Cinta Sang Abdi Ndalem # 01

0
240
views

Kuali dan Senyuman Penuh Arti


PoV Amar

Tubuh untuk ibadah dan berjuang akan rusak, tidak untuk berjuang dan ibadah juga akan rusak. Sama-sama rusak, lebih baik untuk ibadah dan berjuang. Begitu pesan K.H. Muntaha Al-Hafiz, seorang ulama dan kyai tersohor di kota Wonosobo.

Beliau adalah salah satu sahabat abah Hasan dan sering diundang memberikan ceramah ketika ada pengajian di Cirebon.

Kalimat itu juga yang memberikan energi positif kepadaku untuk selalu berjuang tolabul ilmi dan mencari berkah kyai.

Menuju jalan kebaikan akan terus ada ujian dan rintangan menghadang. Aku pun sudah kenyang diterpa cobaan aral melintang.

Kukira perjalananku meninggalkan Pesantren abah Hasan menuju kota Pati Utara akan mulus tanpa hambatan. Ternyata aku salah, aku kembali diuji lagi, tak mengira jika di sini aku diuji dan terjebak dalam urusan hati yang pelik bernama cinta.

Seorang gadis berparas ayu dan berkulit putih bernama Ishma Al-Hana telah menyita perhatianku sejak dua bulan nyantri di Ar-Roudloh.

***

Waduh, di mana kertas itu? Perasaan tadi sore masih ada. Kertas berisi curahan hatiku setelah pertemuan pertama dengan ning Ishma yang memintaku mengantarnya ke Gedung Wanita dan mengaku bernama Latifa.

Aku memang termasuk lelaki yang suka menyurahkan apapun ke dalam bentuk tulisan, termasuk pengalaman penting, tapi kalau tentang wanita, jujur baru kali ini.

Kukeluarkan semua isi almari tapi tetap nihil, membuatku khawatir jika saja kertas itu ditemukan oleh keamanan.

“Kang, sampean kok malah di kamar, di dapur masih ribut buat njamu tamune abah yai, kok. piye, to?”

Kang Zuher menegurku ketika aku masih sibuk merapikan kembali isi almari.

“Oh nggeh, Kang … maaf. Saya tak ke dapur sekarang.”

Kang Zuher keluar kamar sambil berdecak, ia satu-satunya kang ndalem yang galak di sini. Padahal seharian aku juga non-stop ikut berkutat di dapur, menata jajanan basah, memasak air, mencuci piring, dan membeli bahan nasi kebuli di Pasar.

Baru saja sampai belakang dapur, Lek Den sudah memberiku tugas.

“Kui lho kuali besar tolong bawa masuk ke dalam, terus masak air maneh, Mar. Siapkan wedang kopi untuk para kyai di ndalem.”

“Oke siap, Kang.”

Segera kubawa kuali besar itu masuk ke dapur, dan … jantungku mendadak berdebar kencang saat melihat ning Ishma berdiri dekat rak piring sedang berbincang dengan beberapa mbak ndalem.

Refleks kepalaku menoleh ke arah tempat cucian piring di mana ning Ishma berdiri. Wajahnya terlihat tegas dengan pandangan tajam seperti sedang mengultimatum para mbak ndalem yang kini tertunduk di hadapannya.

Sekilas netra kami bertemu dan kulayangkan senyum. Come on, aku hanyalah manusia biasa yang juga ingin tersenyum ketika bersitatap dengan wanita yang pesonanya membuat hatiku berdesir.

“Mbak Naima dan mbak Indah tolong ke ruang keamanan!” suaranya terdengar tegas seperti Bu Nyai Aisyah.

Memang kata kang-kang ndalem, ning Ishma terkenal garang dengan para santri. Apalagi kalau mereka sedang membuat ulah, tak segan ning Ishma berbicara tegas tanpa basi-basi.

Bagiku wanita seperti itu justru punya daya tarik tersendiri dan menjadi sebuah tantangan. Pas kalau ia kelak menjadi istriku, karena aku jenis lelaki penyabar dan lemah lembut seperti abah yai. Lihatlah abah Nafi’ yang selalu bersabar menghadapi Bu Nyai Asiyah saat marah dan berbicara dengan nada tinggi. Abah hanya akan menanggapi dengan senyuman dan tatapan teduh. Bukankah itu sangat romantis?

“Bah, mosok to ada tamu kok malah nangis gara-gara nunggu umi kelamaan nggak njedul-jedul ke ruang tamu. Kan ya umi banyak urusan, harusnya dia sabar, eh malah nangis pas umi keluar nemui dia,” tak sengaja kudengar bu nyai curhat di ruang tamu saat aku hendak mengambil gelas-gelas kotor setelah para tamu abah yai pulang.

“Siapa tamu itu, Um?” tanya abah yai kalem.

“Tadi sore ada wali santri yang sowan.”

“Memangnya umi tidak tahu kalau ada tamu, kok lama keluarnya?”

“Ya tahu, tapi kan umi banyak kerjaan.”

“Kerjaan opo?”

“Ya masak di dapur, nata baju di kamar, nyiapke bahan ceramah besok, ya banyak lah, Bah,” kilah bu nyai.

“Ya harusnya kalau tahu ada tamu segera temui, pekerjaan yang lain tinggal dulu. Nyuruh mbak-mbak saja buat urus. Tamu wajib kita hormati. Mereka datang membawa rejeki dan pergi membawa bala’.”

“Iya tahu, tapi kan umi butuh nyiapke resep masakan. Arek-arek pada belum mahir meracik bumbu kebuli. Rasanya nanti bedo.”

“Terus dari mana umi tahu tamu itu nangis gara-gara kelamaan nunggu umi? Siapa tahu dia nangis karena kangen dengan anaknya.”

“Iya, si ibu-ibu itu bilang sambil tersedu-sedu, memang saya ini kebanyakan dosa nggeh, Bu nyai, sehingga untuk ketemu wanita mulia seperti jenengan saja harus menunggu lama. Saya memang banyak dosa. Begitu, Bah.”

Abah yai terkekeh, “mosok kayak gitu?”

“Betul, Bah. Gemes aku, orang kok ndak sabaran.”

“Ssst … ndak boleh begitu. Lha kang-kang apa ndak ada yang ngasih tahu kalau ada tamu ?”

“Ya sudah.”

“Ngasih tahunya kapan?”

“Sehabis salat duha.”

“Umi keluarnya?”

“Habis asar.”

“Astaghfirullah … berarti seharian nunggu umi? Ya betul kalau sampai nangis. Jangan diulangi lagi, ya.”

“Ah, wong yo tak kira kan nemui anaknya dulu. Mbak ndalem juga sudah tak pesan suruh istirahat dulu di kamar tamu. Eh, nggak tahunya malah setelah jamaah duhur masih di ruang tamu.”

“Ya siapa tahu memang betul-betul kepingin ketemu umi. Jangan diulangi lagi nggeh, sayangku ….”

“Mesti abah to nyalahke umi. Lebay lah, orang kayak gitu.”

“Lhoo … abah ya ndak nyalahke. Wong diajari suaminya untuk lebih menghormati tamu kok dibilang nyalahke, to.”

“Enggeh lah, enggeh.”

“Jangan kepaksa gitu enggehnya.”

“Inggeeeeh.”

Mendengar itu sekuat tenaga kusembunyikan senyum sambil berlalu menuju dapur. Pasangan seperti ini betul-betul saling melengkapi. Saling menasehati dalam kebaikan.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaPercobaan Bunuh Diri dengan Meminum Pemutih Pakaian
Berita berikutnyaMalaikat Tak Bersayap #01
Di Kampung Santri ini, Cintaku padamu semakin bersemi Jauh darimu membuatku semakin terjerembab dalam rindu Mimpi itu membuat sindrom cinta yang kuderita semakin parah, mengalir ke seluruh peredaran darah. Keindahan parasmu tak hanya melenakan mata, tapi juga merasuk dalam hati yang paling relung. Menuntunnya tetap yakin bahwa cinta ini demi Sang Maha Bijaksana yang tak terlensa netra.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here