Bodyguard with Love #37

0
237
views

Anton menghentikan laju motornya tidak jauh dari jarak mobil yang dikendarai Pasha. Melihat kakaknya menghentikan motor secara tiba-tiba sontak Pasha pun menghentikan mobil CR-V hitamnya.

“Ada apa Bang?” tanya Pasha melongkokkan kepalanya keluar tanpa berniat turun dari mobil.

Anton segera menghampiri Pasha. “Gue berubah fikiran, gue akan nyusul Dirga. Gue takut terjadi apa-apa padanya, suasana hati dia kurang baik gue takut dia bertindak gegabah.”

“Trus, apa yang harus gue lakukan Bang?” Tanya Pasha sedikit bingung.

“Elo langsung ke kalposek dan elo telpon Aviie suruh dia temui elo di kapolsek, urusan mobil Rindi belakangan. Ini bawa tanda pengenal gue supaya mereka percaya bahwa gue yang menyuruh elo, Paham?” Anton menyerahkan lencana dan tanda pengenalnya kepada Pasha.

“Ok Bang gue paham.”

“Ok.”

Mereka pun kembali berpisah. Anton berbelok kembali ke jalur jalan semula untuk menyusul Dirga.

****

Anton memarkirkan motornya agak jauh dari rumah kediaman Lucas. Matanya memperhatikan sekitar. Dari tempat kejauhan Anton hanya bisa melihat dua orang penjaga di bagian gerbang, mereka terlihat sedang berbincang.

Anton menyimpulkan bahwa Dirga sudah masuk kedalam rumah Lucas, terlihat dari motor milik Dirga yang terparkir diluar gerbang.

Anton duduk disebuah bangku depan kios pura-pura memesan minuman botol mineral. Otaknya berputar bagaimana caranya masuk ke rumah tersebut tanpa dicurigai.

Lucas adalah orang yang cukup berpangaruh dikalangan colega bisnis maupun musuh. Tak sedikit yang gencar ingin melenyapkan Lucas karena dililit dendam. Dalam berbisnis Lucas selalu mengandalkan kelicikkannya sehingga banyak musuh yang ingin melenyapkannya. Karena itu rumah Lucas tak luput dari penjagaan yang ketat, akan sulit jika masuk secara terang-terangan yang ada malah ditendang jika tidak memiliki alasan yang kuat untuk menemui di pemilik rumah.

Bibir Anton menyeringai, sebuah ide tiba-tiba berkelebat di otaknya, Anton bangkit dari duduknya menghampiri sebuah gerobak sampah yang cukup besar sedang ditarik oleh pria bertubuh ringkih paruh baya.

Sejak tadi Anton memperhatikan si tukang sampah keluar masuk rumah mewah untuk mengambil tong-tong sampah yang isinya ia pindahkan ke dalam karung di gerobaknya.

“Permisi pak.” Sapa Anton dengan ramah.

Si tukang sampah mendongkakkan wajahnya menatap heran ke arah Anton.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?”

“Begini pak saya sangat butuh bantuan Bapak…?”

Anton menjelaskan panjang lebar maksud tujuannya. Awalnya si Bapak tukang sampah menolak kerjasama yang ditawarkan Anton. Sedikit perdebatan dan iming-iming beberapa lembar uang meluluhkan si Bapak untuk menuruti keinginan Anton.

Anton membawa si Bapak tukang sampah ketempat yang sedikit tersembunyi tak berapa lama Anton kembali keluar dengan penampilan yang berbeda, perawakan Anton yang tinggi sedikit kurus tidak terlalu menggambarkan sosoknya sebagai seorang polisi, penampilannya sedikit mirip tukang sampah ditambah topi lusuh sebagai pelengkap penyamarannya, Anton menyembunyikan senjata api didalam salah satu karung sampah dan segera menjalankan aksinya.

“Sampah…!” Seru Anton.

Tak berapa lama pintu gerbang dibuka oleh salah seorang penjaga. Anton melangkah masuk tanpa dicurigai.

“Tunggu!”

Anton menghentikan langkahnya, berusaha bersikap setenang mungkin. “Iya Tuan.”

“Siapa kamu?” Tanya sang penjaga yang bertubuh tinggi besar.

“Saya Somad, Tuan,” jawab Anton menyamarkan namanya.

“Dimana Pak Ule? kenapa bukan dia yang mengangkut sampah?” tanyanya lagi, menatap tajam ke arah Anton.

Anton menundukkan kepala, wajahnya yang dilumuri sedikit tanah basah terlihat pura-pura takut. “Pak Ule sedang sakit Tuan, saya disuruh menggantikannya sementara.”

“Hm begitu! kau sudah tahu tempat pengambilan sampahnya?”

“Sudah Tuan, pak Ule memberitahu saya.”

Melihat sikap Anton yang ketakutan, akhirnya si penjaga menyuruh Anton melanjutkan pekerjaannya.

“Alhamdulillah,” gumamnya dalam hati.

Tanpa fikir panjang lagi Anton segera mendorong gerobak sampahnya menuju tempat dibagian belakang.

Anton sempat menghitung ada 6 penjaga sudah termasuk tukang kebun. Anton menyimpan gerobak sampahnya ditempat yang bebas dari sorotan cctv lalu mengambil senjata api yang disembunyikan di dalam karung. Dengan gerakan gesit Anton menyelinap masuk lewat dapur yang pintunya terbuka.

Dari kejauhan Anton bisa melihat Devan terhalang tubuh Rindi yang sedang disanderanya dan ditodong senjata api.

“Shit! dasar ceroboh,” umpat Anton saat melihat gerakkan Dirga melempar pisau ke tangan Devan yang memegang senjata. Namun hatinya sedikit memuji ketepatan Dirga mengenai sasaran lemparan pisaunya.

Rindi berlari ke arah Dirga, sejenak perhatian Dirga teralihkan ke arah Rindi. Devan melihat Dirga sedikit lengah dan langsung dimanfaatkan Devan untuk meraih kembali senjata api yang terlempar dengan gerakkan cepat.

Disaat hitungan terakhir mundur Rindi berlari keluar, bertepatan dengan Devan dan Dirga meletuskan sama-sama tembakkannya.

Tembakan Devan tepat mengenai dada Dirga yang mencoba menghalangi lesatan peluru panas yang diarahkan pada Rindi, sedangkan tembakan Dirga mengenai Bahu Devan.

Lucas yang berada didekat putranya naik pitam melihat Devan tertembak, tangannya merebut senjata yang dipegang Devan bermaksud menembak kembali Dirga namun tanpa disadari Lucas, Anton keburu menembak tangannya dari arah belakang.

****

Suara tembakkan tiga kali menghentikan langkah lari Rindi.

“Dirga,” gumamnya.

Rindi membalikkan tubuhnya kembali berlari ke arah rumah.

“Rindi tunggu…!”

Gadis itu tidak menghiraukan teriakkan Aviie yang sudah tiba bersama Pasha, bersamaan para polisi berhamburan dari mobil membekuk para penjaga.

“Dirgaaa …!” Rindi menjerit histeris melihat Dirga ambruk sambil memegang dadanya yang bersimbah darah.

Rindi segera menggabrug tubuh Dirga, meletakkan kepala Dirga di pahanya.

Aviie dan Pasha mematung ditempat dengan mata membelalak melihat Dirga terkapar.

“Pasha cepat telpon ambulan!” seru Anton sambil membawa Lucas keluar.

Pasha tersadar, segera merogoh saku celana mengambil iphonenya.

“Tetaplah bersamaku, jangan kau pejamkan matamu…” ucap Rindi disela raungan tangisnya.

Dirga berusaha membuka matanya agar tetap terjaga, meskipun dadanya dirasa semakin sesak, Dirga berusaha menahan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya.

Tangannya terulur menyentuh wajah Rindi. Rindi segera meraih tangan Dirga yang berlumuran darah bekas menekan dadanya yang tertembak. Rindi meletakkan tangan Dirga di pipi diantara linangan air mata yang semakin deras mengalir, tak peduli darahnya yang menempel di wajah.

“Ma-maafkan a-a-ku ti-tidak bisa menepati jan-janjiku.” lirih Dirga nampak kesulitan. Wajahnya Sekali-kali meringis menahan sakit, bahkan darah kental mulai mengalir di sudut bibirnya.

“Jangan katakan apapun, ku mohon bertahanlah, tepati janjimu, kumohooon …!”

Tangan Dirga melemas, matanya mulai meredup, “Aku mencintaimu Ratu Eka Rindiya-”

“Bangun Dirga! Banguuun …! Jangan pejamkan mata kamu. Lihat aku! lihat aku sudah memenuhi hikmah dari buku yang kau berikan. Ingat Dirga, kerudung pernikahan menunggu untuk kau pasangkan di kepalaku, kau dengar Dirga?” Rindi tak berhenti berbicara agar Dirga tetap terjaga dan mendengar suaranya.

Dirga tersenyum, matanya sudah tidak mampu lagi untuk dibuka, daya tubuhnya semakin melemah.

“Dirga, Dirgaaa …!!”

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Ending

Kembali ke halaman #36

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaCinta yang Tertunda #11
Berita berikutnyaLove Story Anhi #24
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here