Bodyguard with Love #30

0
308
views

Dalam perjalanan pulang, sehabis perayaan sederhana ulang tahun Ratu Eka Rindiyani di rumah mewahnya, Anna terlihat murung, wajahnya tidak menampakan keceriaan sedikitpun, sebagaimana orang-orang sehabis pulang dari acara gembira.

Malam ini Dirga mengantarkan pulang Anna sekaligus Riris adiknya. Raut wajah Riris begitu gembira berbanding terbalik dengan raut wajah Anna yang murung, seakan menyimpan kesedihan mendalam.

Dirga melihat Riris di kaca spion depan sedang senyum-senyum sendiri, matanya tak lepas dari layar ponsel, dimana ponselnya itu memperlihatkan berbagai gaya foto selfie dan foto moment acara ulang tahun Rindi berlangsung. Sekali-kali terdengar kekehan kecil dari mulut Riris.
Dirga hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu.

Dirga kembali melirik ke arah Anna yang duduk disampingnya. gadis itu seolah tidak terusik dengan suara-suara yang ditimbulkan Riris. Anna menatap ke arah luar jendela kaca mobil disebelahnya.

“Anna,” panggil Dirga.

Gadis itu bergeming, sama sekali tidak mendengar panggilan Dirga.

“Anna,” panggilnya lagi, kali ini sambil menyentuh tangan Anna, gadis itu terhenyak, dan langsung menoleh ke arah Dirga.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Dirga hati-hati.

“I-iya aku baik-baik saja.” jawab Anna tanpa ekspresi. Matanya kembali memandang ke arah jendela kaca mobil disampingnya.

“Tapi aku tidak melihat kau baik-baik saja,” ucap Dirga.

“Itu hanya perasaan bang Dirga saja.” Anna menunduk menatap jari-jarinya yang sedang ia permainkan.

Dirga menghentikan mobilnya tepat di depan gang, jalan menuju rumahnya.
Riris terlebih dahulu turun, disusul Anna dan Dirga.

Dirga mencekal tangan Anna saat gadis itu hendak melangkah, “Anna!”

Tubuh Anna berbalik menghadap Dirga. Riris yang baru beberapa langkah kembali berhenti dan langsung melihat ke arah Anna dan kakaknya. Dahi gadis itu mengernyit, “sepertinya mereka sedang tidak baik-baik saja,” gumamnya.

“Bang Dirga, kak Anna, Riris duluan ya…!” serunya, dan segera melanjutkan langkahnya setelah mendapat anggukkan dari Dirga.

“Anna, bicaralah padaku, ada apa denganmu?”

Anna menunduk sambil menggelengkan kepalanya, “Aku tidak apa-apa bang.”

“Jangan bohong! perubahanmu sangat mencolok, aku tidak akan tenang sebelum kau menceritakan apa yang terjadi denganmu?” desak Dirga, matanya menangkap cairan bening menggenang di pelupuk mata Anna.

“Sungguh tidak ada apa-apa?” elak Anna, tetap pada pendiriannya.

Dirga menghela nafas, tiba-tiba tangannya menarik Anna ke dalam pelukkannya, sikap Dirga membuat air mata Anna mengalir deras, dan akhirnya Anna menumpahkan semua air mata yang menyesakkan dadanya dipelukkan Dirga.

Pemuda itu membiarkan Anna terpuaskan dulu menangisnya. Hati Dirga sebenarnya sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan gadis yang ada dipelukannya. Hanya saja Dirga menunggu Anna berterus terang dari mulut Anna sendiri.

Anna melepaskan diri secara perlahan dari pelukkan pria yang dicintainya dalam diam.

“Maafkan Anna bang Dirga, Anna tidak bermaksud membuat bang Dirga bingung dengan sikapku yang kekanak-kanakkan.” Kata Anna disela-sela sedu sedannya.

“Jujurlah padaku apa yang kau rasakan? berbagilah bebanmu denganku, jangan dipendam sendiri, setidaknya bisa membuat hatimu lebih baik.”

“Bagaimana bisa aku berbagi beban denganmu, sedangkan kaulah sumber dari beban itu sendiri bang Dirga.” Bisik hati Anna.

“Sebaiknya aku pulang, sudah terlalu malam.” Anna mengalihkan pembicaraan.

“Baiklah, Aku antar kau pulang!” ajak Dirga, sambil meraih tangan Anna, namun Anna melepaskannya dengan lembut.

“Tidak usah, sebentar lagi bang Rizal menjemputku.”

“Rizal…? bagaimana Rizal tahu kau ada disini?”

“Maaf bang Dirga, tadi sebelum pulang, Anna menghubungi bang Rizal untuk minta dijemput disini pukul 8.30 malam ini.”

Dirga manggut-manggut mengerti. “Kau hubungan dengan Rizal?” tanya Dirga tiba-tiba.

Pertanyaan spontan Dirga membuat Anna membeku sesaat, entah dorongan dari mana kepala Anna tiba-tiba mengangguk.

Dirga tersenyum melihat Anna mengakui pertanyaan yang dilontarkannya, meskipun hanya dengan anggukkan kepala.

“Apakah itu yang membuatmu menangis? kau merindukan Rizal?” tanya Dirga, meskipun pertanyaannya hanya sekedar formalitas saja.

Ingin rasanya Anna menjerit saat ini juga, “aku hanya merindukanmu bang Dirga, namun aku tak kuasa mengakuinya. Ragamu ada begitu dekat denganku namun hatimu tidak, aku mencintaimu, namun cintamu bukan untukku, biarlah aku pendam sendiri cinta ini, tak perlu kau tahu tangis hatiku, cukup aku saja yang merasakan sakitnya memendam cinta.”

“Assallamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsallam.” jawab Anna dan Dirga bersamaan.

“Kalian sudah lama menunggu?” tanya Rizal melempar senyum ke arah Anna yang menunduk menyembunyikan mata sembabnya.

“Tidak terlalu lama.” timpal Dirga.

“Bang Dirga, Anna pulang dulu assalamu’alaikum.” Tanpa menunggu jawaban dari Dirga Anna beranjak pergi.

“Dirga, saya pamit duluan, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumssallam.”
Dirga menatap kepergian dua insan itu.

“Semoga kau mendapat kebahagiaan Anna, dan semoga Allah menjodohkan kalian. Aku tahu kau mencintaiku Anna! maafkan aku tidak bisa membalas cinta sucimu.”

Perasaan bersalah menyelimuti ruang hati Dirga, pemuda itu tahu tentang perasaan Anna dan apa yang dirasakan gadis itu.

Dirga tahu bahwa Anna mencintainya, namun Dirga memilih diam, ia tidak kuasa menyakiti gadis sebaik Anna, Dirga tidak bisa membohongi hatinya bahwa ia menyayangi Anna sebagaimana ia menyayangi adiknya.
Dirga tidak ingin mencintai Anna dan menerima Anna dengan kebohongan, karena cinta dalam kebohongan akan lebih menyakitinya.

Rizal membawa harapan bagi Dirga, semoga Anna bisa menerima Rizal dan mencintai Rizal. Semoga Cinta di hati Anna untuknya tergantikan oleh Rizal.
Semoga dan semoga seiring waktu yang akan menjawab.

****

Rindi menyambangi kamar papahnya, setelah mengetuk pintu kamar dan mendapat sahutan dari dalam, Rindi memasuki kamar itu.
Rindi segera menaiki tempat tidur dimana papahnya sedang duduk bersandar dikepala tempat tidur.
Tangan Ridwansyah sibuk mengutak atik laptopnya.

“Papah sibuk ya?” tanyanya.

“Tidak sayang, papah cuma memasukan beberapa data yang tertinggal.”

“Oh.” Jawab Rindi singkat, sambil menyandarkan kepala di bahu papahnya

“Ada apa? ada yang ingin kau bicarakan, hm?” tanya Ridwansyah sedikit heran dengan kedatangan Rindi ke kamarnya.

“Engga juga sih! cuma-”

“Cuma apa?” Ridwansyah menghentikan kegiatannya, lalu menutup laptop dan menyimpannya di nakas disamping tempat tidurnya.

“Tentang Dirga?” tebak Ridwansyah.

Rindi mengangguk agak malu-malu.

Ridwansyah terkekeh melihat sikap putrinya yang mendadak seperti anak kecil. “Katakan pada papah ada apa antara kamu dengan Dirga?”

“Ini tentang Dirga saja pah, bukan Rindi sama Dirga.” Sergah Rindi.

“Oh iya? papah ralat pertanyaannya. Ada apa dengan Dirga?”

“Hmm… papah kan sudah kembali ke rumah, itu berarti-” jeda sejenak, “itu berarti tugas Dirga sudah selesai dong pah?”

Ridwansyah mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya, sayang, bisa dikatakan begitu.”

“Itu berarti Dirga akan pergi dari rumah ini?”

“Hei, sepertinya papah mendengar ada nada kesedihan dari bicaramu? bisa kamu jelaskan ada apa diantara kalian? bukankah ini menyangkut Dirga saja bukan tentang kalian?”

“Jika Rindi jujur sama papah, papah tidak akan marah, kan?” Rindi menatap nanar wajah sang papah.

Ridwansyah mengerutkan dahi heran dengan sikap putrinya yang dirasa sedikit aneh. “In syaa Allah papah tidak akan marah, asal kamu jujur sama papah.”

“Rindi mencintai Dirga pah, Rindi tidak ingin jauh darinya.”

Ridwansyah mematung mendengar penjelasan dan kejujuran putri sematang wayangnya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #29

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaLove Story Anhi #17
Berita berikutnyaDilema Cinta #09
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here