Cinta Sang Abdi Ndalem # 04

0
1013
views

Jangan siksa aku dengan pesonamu, Ning.


Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.

****

Wangi rambutnya menguar tertangkap indera penciuman, memancingku berkali-kali mengusap dan menghirupnya. Lengannya yang melingkar erat di perut ini menambah semangat untuk menjelaskan halaman delapan jilid dua kitab mau’idzotul mukminin yang berjudul ‘Bayanu qabulil akhlaqi littaghyiiri bitoriqir riyadlah’ bahwa akhlak bisa dirubah dengan dilatih.

“Sebagian orang yang malas dan banyak waktu luang akan merasa berat melakukan mujahadah, riyadlah (dilatih) sehingga ia sulit menerima toleransi, menyangka bahwa akhlak atau watak itu tidak bisa dirubah.

Sekali lagi suamimu katakan, jika akhlak tidak bisa diubah, apa gunanya agama, nasihat, wasiat, dan tuntunan baik yang disampaikan oleh syareat?

Apa gunanya Allah menurunkan kitab suci Alquran, lalu menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan bagi umat manusia?”

Ning Ishma bergeming dan mendengarkanku dengan seksama.

“Bagaimana bisa tidak mungkin akhlak manusia diubah, padahal binatang saja mampu dirubah perilakunya. Seperti burung elang yang semula liar mampu menjadi penurut. Kuda liar dan hewan terbuas sekalipun seperti singa bisa menjadi penurut jika dilatih.

Sungguh sebuah biji tidak bisa disebut apel atau kurma jika tidak dirawat dan ditanam. Sebuah biji sama sekali tidak bisa menjadi apel kecuali melalui perawatan.

Bukankah Allah berfirman dalam Ar-Ra’d ayat 11, ‘Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.’

Ketika biji-bijian saja bisa berubah dengan usaha hingga menjadi pohon dan bisa berbuah, maka begitu juga emosi dan syahwat. Begitu, sayang.”

Kucolek hidungnya yang sedikit bangir itu, membuatnya beradu dengan milikku sembari mengusap pipinya yang seperti pualam.

“Kalau begini hidungku jadi kalah mancung.” Bibirnya mengerucut setelah membuat jauh jarak wajahnya padaku.

“Tak apa, aku suka.”
Kembali kutatap manik gelap itu dan bagian bawah hidung yang kini tengah beradu.

“Oke aku paham dan yakin sekarang kalau watak itu bisa dirubah, tapi bisakah aku jadi sabar sepertimu yang tak pernah marah dan emosi hingga meletup-letup, Kang?”

Astaghfirullah, padahal sudah hampir … malah ada pertanyaan lagi. Oke, tak apa, aku sedang menjelaskan tentang akhlak, harus bisa memberi contoh sifat sabar termasuk menahan gejolak dalam dada. Padahal tubuh ini rasanya sudah seperti terbakar.

“Marah, nafsu, syahwat emosi itu tidak bisa dibunuh melainkan diolah dan dikendalikan.”

Mengerngitlah dahi ning Ishma, merubah posisi duduk dan memasang telinga menghadap lelaki tercintanya.

“Lanjut, next, kilaaat.”

Aku terkekeh.

“Oke, begini ning, seandainya emosional hilang secara totalitas, niscaya seseorang tidak akan mampu menyelamatkan dirinya dari hal-hal yang bisa mencelakakannya.

Seandainya emosi hilang secara total, maka jihad tidak akan pernah ada. Nabi Muhammad bersabda, ‘Aku hanyalah seorang manusia yang bisa marah seperti layaknya manusia yang marah.’

Allah berfirman dalam surat Al-fath ayat 29, ‘Orang-orang yang bersama dengan Muhammad adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.’

Yang dituntut itu bukan menghilangkan sifat-sifat tersebut secara totalitas, tapi mengembalikan amarah dan syahwat ke posisi yang ideal dan normal, sekira keduanya tidak mendominasi dan mengalahkan akal.

Ayo ning, kamu pasti bisa.”
Aku tersenyum menyemangati.

“Tapi … setiap Syauqi buat ulah, setiap santri bikin kasus, marah itu langsung muncul begitu saja dan meledak-ledak tak terkendali. Sebenarnya aku nggak pengen seperti itu, Kang. Rasanya kok sulit sekali mengendalikan marah, ya.” Suara istriku kini terdengar parau dengan wajah tertunduk.

Kugamit dagu itu hingga wajahnya mendongak. Terlihatlah kedua manik berkilauan karena menahan air mata.

“Bisa, sayang. Watak manusia itu berbeda-beda. Ada yang cepat diubah, ada juga yang agak lama. Sedikit demi sedikit dengan latihan mengendalikan, pasti bisa.”
Aku memiringkan wajah sambil bertopang dagu memancing senyumnya timbul, dan … berhasil.

“Jangan bunuh marah, karena akan berguna disaat ada yang mengusik dan melecehkan agama kita, atau ada yang keterlaluan membuat kesalahan di depan mata. Bisa celaka kalau kita tak punya marah, seperti halnya hilangnya keinginan makan, maka manusia akan binasa. Juga jika hilang keinginan berhubungan biologis,maka rantai keturunan akan terputus.”

Semoga kali ini ia peka dan tidak mengalihkan pembicaraan lagi. Benar ia mulai tersipu hingga nampaklah rona kemerahan di kedua pipi itu.

“Terimakasih, Kang Amar. Insyallah, mulai detik ini akan aku latih dan kendalikan amarah sehingga tidak mendominasi dan mengalahkan akal. Aku padamu lah pokoke, Kaaaang.”

Ganti ia yang kini membingkai wajahku dan menyentuhkan bibirnya berkali-kali.

“Sama-sama, Ning. Aku padamu juga.”

Kurasakan tangannya berubah sedingin es.

“Ning … kenapa tangan sampean dingin begini?”

Dia tak menjawab malah menatapku lekat dengan senyum mengembang.

“Mar, subuh, Mar.”

Kukerjapkan mata dan aku mendadak dalam ruangan yang berbeda. Anehnya sudah tak kutemui ning Ishma di sana. Yang ada adalah pemandangan almari kayu terjejer dan baju serta sarung yang terserak di sana-sini.

Ternyata, aku cuma ber-mim-pi.

Sekali lagi, AKU-BANGUN-DARI-MIMPI-TERLAMPAU-MANIS.

Meskipun tak sepenuhnya sadar, mulai kukenali wajah yang kini di hadapanku sambil tersenyum menyeringai.

“Gus Heri? Astaghfirullah ….” Segera aku bangun dan duduk bersandar tembok.

“Maarrr, kok nang ning nang ning … kamu mimpiin siapa, Mar?”

Aku langsung terkesiap mendengar pertanyaan gus Heri. Apa mungkin tadi aku mimpi sampai mengigau?

“Ndak … bukan siapa-siapa, Gus.”

Aku segera berdiri dan melipat selimut. Lalu keluar kamar khusus kang ndalem setelah tahu sudah kesiangan hingga terlewat jamaah subuh di Musola. Untung saja yang lain sudah tak ada di kamar dan hanya gus Heri yang memergokiku sedang mengigau. Untung saja aku segera bangun oleh tepukan tangan gus Heri yang dingin dan basah, kalau tidak … kalau tidak pasti aku sudah …

“Syukron, Gus sudah dibangunkan.”
Aku terburu-buru menuju kamar mandi.

“Wakakakak … hahahaha … Mar … Amar … awakmu masih hutang penjelasan lho yaaaa. Ning sopo kuiiii? Ishma yaaa?”
Kutinggalkan gus Heri yang tengah tertawa terbahak-bahak di samping kamar khusus abdi ndalem.

Bersambung.

*SEKUEL itu cerita yang diulang dengan POV berbeda. Nah, kenapa masih aja banyak yang tidak ingat kalau di cerita ning Ishma juga mimpi menikah sama kang Amar?

*Jadi, intinya mereka saling memimpikan satu sama lain setelah bertemu di dapur malam itu.

*Yang kemarin ketinggalan di POV ning Ishma bisa mengikuti cerita ini, ya.

* Iseng ah, kalau sampai kang Amar tembus 3000 like, beneran tak upload fotoku bersanding sama Preity zinta. Oh, ayolah, Esmeralda, aku tahu itu tak mungkin.😂😂😂


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaWill You Marry Me #05
Berita berikutnyaMenggelar Razia di Kamar Napi Lapas Sidoarjo
Di Kampung Santri ini, Cintaku padamu semakin bersemi Jauh darimu membuatku semakin terjerembab dalam rindu Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah. Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here