Cinta Sang Abdi Ndalem # 03

0
287
views

Terjerembab Rindu


“Sudah belum, Ning?”
Menunggunya gosok gigi seperti antri mau periksa di rumah sakit. Terkadang wanita cantik itu keterlaluan.

“Sebentar,” jawabnya kurang jelas karena busa yang masih berada di mulutnya. Detik kemudian terdengar suara gemericik air dan orang sedang berkumur.

“Ayolah, Nyonya Hasbullah jangan membuatku menunggu lama,” pintaku dengan wajah melas sembari menghempaskan bahu pada tembok.

Sepuluh menit sudah aku berdiri di samping kamar mandi.

“Sudah?”

“Belum.”

Sedang apa sih, istriku ini. Ritual sebelum tidurnya itu rumit sekali.

“Sedang apa?”

“Cuci muka.”

“Luluran juga, nggak?”

“Wakakak, ya enggak, lah.”

Lama menunggu membuat kedua kakiku linu. Ya sudah, aku tunggu sambil duduk saja. Baru saja hendak ke tempat tidur, pintu kamar mandi terbuka. Nampaklah seorang bidadari di sana sedang menyunggingkan senyum, lebih tepatnya senyum menyeringai memperlihatkan barisan gigi rapi nan putih yang semakin terlihat bersih setelah diduga telah digosok sampai sepuluh menit.

Aku melongo saat melihat khimar bagian depannya basah.

“Ning, khimarnya nggak dilepas tah, tadi?”
Ia menggeleng sambil mengulum senyum.

“Ya Allah, basah kuyub itu. Cepat sana ganti,” perintahku sambil menggelengkan kepala.

Ia bergegas melepas khimar itu dan membuka almari hendak mengambil khimar yang lain.

“Stop!”
Buru-buru kucegah ketika rambut hitam sebahunya yang terlampau mempesona itu akan tertutup lagi. Bukankah berlebihan berdua dengan suami sendiri masih tetap mengenakan khimar?

“Kenapa?”

Ia menatapku heran. Disitulah aku merasa ia benar-benar tidak peka.

“Jelek khimar itu.”

Aku menunjuk benda yang berada di tangannya.

“Oh, aku tahu jenengan suka sama warna lavender, kan?” tanyanya berbinar-binar.

Ia mulai mengobok-obok isi almari demi menemukan khimar dengan warna yang dimaksud.

Segera ia menoleh saat kugamit tangannya. Ya Allah, kenapa ia begitu tidak peka.

“Warna apapun tetap jelek, Ning. Yang model bagaimana pun juga jelek.”
Ada semburat kekecewaan di wajahnya.

“Untuk malam ini, khimar manapun jelek. Sampean cantik seperti ini.” Haruskah aku sedetail ini?

Perlahan senyum simpul timbul di bibirnya. Kutatap lekat manik hitam berkilauan disertai bulu lentik itu mengedip pelan. Kusisir rambut lembutnya dengan jari sambil sesekali menyematkan beberapa helai ke belakang telinganya.

Kubingkai wajahnya dengan telapak tangan, lalu …

Bermandikan cahaya rembulan yang berpendar menerobos jendela kaca, dua jiwa kini terjerembab rindu saling memagut kehangatan lewat bibir hingga hasrat paripurna.

“Kang ….”

“Hemm?”
Ia menatapku setengah kecewa setelah wajahnya terlepas dari telapak tangan ini.

“Jenengan tadi juga makan pete, ya?”

Ekspresinya mendadak jengah sambil menutup bibir ranum merah alami itu dengan tangan.

“Hehe, iya.”

“Iiih, nggak adil. Aku tadi udah gosok gigi,” rengeknya seraya memukuli dadaku.

“Hehe, maaf,” ucapku enteng tanpa dosa. Lupa sendiri kalau tadi juga makan pete.

“Sana buruan gosok gigi!” Dengan cemberut, ia mendorongku menuju kamar mandi.

Detik kemudian aku sudah berada di kamar mandi dan menggosok gigi dengan senyum tetap mengembang, merasa lucu dengan ekspresi ning Ishma saat terkontaminasi bau pete. Hehe.

“Cepet banget.”

Ia mengernyirkan dahi karena hanya dua menit aku sudah keluar.

“Memangnya sampean, gosok giginya lama,” ujarku seraya membopong tubuh rampingnya ke atas peraduan, menuntaskan yang sempat tertunda gara-gara pete.

Ia melingkarkan kedua tangannya di leher ini, otomatis semakin dekat jarak kami hingga bisa kurasakan embusan napasnya.

“Mumpung Syauqi tidur. Sudah saatnya,” bisiknya di telingaku yang hanya kurespon dengan senyuman dan memilin rambutnya dengan jemari.

“Pasti udah mikir yang aneh-aneh,” ucapnya seraya memencet hidung bangirku.

“Gimana to, Ning?” tatapku heran.

“Maksudnya … sudah saatnya simakan hafalan mumpung Syauqi tidur, terus … ngaji kitab.”

“Oh … hehe iya. Kita simakan hafalan dulu. Sampean minta disimak juz berapa?” tanyaku saat ia mengenakan jilbab panjang dari atas nakas.

“Juz dua puluh lima .”

Ketika sampailah ia di ayat,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ يَلْبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَقَابِلِينَ كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah. Dan kami jodohkan mereka dengan bidadari bermata jeli.” [Qs. Ad-Dukhan: 51-54]

Aku menatapnya takjub seraya berkata, “dirimulah, hurin ‘in-ku, Ning.”

“Alaaaaah, jangan gitu ah, jadi nggak konsen, niiiih,” sergahnya setengah tersipu, lalu mendesis memikirkan ayat selanjutnya, sedangkan aku tergelak.

“Shodaqallahul’adziiim.”

Setelah sepuluh lembar juz dua puluh lima ia menutup mushaf itu dan meletakkannya di atas meja seberang tempat tidur.

“Terus ngapain lagi kita?”
tanyaku sok polos.

“Ngaji kitab. Jelaskan, apa benar yang jenengan bilang tadi kalau watak itu bisa dirubah dengan pembiasaan dan latihan? Jenengan cuma mengarang atau memang ada dalam sebuah kitab?” todongnya, lalu duduk bersamaku di atas tempat tidur lagi.

“Oke.”

Kusisir beberapa kitab yang berderet rapi di almari pojok kamar tidur. Setelah menemukan kitab yang dimaksud aku segera duduk di sampingnya. Menyandarkan kepalanya pada dadaku, membuat tangannya melingkar di perut ini, barulah kubuka kitab untuk kajian cinta malam ini.

“Baiklah, sayangku. Ini dia kitab Mau’idzotul mukminin min ihya’ ulumuddin oleh Imam Al-Ghozali.”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaCinta Sang Abdi Ndalem # 02
Berita berikutnyaWill You Marry Me #04
Di Kampung Santri ini, Cintaku padamu semakin bersemi Jauh darimu membuatku semakin terjerembab dalam rindu Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah. Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here