Cinta Mati (bagian pertama)

0
66
views

[Yang, Abang pengen makan pecal. Nanti ke sini bawaain, ya?] Kukirim pesan itu ke nomor pacarku.

[Ok, ada lagi?]
[Enggak, itu aja dulu]

Begitulah kehidupanku selama menjadi penghuni jeruji besi. Sidia selalu ada buatku, mengantarkan makanan kesukaanku, menjemput pakaian kotorku, dan mengembalikannya dalam keadaan bersih dan wangi. Pertemuanku dan dia berawal dari berbalas komentar di sosial media. Dengan mengirim stiker berlanjut dengan saling mengirim pesan pribadi. Awalnya, aku menganggap dia adalah sebagai teman untuk penghiburku yang bosan di dalam penjara. Dia tak mempermasalahkan keberadaanku, aku yang tersandung kasus narkoba, harus menerima resiko akibat perbuatanku.

Hari-hariku lebih berwarna semenjak adanya dia dihidupku. Belum pernah bertatap muka, hanya sapaan melalui dunia maya.
[Dek, bangun. Udah subuh, salat dulu sana] Setiap pagi kubangunkan dia dari tidurnya. Walaupun sebenarnya dia sudah lebih dulu terjaga, sebab dia harus mengurus anaknya.
Ya, dia seorang janda yang memiliki seorang putra. Aku tak mempermasalahkan statusnya, aku nyaman saat berkomunikasi kepadannya. Hingga suatu hari, dia memberi kejutan untukku, dengan kehadirannya di ruang besuk.

[Bang, Adek hari ini mau keluar kota, ya?] Pesan itu kubaca dengan perasaan cemas. Sebab dia akan keluar kota.

[Sama siapa? Bawa Idham juga?] Idham adalah nama anaknya.

[Sendiri aja, Idham Adek titip sama Mbah]

[Oh, hati-hati ya. Selalu kabari Abang] Masih ada rasa khawatir melepasnya pergi keluar kota, sendirian.

***

“Zelmy … ada tamu yang pengen ketemu sama kamu,” ujar salah seorang petugas sipir.
“Siapa?” tanyaku.
“Enggak tau, baru kali ini dia ke sini.”

Dari kejauhan aku melihat punggung seseorang yang memakai jaket abu-abu.

“Siapa?” tanyaku pelan.
Perlahan orang itu membalikkan tubuhnya. Betapa terkejutnya aku, saat melihat siapa tamu yang membesukku.

“Adek?” Ada perasaan bahagia dan terkejut. Tak disangka-sangka, penyemangatku kini berada dihadapanku. Awalnya aku sempat berpikir, perhatiannya sebatas di media sosial saja. Mana mungkin, ada orang yang mau dengan narapidana sepertiku.

Ia tersenyum dan menyalamiku.
“Udah, jangan bengong. Ini adek bawakan makanan dan vitamin.” ujar Rahayu.
Namanya Rahayu, sudah tersemat di hatiku dan takkan terganti dengan yang lain.

“Katanya, Adek keluar kota?” tanyaku sambil menuntunnya untuk duduk dikursi tamu.
“He-he-he, Adek bohong. Mau buat kejutan untuk Abang.”
“Jahil,” kucubit hidung peseknya.

Canda tawa memenuhi ruang besuk, yang kebetulan hanya aku dan beberapa teman lainnya yang berada di sana.

“Jam besuk sudah habis.” Sang petugas mengingatkan batas jam besuk.

Sedih rasanya, harus berpisah lagi dengan Rahayu.
Namun, apa boleh buat. Memang sudah peraturannya.

“Adek, pulang dulu ya. Nanti kalau ada waktu, Adek ke sini lagi.”
“Iya, hati-hati ya. Jaga diri, jaga Idham.” Kupesankan ke dia agar menjaga diri dan juga Idham.

Lambaian terakhirnya masih bisa kulihat dibalik lubang kecil di pintu gerbang.
Huh … aku kembali pada situasi yang membosankan. Kapan masa penahananku berakhir? Aku ingin selalu bersama Rahayu.

***

[Dek, lagi ngapain?] Kutunggu jawaban pesanku. Hingga setengah jam, belum ada pesan balasan darinya.
Apakah dia akan menjauhiku, setelah melihatku di sini? Kalau iya, berarti hanya aku saja yang menaruh rasa kepadanya.

[Maaf, telat balasnya. Tadi adek lagi nyuapin Idham] Mendadak hatiku kembali berbunga-bunga setelah menerima pesan dari Rahayu.

[Abang, telpon. Boleh?] tanyaku, sebab mendengar suaranya lebih menyenangkan dari pada berbalas pesan. Jariku pegal.

[Boleh] Kuakhiri pesan lalu menekan nomornya lalu sambungan terhubung.
Panjang lebar kami mengobrol, sesekali kami bergurau, tawanya terasa ikhlas sekali.

“Dek, gimana setelah melihat Abang?” Selidikku, hanya untuk mengetahui perasaannya saja.
“Senang, kalau saja enggak ada batas waktu, pengen deh berlama-lama di sana.” Jawaban itu berhasil membuatku mabuk kepayang. Sebegitu sayangnya dia padaku, hingga tidak mau berpisah dariku.

“Iya, Abang juga gitu. Enggak mau jauh-jauh dari Adek.”

***

Sudah beberapa bulan aku menjalin hubungan dengannya, sampai pada akhirnya keluargaku heran, karena aku tak pernah meminta dibawakan makanan kesukaan atau mengirim baju kotorku untuk dicuci.

“Bang, serius berhubungan dengan Rahayu?” tanya Rahayu saat membesukku.
“Iya, kenapa?” tanyaku.
Dia menundukkan kepalanya, sepertinya ada yang akan disampaikan. Semoga saja bukan berita buruk.

“Begini, Abang dari keluarga yang terpandang, berpendidikan tinggi. Termasuk Abang yang seorang lulusan unviersitas di Bandung. Apa mungkin, hubungan kita direstui keluarga Abang? Rahayu seorang janda, tamatan terakhir juga hanya sampai SMA, dan juga sudah memiliki anak.” Deg … ucapan Rahayu bagaikan petir di siang bolong, mengejutkanku. Aku tak pernah terpikir begitu, namun Rahayu ada benarnya. Keluargaku pasti tak menyetujui hubunganku dan Rahayu. Aku hanya terdiam, tak berani menjawab apa-apa. Sebab akan menjadi harapan palsu jika apa yang aku ucapkan tak berlaku dikemudian hari.

“Bang … kenapa melamun?” Suara Rahayu membuyarkan lamunanku.
“Eh e-enggak kok, Abang nggak ngelamun,” ucapku terbata-bata.
“Gimana, Bang?” tanya Rahayu.
“Nanti kita omongin lagi, ya. Abang juga nggak tau mau jawab apa?” jawabku.

Rahayu menundukkan kepalanya, kurasa dia kecewa dengan jawabanku. Apa boleh buat, aku tak ingin memberi harapan palsu kepadanya.

***

Perhatian Rahayu mulai memudar, tak ada lagi panggilan manja saat mengirim pesan atau saat aku menghubunginya. Aku sebenarnya tahu, apa yang membuat Rahayu berubah. Lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya menunggu saat yang tepat untuk meminta izin dari orang tuaku.

[Dek] Kukirim sebuah pesan singkat untuknya.

[Ya] Sesingkat itu dia membalas pesanku.

[Adek kenapa? Sudah beberapa hari ini tidak seperti biasanya.]

[Enggak, kenapa-kenapa] Serapat apa pun dia menutupi perubahannya, semakin kurasakan keanehan sikapnya.

[Oh, ya udah. Jangan lupa makan. Jaga diri dan juga jaga Idham] basa-basiku.

[Ya]
Aku berada di posisi serba salah. Kalau aku yakinkan bahwa orang tuaku akan meresetui hubungan kami, sama saja memberinya harapan palsu. Aku tau betul siapa ibu dan bapakku. Mereka sangat tegas, bagi mereka pendidikan dan jabatan yang paling utama.

***

[Kita, nikah yuk] Pesan singkat itu mengejutkanku. Bagaimana mungkin, aku menikahinya sementara keluarga besarku belum mengetahuinya.

Bingung … akan kubalas apa pesan dari Rahayu.
Kupilih untuk mengabaikan pesan itu, sambil mencari jawaban yang tepat untuknya.

Bersambung

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here