Cinta Sang Abdi Ndalem # 06

0
277
views

Di Kampung Santri ini Cintaku Padamu Semakin Bersemi


Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah.

***

Adegan dalam mimpi itu terus terputar ulang dalam otak. Tak mau berhenti mengusik benak di mana pun aku berada.

Seperti saat ini, jadwal darusan khusus santri ndalem bersama Abah yai bakda asar, membuatku tak bisa konsentrasi penuh, hingga membuat Abah yai terus mengetuk meja karena hafalanku tak lancar disebabkan wajah Ning Ishma yang terus membayang.

Aku heran kenapa bisa sampai memimpikan Ning Ishma tanpa jilbab, hingga membuatku penasaran apakah benar ia secantik itu tanpa memakai khimar? Atau malah lebih?

“Amar.”
Suara Bu Nyai Aisyah menghentikan langkahku saat menuju pintu dapur setelah selesai darusan di Aula samping ndalem.

“Injih, Bu nyai.”

“Tulung ambilkan pesenanku di toko Amanah depan Pesarean, yo!”
perintah bu nyai.

“Oh injih, Bu nyai.”

“Anu … setelan sutra warna tosca. Tadi Mbak Qonik pemilik toko sudah tak telepon,” ucap bu nyai dengan tersenyum sembari memberi beberapa uang ratusan ribu.

“Oh, injih, Bu nyai.”

Aku bergegas menuju toko yang bu nyai maksud.

Kurang tiga hari lagi menuju tanggal sepuluh syuro dimana puncak acara haul Mbah Ahmad Mutamakin, membuat Desa santri ini semakin padat oleh para zairin dari berbagai kota.

Sebelah kanan dan kiri jalan menuju Pesarean hingga Pasar Bulumanis pun sudah dipenuhi oleh pedagang. Dari kuliner, pernak-pernik, baju muslim, mainan anak-anak, semua ada di sini.

Di dalam buku diary coklat Kyai Wahab diceritakan juga tentang desa Kajen atau biasa disebut Kampung pesantren ini. Itu karena berdirinya gedung-gedung perguruan Madrasah, Balai Ta’lim, dan Pondok Pesantren.

Desa ini tak pernah istirahat dari kegiatan pendidikan salaf, pendidikan klasikal dan non klasikal, hingga tingkat tahaffudzul qur’an.

Mata penjaharian penduduk di sini kebanyakan adalah berdagang, dikarenakan adanya santri yang berjumlah ribuan dari berbagai pondok pesantren.

Puluhan pesantren di sini memang di pelopori oleh para kyai keturunan Mbah Ahmad Mutamakin, karena selain berjasa dalam perintisan dan penyebaran islam, beliaulah orang yang pertama membuka Pesantren di Desa ini.

Konon sebelum menemukan Desa Kajen ini, seorang pemuda bernama Mutamakin sedang berdiri di tepi pantai. Ia melihat seberkas cahaya dari arah barat, membuatnya penasaran kenapa ada cahaya dari tengah laut.

Dengan menumpang kapal, ia ingin menemukan cahaya tersebut. Malang tak bisa dicegah, kapal di terjang oleh badai besar. Nahkoda mencoba menenangkan pada penumpang yang mulai panik dengan memimpin doa.

Berjam-jam badai tak kunjung reda, hingga membuat kapal itu terus terombang-ambing dan terancam tenggelam.

“Aku mendapat ilham dari yang maha kuasa.”
Tetiba seseorang berteriak membuat seisi kapal tercengang.

“Kapal ini kelebihan muatan, jadi harus ada yang dilempar agar beban berkurang,” perintahnya. Memang terasa tak masuk akal, tapi begitulah ceritanya.

Akhirnya mereka sepakat dan mengadakan undian. Semua menghela napas tenang kecuali pemuda bernama Mutamakin, karena ialah yang mendapat undian tersebut.

Sebelum dilempar ke laut, ia berdoa sembari berpasrah kepada Allah, “Ya Allah jika memang ini takdir, saya rela menjalaninya. Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri.”

Ajaib badai dan ombak besar bergulung-gulung menjadi reda setelah Mutamakin tenggelam ke laut. Atas pertolongan Allah, ia selamat sampai ke tepi pantai dibawa oleh seekor ikan mladang ke sebuah desa bernama Cebolek yang artinya jebul-jebul melek (tiba-tiba membuka mata) itu karena saat Mutamakin pingsan dikira mati oleh rakyat setempat, tapi beberapa menit kemudian membuka mata.

Ia melanjutkan perjalanan ke sebuah desa dan bertemu seorang lelaki bernama Syamsuddin, dia orang pertama di desa itu yang sudah melaksanakan haji. Maka desa itu dinamakan Kajen-singkatan dari Kaji ( Haji) Ijen (sendirian).

Setelah itu, Mutamakin Mempersunting putri Haji Syamsuddin dan mendirikan pondok pesantren.

Ternyata cahaya dari arah barat laut yang dilihat Mbah Mutamakkin adalah cahaya dari tanah Kajen.

****

“Assalamualaikum ….” ucapku saat di depan toko amanah.

“Waalaikumsalam warrahmatullah. Pripun, Nak? Mau cari apa? Monggo-monggo.”

Wanita gemuk paruh baya mempersilahkan dengan ramah. Ia memandangku takjub dengan tersenyum ramah.

“Ya Allah, sampean kok ganteng temen to, Nak. Santri mana kamu?”

Aku pun tersenyum saat ia memujiku seperti memuji anaknya.

“Saya santrine Abah Yai Nafi’ Mannan.”

“Wah, aku nek dadi Bu Nyai Aisyah, wes tak pek mantu, awakmu ( kalau aku jadi Bu Nyai Aisyah, sudah tak ambil mantu, kamu.)”

Lagi-lagi aku hanya bisa merespon dengan senyum lebar. Ibu-ibu ini terlalu memuji.

“Asli mana to, sampean?”

“Lasem, Bu.”

“Masyaallah, saya juga punya saudara Lasem.”

“Oh, nggeh?”

“Hu’um. Eh, sampean sudah punya calon belum?”

Ya Allah, semakin mengencang perutku ditanya seperti itu.

“Nek belum, aku punya anak perawan ayuuuuu. Dia mondok di Pesantren Al-Hamidiyah, ngapalke qur’an, Nak.”
Berbinar-binar mata pemilik toko busana muslim Amanah ini.

Huft, bagaimana ini aku menjawabnya.

“Ngapunten (Ma’af), Bu. Hehe.”

“Sudah punya calon, ya? Waduh, aku ditolak iki. Hehehe.”

Aku tersenyum lagi mendengar jawaban Bu Qonik yang seakan tahu kecanggunganku.

“Emm, niku, Bu. Saya diutus (disuruh) Bu Nyai Aisyah mengambil pesanan setelan sutra warna tosca.” Sambil menyodorkan uang ratusan ribu.

“Oh, iya. Sebentar.”

Ibu-ibu itu pun masuk ke dalam mengambil barang yang kumaksud.

Beberapa pembeli masuk ke toko ini. Semakin berjubel, membuatku berkali-kali menggeser posisi mencari celah untuk berdiri.

Tanpa kusengaja, mataku ikut tersihir oleh deretan khimar dan gamis yang terpasang menggelantung di dinding kanan dan kiri toko.

“Ini, Nak … pesanannya.”

Suara ibu pemilik toko itu membuyarkan lamunanku yang tengah tersihir oleh gamis warna mutard dengan khimar warna senada.

Alangkah cantiknya jika Ning Ishma yang memakainya. Begitu kata batinku.

“Sudah, Nak?”
Aku menerima bungkusan plastik hitam beserta uang kembalian.

“Nggeh, sudah, Bu.”
Dengan mata yang masih tertuju pada gamis itu.

“Sekalian aja,” kata Bu Qonik-si pemilik toko mengerti aku tengah memandangi gamis warna mustard itu.

“Lha saya beli untuk siapa?” kilahku menutupi rasa malu. Harusnya aku terkesima dengan deretan sarung dan peci, bukan gamis.

“Lha untuk ibunya, adeknya, kalau memang belum punya calon,” usul Bu Qonik.

Aku menggaruk tengkuk. Canggung. Antara ingin membelinya atau tidak. Mumpung sudah berada di sini dan si pemilik toko pun ramah sekali. Tidak menaruh curiga padaku.

“Emm ….”
Aku masih terpaku dengan wajah ragu.

“Udah, ambil aja. Murah, itu sudah sekalian khimarnya cuma tiga ratus tujuh puluh ribu. Untuk nyenengke (membahagiakan) ibumu.” Bu Qonik segera mengambil gamis dengan khimar itu tanpa menunggu menunggu keputusan final ku. Menaruhnya ke dalam plastik. Membuatku semakin tak bisa mengelak lagi. Antara bingung, senang, dan malu.

“Ini, Bu.”

Kuberikan empat lembar uang ratusan ribu. Untung saja aku membawa uang sendiri.

Akhirnya aku pun kembali ke Pesantren dengan menjinjing dua tas plastik besar. Di perjalanan, aku sibuk memikirkan bagaimana caranya memberikan ini pada Ning Ishma.

Memasuki dapur, di situ sudah ada Bu Nyai Aisyah, dan ide brilian tiba-tiba muncul.

“Ini, Bu nyai pesanannya.” Sembari memberikan uang kembalian.

Bu Nyai menyunggingkan senyum hingga bibirnya terlihat melengkung.

“Matursuwun, yo. (Terimakasih, ya).”

“Nggeh, sak wangsulipun, Bu nyai. (iya sama-sama).

Emm … ini tadi ada wali santri. Sepertinya terburu-buru titip sesuatu untuk Ning Ishma sama saya,” ucapku dengan dada berdebar kencang.

Semoga saja bu nyai tidak curiga. Kupasang wajah setenang mungkin agar terlihat alami.

“Opo iki?” tanya bu nyai.

Aku terdiam.

“Oh, baju. Oh, yo nanti biar tak kasihkan Ishma. Siapa nama orang yang kasih ini?”

Aku mulai gelagapan. Tadi tak sempat berpikir dan mengarang sampai nama segala .

“Ehm, maaf saya lupa menanyakan, Bu nyai,” jawabku asal.

Pelipisku mulai berkeringat melihat dahi bu nyai mengernyit.

“Lho, piye to. Lha nanti aku berterimakasihnya bagaimana?”

Waduh, gawat. Bagaimana ini Ya, Allah.

“Ciri-cirinya bagaimana?” kejar bu nyai tak putus asa.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaWill You Marry Me #07
Berita berikutnyaTrue Love # 14
Di Kampung Santri ini, Cintaku padamu semakin bersemi Jauh darimu membuatku semakin terjerembab dalam rindu Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah. Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here