Cinta Sang Abdi Ndalem # 05

0
327
views

Dengan mengucap basmalah kuberanikan diri untuk mencintaimu, Ning


Gus Heri segera mengibaskan tangannya saat hendak kucium selepas kami salat subuh berjamaah.

Ia memang putra kyai yang supel dan rendah hati. Tak merasa gengsi berbaur dengan para santri dan ikut membangunkan santri di subuh hari seperti yang ia lakukan padaku tadi.

Ia lalu menepuk punggungku dan mengangkat sebelah alisnya meminta penjelasan perihal mengigauku. Tak kuhiraukan ia, tapi bukan gus Heri namanya kalau menyerah begitu saja.

“Mau kemana kamu, hemm?”

“Mau ke makam mbah Mutamakkin dan mbah Ronggo Kusumo bersama para santri, Gus.”

Segera kupakai sandal jepit dan merapikan kopyahku. Mengikuti segerombolan para santri yang sudah keluar gerbang pesantren menuju makam waliyullah mbah Mutamakkin.

“Ya, aku ikut.”

“Monggo, Gus.”

“Ketua keamanan menemukan sesuatu di almarimu tadi malam.”

Langkahku seketika terhenti mendengar bisikan gus Heri di telingaku.

“Apa itu, Gus?”
Jantungku langsung berdebar-debar.

“Kamu habis ketemuan sama cewek?” Gus Heri menatapku dengan tatapan menyelidik.

“Ah, eng-nganu, Gus … emm.”

Bingung sekali aku menjawabnya. Bisa kacau ini kalau mereka tahu sebenarnya gadis itu adalah ning Ishma. Untung saja di kertas itu hanya kusebutkan gadis yang kuantar bernama Latifa.

“Nggak apa-apa sama aku jujur saja. Biar pas di sidang keamanan kamu bisa menjawab dengan lancar, siapa tahu aku bisa membantu,” tawarnya dengan memasang wajah serius.

“Baik, Gus … nanti saya ceritakan.”

Setelah mengambil wudlu, kami bergegas masuk ke makam, menderas satu juz dan membaca yasin untuk dihadiahkan kepada para ulama, waliyullah dan kerabat yang sudah meninggal dunia.

Selama bulan Muharam, beberapa hari ke depan kota santri ini akan bertambah ramai dengan adanya pengunjung dan peziarah dari berbagai kota.

Di komplek makam dan sepanjang jalan dari pasar bulumanis ke desa Ngemplak, ratusan pedagang turut menghidupkan suasana dan menambah padat jalan raya. Sebentar lagi akan ada karnaval yang dimeriahkan puluhan marching band dengan aksi spektakuler.

Biasanya para santri dari berbagai pesantren tak mau ketinggalan momen mewah satu tahun sekali ini. Mereka ikut berjubel dengan para peziarah menonton karnaval juga rutin ziarah ke makam melaksanakan khataman.

“Siapa Latifa itu?”
Segera setelah kuletakkan lagi mushaf ke dalam rak di pojok makam, gus Heri kembali menodongku.

“Saya malah ndak paham, Gus. Dia tiba-tiba minta diantar. Waktu itu dia terlihat buru-buru. Kebetulan cuma ada saya di halaman belakang sedang mencuci mobil,” jelasku dengan memasang wajah polos dan hati-hati.

“Kamu jujur saja, yang minta dianterin Ishma, kan?” Tatapan gus Heri tajam dan menyelidik.

“Mbo-mboten, Gus. Beneran, dia bilang namanya Latifa. Tapi saya sudah lupa wajahnya.”

“Aku curiga, masa iya santriwati ada yg nekat minta dianterin kang ndalem. Kamu nganterinnya pakai apa?” tanyanya lagi.

“Pakai mobil, Gus.”
Dahiku mulai berkeringat.

“Mobilnya siapa?”
Gus Heri memicingkan mata.

“Ya mobilnya abah yai, Gus.”

“Kamu ndak usah berbohong lagi. Pasti gadis itu Ishma. Hayo ngaku? Aku janji nggak bakalan ngomong sama siapa-siapa weeesss. Kalau memang Ishma, ya nggak mungkin lah dia nanti ditakzir sama keamanan. Yang boleh nakzir Ishma ya Pak Lek sama Bu Lek, hihihihi.”

“Benarkah, Gus? Alhamdulillah kalau begitu.” Aku mengembuskan napas lega.

“Jadi beneran Ishma?”

Aku tertunduk, tak berani menatap wajah gus Heri yang penuh kemenangan itu dan tak bisa mengelak lagi.

“Kok bisa namanya jadi Latifa?” tanyanya lagi sambil mengulum senyum.

“Waduh gus, jenengan sudah seperti tim investigasi saja.” Aku kebingungan.

“Hahahaha.”

“Tapi beneran njih, ning Ishma dan saya tidak kena takzir, Gus?”

“Kikikikikik, masalahnya sudah ketahuan pihak keamanan, Mar.”

Astagfirullah, kenapa tadi aku tidak kepikiran sampai situ, malah mengaku begitu saja.

“Gus, saya minta tolong banget, Gus. Jangan sampai ini tersebar di kalangan para santri dan pengurus. Kasihan ning Ishma, pasti malu sekali,” bujukku pada gus Heri yang kini tengah cekikikan.

“Berarti bener yang kamu mimpiin tadi subuh-subuh itu Ishma?
Wakakak … ning … ning … tanganmu kok dingin? Hahahaha.” gus Heri meledek lagi menirukan bagaimana tadi aku mengigau. Aku hanya bisa ikut terkekeh melihat gelagatnya yang humoris itu, menutupi rasa malu yang luar biasa.

“Please lah, Gus … nggeh gus? rahasia kita berdua, nggeh?”
Aku masih merayunya.

“Wes tenang wae, kamu persiapan saja nanti kalau di sidang keamanan. Wakakaka.”

Dia berlalu meninggalkanku dengan pikiran kacau di depan sarean mbah Mutamakkin. Semoga saja gus Heri benar-benar bisa menjaga rahasia. Huft.

****

Setelah selesai ziarah di makam mbah Mutamakkin kami lanjut mengunjungi makam mbah Ronggo Kusumo yang terletak di desa Ngemplak dengan berjalan kaki, karena letak makamnya tak jauh dengan makam mbah Mutamakin.

K.Raden Ronggokusumo merupakan putera K.Agung Meruwut yang juga masih keponakan dan salah satu murid KH. Ahmad Mutamakkin.

Ia diperintahkan untuk membuka tanah atau babat alas disebelah barat desa Kajen. Perintah beliau dilaksanakan penuh tanggungjawab sehingga dalam waktu yang singkat, konon hanya satu malam, tanah tersebut terlihat emplak-emplak atau berpetak-petak sehingga oleh beliau dinamai Desa Ngemplak. K.Raden Ronggokusumo menetap di Desa tersebut dan ia berjasa besar dalam menyiarkan agama Islam.

Di bulan suro makam mbah Ronggo juga dibanjiri oleh para zairin dari berbagai daerah seperti mbah Ahmad Mutamakkin.

Setelah tahlil bersama para santri kembali ke pesantren. Aku, lek Den, kang Zuher juga kembali sibuk berkutat ke pekerjaan ndalem.

“Maaf yo, Mar, tadi kamu nggak tak bangunin, soale tadi malam aku ketiduran di gardu sama Zuher,” tukas lek Den.

“Oh, ndak apa-apa, Lek,” ucapku pada lelaki dempal dan hitam yang akrab disapa ‘lek’ ini. Dengar-dengar sapaan itu begitu saja melekat dengannya semenjak ia dijenguk keluarganya, keponakannya ikut dan merengek-rengek minta ikut mondok lek Den tak mau diajak pulang. Kalau di Jawa, keponakan memanggil paman kecilnya dengan sebutan ‘lek’.

“Sopo sing gelem noto baju ning lemariku?

(Siapa yang mau menata baju di almariku?),” tanya abah yai saat kami semua berada di dapur.

“Nggeh kulo, Yai.” spontan aku mengiyakan ketika yang lain masih saling tatap karena sudah berjibaku dengan pekerjaannya masing-masing.

Segera kucuci tangan dan mengikuti abah yai menuju kamar.

“Iki lho, baju-bajuku totonen (ditata). Sarung podo sarung. Koko sama koko. Pokoke diserasikke,” pinta abah yai yang kurespon dengan anggukan sebelum beliau masuk ke kamar mandi.

Akupun langsung duduk bersila di depan almari, menata baju-baju itu dengan rapi sembari mendendangkan salawat ‘ya habibal qolbi’.

Lalu tersentaklah aku saat ada seseorang membuka pintu kamar.

Aku menoleh ke asal suara dan … seseorang di depan pintu itu pun tak kalah terkejut.

“Ning Ishma”

“Kang Amar.”

Refleks aku tersenyum dan ia menanggapi. Mimpiku semalam otomatis terlintas di benak membuat seisi dada bergemuruh.

Allah, maafkan hamba-Mu ini yang telah lancang memimpikan hal semacam itu. Cukuplah hanya Engkau dan hamba yang tahu.

Aku terus beristighfar dalam hati minta dikuatkan untuk menjaga pandangan dan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Abah ada, Kang?” tanyanya.

“Abah yai di kamar mandi, Ning,” jawabku ramah.

“Oh, ya sudah.”

Baru saja ia mau berbalik, tiba-tiba netraku menangkap sesuatu bergerak di kepala ning Ishma.

Mbak Nafis, sahabat ning Ishma pernah bercerita kalau gadis ayu itu takut dengan ulat bulu. Aku mendadak khawatir bagaimana nanti jika ia histeris mendapati ulat bulu itu bergerak menuju dahinya.

“Tolong berhenti, Ning.”

Ia langsung terkesiap dengan mulut sedikit terbuka. Berniat membalikkan badan lagi, tapi buru-buru kucegah.

“Berhenti disitu, Ning!”

Aku langsung berdiri dan mendekat dengan hati berdebar tak karuan. Sisi naluriku ingin sekali mimpi semalam kuwujudkan saat ini juga. Bukankah ini kesempatan emas? Maksudku ingin membingkai wajahnya dan … tapi aku tak mau mati konyol, jika sampai ning Ishma nanti menamparku, atau yang lebih parah, aku bisa disiksa di neraka kelak gara-gara menyentuh seorang gadis yang bukan mahromku.

Entah kenapa ketika aku semakin mendekat, wajah ning Ishma berubah merah dengan mata terbelalak. Semakin dekat jarak kami, ia malah menutup mata, benar-benar merasa kini aku sedang diuji. Ada atmosfer cinta ketika menatap ekspresi ning Ishma menutup mata seperti itu. Kutangkap sinyal asmara ada pada dirinya, melihatnya begitu pasrah tanpa kata dan pemberontakan apapun saat aku mendekat. Percayalah, Ning, aku juga begitu grogi dan takut lepas kendali.

“Ada ulat bulu di mukena jenengan, Ning.”

Matanya langsung terbuka melihat ulat bulu dengan bulu hitam kecoklatan menggeliat di telapak tanganku.

“Aaaaaaa ….”

Refleks ia histeris sembari berjongkok.

Sungguh tak menyangka jika ia begitu ketakutan seperti itu.

Langsung kubuang keluar jendela ulat bulu itu dengan menahan senyum geli.

“Sudah saya buang ulatnya, Ning.”

Kini tak bisa ku sembunyikan lagi senyumku. Merasa bahagia bisa berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengannya.

Allah. Astagfirullah.

“Ada lagi nggak, Kang? Ada lagi nggak, Kang?” Ia masih panik seraya mengibaskan mukena.

“Sampun, sudah tidak ada, Ning.”
Kutatap ia sekilas dengan dada berdebar.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaPemuja Setan #03
Berita berikutnyaWill You Marry Me #06
Di Kampung Santri ini, Cintaku padamu semakin bersemi Jauh darimu membuatku semakin terjerembab dalam rindu Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah. Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here