Cinta Sang Abdi Ndalem # 02

0
191
views

Pesona Pengantin Setengah Tua


Setelah membersihkan ruang tamu dan dapur bersama lek Den, aku kembali ke ruangan khusus abdi ndalem yang terletak di samping musola.

Cukup terkuras energi hari ini, jadi saatnya memejamkan mata, lagipula sudah jam dua belas malam. Tak kuhiraukan bujukan lek Den begadang di atas gardu dekat pohon sawo dengan menikmati camilan dan gorengan dari ndalem sisa jamuan para kyai tadi.

Ponsel mirip batu bata berdenting membangunkanku. Dengan mata terpejam, kupencet tombol tengah, lalu kutempelkan di telinga kanan.

“Assalamuaikum,” ucapku dengan suara lemas khas orang mengantuk berat.

“Wa-wa’alaikumsalam.”
Suara lembut seorang gadis di seberang membuat mataku langsung terbuka dan mendadak terang seperti lampu Philips seratus watt.

“Kang Amar.”

“I-iya. I-ini siapa?”
Hatiku langsung berdebar-debar.

“Latifa.”

Suara itu mirip suara Bu Nyai Aisyah. Aku langsung terduduk, bersandar tembok sembari mengembuskan napas pelan dan mengumpulkan kesadaran. Kebiasaan kalau sedang tidak enak hati, ia akan menjawab Latifa jika aku tak segera mengenali suaranya.

“Ning Ishma?”

“Hemm,” jawabnya dengan nada sedikit kesal.

“Sampean di mana? Ditungguin dari tadi. Sebel aku. Mana Syauqi dari tadi rewel terus,” racaunya dengan suara tangis tertahan membuatku yang baru bangun tidur gelagapan.

“Syauqi?”

“Jenengan di mana, Kang?”

Setelah mengerjap beberapa kali, barulah aku benar-benar sadar di mana sekarang aku berada. Kamar berukuran tak begitu besar dengan nuansa berantakan di setiap sudutnya. Kamar yang pernah kuakrabi beberapa tahun yang lalu ketika dulu aku menjadi kang ndalem di sini.

Sarung dan kemeja menggantung tak beraturan dengan baju kotor di sudut ruangan. Kamar yang setiap kali berubah bersih total pada waktu hari minggu saja ketika jadwal roan santri tiba. Namun, yang selalu aku rindu karena merupakan saksi bisu perjuangan menggapai ilmu.

Juga saksi bisu kerinduanku pada seorang gadis berparas ayu yang pesonanya tak pernah layu walaupun kini telah menjadi istriku dan melahirkan seorang bocah pintar dan lucu. Ah, betapa beruntungnya aku.

“Iya sayang, aku pulang. Ini ketiduran di kamar kang ndalem.”

Kulirik lek Den yang sudah terlelap setelah begadang dan terdengar dengkuran kang Zuher di pojok sana.

Aku menepuk jidat, kenapa bisa ketiduran di sini. Bisa-bisanya menyia-nyiakan istri bak bidadari di kamar atas sana. Betapa kasihan dia.

“Iya cepetan.”

“Syauqi kenapa?”

Dia langsung menghambur ke pelukan ketika aku membuka pintu kamar.

“Kok malah di kamar kang ndalem.” Ia merajuk.

“Iya maaf, tadi ketiduran. Kecapean, sayang.” Kubelai kepala yang tertutup khimar itu. Lalu ia meregangkan pelukan sambil menatapku lekat, membuat dada ini semakin berguncang.

“Lain kali bilang sedang apa, ada di mana, biar aku ndak bingung.”

“Iya, iya. Ma’af. Syauqi sudah tidur?”

“Sudah, di kamar sebelah.”

Kehadiran bocah itu membuat hari-hariku kian terasa indah. Menambah semangat dan memperat jalinan cinta kedua orang tuanya.

“Maaf tadi tak marahi lagi,” sesalnya menahan air mata.

“Kenapa?”

“Lha wong bikin ribut aja. Masa lapak meja digeret padahal di atasnya ada beberapa cangkir berisi kopi panas, untung gk ngenai dia, Kang. refleks ku tepuk bokongnya, gemes aku.”
Ia tertunduk seraya mengerucutkan bibir.

“Ya lain kali jangan dimarahi. Anak seusianya belum tahu kalau itu salah. Ingat, bentakan itu akan membunuh ribuan sel otak. Jangankan manusia, tumbuhan mendengar caci maki saja ia akan layu dan mati.”

Aku tahu ia pasti menyesali perbuatannya. Terlihat dari wajahnya yang berubah sendu begitu setiap kali setelah memarahi Syauqi. Namun, juga seringkali khilaf kesalahan sama terulang lagi.

“Maafkan aku ya, Kang, selalu nggak bisa ngontrol emosi. Gimana caranya ya, aku bisa berubah?”
Kini air mata itu luruh saling berkejaran di pipinya.

“Pasti bisa. Watak itu bisa dirubah, seperti takluknya kuda liar oleh manusia. Jika kuda liar saja bisa dijinakkan, apalagi manusia?” Ia mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di dada ini.

“Kayaknya nggak bisa, aku kayak gini terus dari dulu. persis umi, heran kenapa watakku nggak nurun abah saja.”

“Watak itu bisa dirubah dengan dilatih dan kebiasaan. Kalau tidak bisa untuk apa ada agama, untuk apa ada nasehat, dan kenapa harus ada Alquran,” ujarku sambil kueratkan lagi pelukan ini.

“Kang.”

“Tentang curahan hati di kertas itu, apa benar yang jenengan maksud Latifa adalah aku?” Rupanya ia sedang mengalihkan perhatian.

“Siapa lagi? Siapa yang minta diantar buru-buru ke Gedung Wanita?”

Ia tersenyum malu.

“Udah lama kenapa masih tanya terus?”

“Cuma memastikan.”

“Emmm, Syauqi sudah tidur, kan?”

Ia mengangguk, seketika warna semu kemerahan terlihat di kedua pipinya.

“Khumairaku ….”

“Kalau sudah tidur emang kenapa?” sahutnya.

Aku hanya tersenyum sembari menatap lekat kedua bola matanya yang semakin menawan karena berpadu dengan pendar cahaya rembulan.

Kubingkai wajahnya hingga ia menutup kedua mata itu seakan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika jarak kedua bibir ini sangat dekat, tiba-tiba saja ia membuka mata membuatku terhenyak dan menatapnya heran yang sekarang menutup mulut seakan menolak untuk kucium.

“Sebentar, aku tak gosok gigi dulu, tadi habis makan pete.”
Setengah berlari ia menuju kamar mandi meninggalkanku yang sekarang tertawa lebar. Lucu sekali kamu, Ning. Benar-benar membuatku gemas.

“Sudah, ndak usah gosok gigi gak apa-apa, Niing ….” bujukku tak sabar.

“Sebentar ajaaa,” teriaknya dari dalam kamar mandi.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaWill You Marry Me #03
Berita berikutnyaCinta Sang Abdi Ndalem # 03
Di Kampung Santri ini, Cintaku padamu semakin bersemi Jauh darimu membuatku semakin terjerembab dalam rindu Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah. Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here