Bodyguard with Love #36

0
2215
views

“Dirga tunggu!” teriak Pasha dan Anton berusaha mengejar Dirga yang setengah berlari menuju motornya.
Dirga sama sekali tidak menghiraukan seruan Pasha dan Anton.

“Dirga, gue bilang tunggu!” ujar Pasha mencekal tangan Dirga.

“Tidak ada waktu lagi,” timpal Dirga dengan wajah beringas penuh kemarahan.

“Dengarkan dulu! gue minta sebaiknya elo langsung ke rumah Lucas, gue yakin Devan membawa Rindi ke rumahnya. Biar gue yang ke tempat Aviie”

“Yang dikatakan Pasha betul, elo langsung ke rumah Lucas, Pasha ke tempat Aviie dan gue ke kapolsek untuk menyiapkan anak buah. Kasus ini bertambah dengan adanya penculikkan dan harus segera dituntaskan, elo paham?” Papar Anton menjelaskan detailnya agar Dirga memahami tindakan selanjutnya, lebih cepat bertindak lebih baik.

“Baik. Gue butuh senjata api.”

“Ingat elo bukan pembunuh, elo cukup melumpuhkannya saja, itupun jika situasi elo terdesak. Ini bawalah!” Anton memberikan senjata apinya yang tersampir di dada kiri tertutup jaket, sekaligus memperingatkan Dirga agar tidak gegabah, mengingat hati Dirga sedang bergejolak dibakar amarah.

Setelah menyusun strategi dengan jelas ketiganya memisahkan diri.

Dengan kecepatan tinggi Dirga melajukan motornya menuju kediaman Lucas.

****

Devan memasuki kamar dimana Rindi berada. Devan mengernyitkan dahi, tidak melihat Rindi berada di kamarnya

Buukkhh

“Aarrgghh….”

Tiba-tiba sebuah hantaman benda tumpul di punggung Devan membuat pemuda itu tersungkur. Melihat Devan ambruk, Rindi yang bersembunyi di belakang pintu buru-buru berlari keluar kamar setelah memukul Devan dengan tongkat basebal milik Devan. Rindi dengan kalut mencari pintu atau jendela untuk jalan keluar, namun semua terkunci.

“Aahhkk …!!” Rindi terpekik saat ada tangan besar mencekalnya kuat.

“Tolong lepaskan aku! aku ingin pulang.” Pinta Rindi dengan nada memohon.

“Jangan lepaskan dia pah?” teriak Devan, sudah bangkit dari tersungkurnya. Devan menghampir Rindi dengan langkah sedikit terhuyung menahan sakit di punggungnya.

“Lepaskan gadis ini Devan! biarkan dia pulang!” bentak Lucas.

“Tidak pah! aku tidak akan melepaskan dia sebelum kami menikah,” kukuh Devan, bertahan pada pendiriannya.

Lucas menggeram marah menghadapi kekerasan kepala putranya.

Sayup-sayup Lucas mendengar suara keributan diluar rumahnya, tepatnya diluar gerbang.
Lucas segera pergi keluar meninggalkan Rindi. Devan langsung menyeret Rindi kembali ke kamar.

Dirga sedang beradu mulut dengan dua orang penjaga rumah Lucas. Pemuda itu meminta baik-baik pada penjaga untuk membukakan pintu gerbang, namun kedua penjaga itu tidak memenuhi permintaan Dirga, malah sebaliknya mengusir Dirga.

Disaat Dirga mulai naik pitam, Lucas datang dengan kernyitan di dahinya, dan keributan pun berhenti. Dirga menatap tajam ke arah Lucas, begitu pula Lucas menatap intens ke arah Dirga.

“Ada apa kalian ribut-ribut?” tanya Lucas dengan suara beratnya. Tatapannya masih tertuju ke arah Dirga.

“Maaf tuan pemuda ini-”

“Kau masih ingat denganku?” tanya Dirga memotong ucapan si penjaga.

Lucas sedikit terhenyak mendengar ucapan Dirga. “Dirgantara,” jawabnya.

“Syukurlah kau masih ingat tuan Lucas,” timpal Dirga penuh penekanan, tatapannya masih tajam.

“Buka gerbangnya!” perintah Lucas, langsung dituruti tanpa menunggu perintah kedua kali.

“Masuklah Dirga, kau tamu kehormatan saya,” ucap Lucas menampakan senyum ramah, tepatnya pura-pura ramah.

Dirga melangkah masuk, raut wajahnya dingin, sama sekali tidak terpengaruh keramahan yang ditunjukkan Lucas.

“Mari ikut saya!”

Dirga mengikuti Lucas memasuki rumah, matanya memperhatikan area sekitarnya.

“Silahkan duduk, kita berbincang sejenak.”

“Saya tidak suka basa-basi.”

Lucas terkekeh, hatinya mengakui keberanian Dirga datang kerumahnya, bahkan pemuda itu terlihat seperti diselubungi api kemarahan, sorot matanya begitu tajam bagaikan mata pedang menunggu ditebaskan.

“Dirga.”

Dirga melirik ke arah suara yang menyebut namanya. Tanpa ba bi bu Dirga langsung menyerang Devan, mendorong Devan membentur dinding tembok. Lengannya menekan leher Devan. “Dimana Rindi? jawab…!” Bentak Dirga dengan wajah merah padam.

“Le-lepaskan leher gu-gue!”
Devan kesulitan bernafas, karena lehernya ditekan Dirga.

“Lepaskan dia Dirga! dan kau Devan apa hubungan Dirga dengan gadis yang kau bawa?”

Wajah Devan semakin memerah dan semakin sulit bernafas “Ka-kau bisa membunuh gue.” Ucapnya dengan susah payah.

Dirga sedikit melonggarkan tekanan lengannya pada leher Devan. “Katakan dimana Rindi?”

“Gu-gue tidak akan memberitahukan- aahhkk…!”

Dirga kembali menekan leher Devan lebih kuat dari tadi.
“Katakan …!!” teriak Dirga semakin kencang.

“Dirga saya bilang lepaskan dia! Gadis itu ada disini. Devan bawa dia kemari!”

“Pah-”

“Turuti perintahku!” bentak Lucas mulai emosi.

Devan pergi setelah Dirga melepaskan tekanan di lehernya.

Tak berapa lama Devan kembali bersama Rindi, namun kali ini Devan membawa sebuah senjata api di tangannya.
“Dirga …!!” teriak Rindi, hendak berlari ke arah Dirga namun lengannya dicekal kuat oleh Devan.

Dirga berang melihat Devan membawa senjata dan menahan Rindi, Aura hitam seakan menyelubungi tubuhnya. Dirga menghampiri Rindi namun langkahnya di tahan Lucas. “Berhenti!”

Dirga menoleh ke arah Lucas dengan wajah murka.

“Devan kemari bawa gadis itu!”

Devan mengangguk menuruti perintah ayahnya.

“Sepertinya kau mencintai gadis ini, apa betul, Dirga?” Ujar Lucas begitu santai untuk situasi yang tegang.

“Bukan urusanmu,” jawab Dirga dengan nada sengit.

Lucas terkekeh, membuat Dirga muak mendengarnya.
Devan menyeringai licik merasa terlindungi oleh ayahnya.

“Saya tahu kamu sangat mencintai gadis ini. Jika kamu ingin gadismu kembali, bagaimana kalau kita-” Lucas menjedakan kalimatnya, “kita buat kesepakatan,” lanjutnya.

Dirga mulai mencium gelagat licik pada Lucas. “Apa yang kau inginkan?”

“Devan, ambil dokumen di brankas papah!”

“Baik pah.” Devan menyerahkan Rindi juga senjata apinya pada papahnya.

Dirga menangkap ketakutan yang dalam di mata Rindi, Dirga sekuat mungkin menahan aksinya, agar tidak gegabah, mengingat di rumah ini banyak penjaga yang cukup berbahaya, ditambah Lucas memegang senjata api.

Devan kembali dengan membawa beberapa dokumen di tangannya, lalu menyerahkannya pada Lucas. Devan kembali mengambil alih memegang Rindi dan senjatanya.

“Duduklah kita berunding baik-baik.”

Dirga duduk dihadapan Lucas yang sedang membuka beberapa MAP berisi dokumen. “Saya ingin kamu menandatangani dokumen ini. Setelah kamu tanda tangani kamu boleh membawa gadis itu, saya janji tidak akan ada kekerasan, kau bisa keluar dari rumah ini dengan aman. Pegang janji saya.” Lucas menyerahkan satu lembar dokumen untuk dilihat Dirga.

“Dokumen-dokumen ini perlu tanda tangan pewaris asli dari keluarga Pamungkas, dan kebetulan kau ada disini. Bukankah itu mudah?”

“Jangan Dirga! jangan kau tanda tangani dokumen itu. Ingat itu milik keluargamu,” seru Rindi memperingatkan Dirga.

“Sayang, jika kekasihmu tidak menanda tangani dokumen ini, ada kemungkinan kau tidak bisa bertemu lagi dengan kekasihmu ini.”

“Aku tidak peduli, tolong Dirga dengarkan aku! jangan kau turuti orang-orang serakah ini.”

“Diamlah Rindi, ikuti saja permainan ini sayang.” bisik Devan di telinga Rindi, membuat Rindi bergidik jijik mendengarnya.

“Aku akan menanda tanganinya.”

Lucas terkekeh. “Bagus, pilihan yang tepat, ini bolpoinnya.”

“Tidak perlu saya membawa sendiri.” Dirga melirik ke arah tangan Devan yang memegang senjata api. Dirga merogoh saku jaket bagian dalam, dan …

“Aahhkk….”

Tanpa berfikir panjang Dirga tiba-tiba melempar pisau lipat tepat di tangan Devan yang memegang senjata, hingga senjata api yang digenggamnya terlempar jauh.

Rindi terpekik kecil langsung berlari ke arah Dirga dan bersembunyi dibelakang tubuh pemuda itu.

“Kurang ajar, kau melukai putraku.” Gerutu Lucas dengan gigi gemeletuk menahan marah.

Devan terkapar sambil meringis menahan sakit di tangannya akibat lemparan pisau Dirga, tangan satunya berhasil meraih senjata api yang tadi terlempar dan langsung menodongkannya ke arah Dirga.

Dirga mengeluarkan juga senjata api yang disembunyikannya dari tadi dan mengacungkan senjata api itu ke depan untuk berjaga-jaga.

“Dirga aku takut.”

“Kau aman bersamaku, kita akan keluar dari rumah ini.”

“Dokumennya Dirga?” bisik Rindi.

“Itu urusan nanti, kau harus keluar dulu dari rumah ini. Aku hitung mundur, dalam hitungan terakhir lari lah keluar.”

“Bagaimana denganmu?” ucap Rindi dengan nada khawatir.

“Jangan khawatirkan aku, pergilah!”

“Berjanjilah kau akan selamat.”

“Aku janji, bersiaplah! 3, 2.”

“Rindi …! kau tidak akan bisa lari dariku…!” Seru Devan sambil menodongkan senjata apinya.

“Lari Rindiiii …!!” teriak Dirga.

Dirga melihat Devan menarik pelatuk. Dengan gerakan cepat Dirga menghalangi tubuh Rindi yang mulai berlari dari sasaran tembakan senjata api Devan.

Dor

Dor

Dor

Suara tiga kali tembakan menghentikan lari Ratu Eka Rindiyani, seiring raungan sirine mobil polisi mulai datang.

“Dirga.” Gumamnya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #35

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here