dan bersinar auranya. Duh Gusti, apakah ia adalah titisan Bidadari surga?

Lir ilir, lir ilir

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpun padang rembulane, mumpung jembar kalangane

Yo surako … surak iyo ….

Lir ilir yang artinya ngelilir (bangunlah).
Bangun dari sifat malas. Bangun dari keterpurukan untuk mempertebal iman.

Milikilah dan hiasai diri dengan iman yang kokoh sehingga tandure wus sumilir (tanamannya sudah bersemi). Tanaman yang dimaksud di sini adalah iman yang kuat.

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Pupuk dan sirami terus tanaman itu agar tetap hijau. Diperjuangkan hingga tanaman itu menjulang tinggi dan kau merasakan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru karena memiliki iman yang takkan goyah.

Cah angon penekno blimbing kuwi. Kita disuruh menjadi penggembala hati kita sendiri. Menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang begitu kuat dengan berusaha memanjat pohon blimbing. Blimbing adalah buah bergerigi lima sebagai gambaran salat lima waktu.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaTrue Love # 15
Berita berikutnyaWill You Marry Me #08
Di Kampung Santri ini, Cintaku padamu semakin bersemi Jauh darimu membuatku semakin terjerembab dalam rindu Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah. Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here