Bodyguard with Love #33

0
328
views

Rindi dengan tidak sabar membuka surat dari Dirga.

Dear Ratuku

Assalamu’alaikum
Dengan Adanya surat ini, mewakili ketidak beradaanku disisimu untuk mengungkapkan semua tentang perasaanku yang sesungguhnya terhadapmu.
Usiamu kini genap 24-tahun, dimana kedewasaan mulai menuntunmu dan menuntutmu menuju jalan yang lebih baik.

Ratuku
Aku tidak tahu harus memberimu kado apa? hanya sehelai kerudung Pashmina putih untuk kau pakai di pelaminan nanti.
Dan sebuah buku panduan agar kau bisa mengambil hikmah dan mempelajari makna dari isi buku itu yakni agar kau menjadi wanita yang mulia di mata RobbNya.

Rindiyani
Do’aku akan selalu tetap mengalir untukmu, sampai nafas terakhirku. Ku harap kau akan menjadi Bidadari surgaku kelak.

Rindi menghentikan sejenak membaca suratnya, matanya tak kuasa menghentikan tetesan air yang mengalir di pipinya. “Ya Allah Dirgaku, aku mencintaimu.”

Sayang
Saat ini aku sedang berada jauh dari sisimu, saat ini pula aku sedang melakukan sebuah tugas yang harus segera kuselesaikan. Apa pun yang terjadi padaku jangan pernah menangisinya.
Aku tahu kau sedang berjuang mencari Ridho Allah dengan hijrah menuju jannahmu.
Teruslah berjuang walau tanpa kehadiranku disisimu.

Maafkan aku jika suatu saat aku tak bisa menepati janjiku.
Semoga Allah senantiasa memberimu keselamatan dan kebahagiaan.

Assalamu’alaikum
Dirgantara.

Rindi mendekap erat surat dari Dirga. “Kau harus menepati janjimu. Aku akan menunggumu.”

****

Suasana kediaman rumah Anna sedikit ramai dengan kedatangan rombongan kecil keluarga Rizal Surya Abdullah.
Sesuai janji Rizal beberapa hari yang lalu akan datang melamar sang pujaan.

Kedua orang tua Anna menyambut gembira kedatangan tamu istimewanya. Wajah-wajah mereka menggambarkan suka cita, berbanding terbalik dengan gambaran wajah cantik Anna yang diselimuti mendung kedukaan.

Beberapa hari yang lalu, setelah pertemuan terakhirnya dengan Dirga sepulang dari rumah Rindi dan dijemput oleh Rizal. Anna tanpa berfikir panjang lagi menerima niat tulus Rizal untuk segera mengkhitbahnya.

Tak ada harapan lagi baginya untuk Dirga, semua pupus saat Dirga mengungkapkan isi hatinya untuk Rindi.
Anna berharap jalan yang dipilihnya menerima tawaran manis Rizal dapat dijadikan menawar pil pahit yang ditelannya.

Anna menghapus air matanya, lalu mengukir senyum, berharap kegundahan yang terpancar diwajahnya dapat tersamarkan dengan senyum manisnya.

“Sayang, ayo temui keluarga Rizal, mereka ingin bertemu sama kamu.” Bunda Sahira melongokkan wajahnya dibalik pintu.

“Iya bun, Anna akan segera kesana.”

“Jangan lama-lama ya sayang?”

Anna mengangguk. Setelah kepergian bundanya, Anna memejamkan mata sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam. “Bismillah, semoga ini yang terbaik untukku.”

Rizal mendongkakkan kepalanya saat Anna telah berdiri di antara mereka.

“Assalamu’alaikum abi, umi.” Salam Anna sambil menghempaskan pantatnya di sofa samping bundanya.

“Wa’alaikumsallam.” balas kedua orang tua Rizal.

Sejenak mereka berbincang diselingi canda untuk menetralkan suasana yang sedikit cangguh, sedang Rizal dan Anna hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan sepatah kata, namun hati mereka saling bersahutan.

Setelah merasa cukup basa basinya. Abi Anwar Abdullah mengemukakan pokok kedatangannya.
“Jadi inti kedatangan kami yaitu hendak menyambung silahturahmi dan silahturahim antara kita dengan menyatukan dua keluarga dalam ikatan pernikahan antara putra putri kita.” Jeda sejenak, “Bagaimana Nak Anna, apakah Anna menerima tawaran kami untuk dilamar oleh putra kami Rizal.” sambungnya.

Semua mata memandang ke arah Anna yang menunduk menyembunyikan wajah malunya.

“Sayang, tolong jawab pertanyaan abi Anwar,” ujar bunda Sahira dengan suara lembut.

“Nak Anna tidak usah khawatir, tidak ada pemaksaan dari permintaan kami. Anna bebas mengemukakan keberataan atau menolak keinginan kami.” Suara umi Salamah tak kalah lembutnya dengan bunda Sahira.

Tiba-tiba Anna mengangguk. “In syaa Allah Anna menerima untuk dilamar bang Rizal,” lirihnya.

Rizal yang sudah merasakan takut harapannya ditolak, menarik nafas lega begitu mendengar jawaban Anna, hatinya pun langsung jedar jeder penuh kegembiraan yang tertahan.

“Alhamdulillah.” Ucapan Hamdallah dari seisi rumah. Obrolanpun semakin berlanjut menentukan tanggal, hari dan bulan untuk pernikahan Rizal dan Anna.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #32

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here