Bodyguard with Love #29

0
387
views

“Aviieee… elo apaan sih? ngapain juga lo tutupin mata gue?” protes Rindi, seakan tidak rela matanya ditutup paksa oleh selembar kain syal.

“Bisa diem ngga sih elo bentaran? nurut sama gue sekali ini aja!” bentak Aviie sedikit sewot dengan sikap protes Rindi.

“Maksud elo apaan coba make tutup mata gue segala?”

“Kalau bukan supraise, buat apa gue tutup mata elo, udah deh jangan banyak protes, pokoknya gue punya kejutan buat elo, janji lo ya jangan dicopot itu tutup mata!”

“Ok, gue nyerah, serah elo deh Viie!”

“Nah gitu doong, nurut ke dari tadi, kagak usah bikin gue sewot dulu.”

Akhirnya Ratu Eka Rindiyani pasrah mengikuti permainan Aviie Owsam. Seharian sahabatnya itu membuat hatinya super dongkol, dari pagi ia mesti mengikuti Aviie ngukur jalan alias jalan-jalan tak tentu tujuan, keluar masuk mall tanpa ada yang dibeli dengan alasan tak ada yang cocok. Sekalinya ada yang cocok, mesti tawar menawar dengan seorang pelayan, membuat Rindi harus tutup muka pake kardus agar tidak malu jadi tontonan orang.

Setelah mendapat yang diinginkan, tanpa belas kasihan, Aviie tak menghiraukan keinginan Rindi membeli sesuatu yang diinginkan, dengan alasan waktunya sudah habis dan harus segera pulang, Rindi benar-benar rasanya ingin mencekik sahabatnya itu.

Dan kini, dongkolnya semakin bertambah, entah apa rencana Aviie, mengharuskan matanya ditutup dan membawanya kembali pulang ke rumahnya.

Rindi hanya bisa merasakan tanpa bisa melihat dan mesti menajamkan pendengarannya untuk beradaptasi dengan ruang geraknya.

“Ayo turun, gue tuntun elo sampai masuk rumah,” ajak Aviie meraih tangan Rindi.

“Gue gak habis fikir sama elo Viie, tega banget bikin mata gue kaya buta beneran.”

Aviie terkekeh menanggapi gerutuan sahabatnya, sambil terus menuntun Rindi dan mengarahkan langkahnya agar tidak tersandung.

Rindi mengandalkan pendengarannya dari setiap suara yang ditimbulkan oleh gerakkan Aviie. Suara pintu rumah dibuka, aroma khas ruang tamu menandakan mereka sudah berada di dalam ruangan.
Namun Rindi mencium aroma lain selain aroma ruangan tamu di rumah miliknya.

“Sudah sampai honey!” Aviie membuka penutup mata Rindi.

Gadis itu mematung dengan kernyitan di dahinya. “kok gelap sih? apanya yang mesti gue lihat Viie?”

Selesai Rindi bicara, lampu tiba-tiba menyala, “Tralalaaaa….!”

“Supraise….!”

Mata Rindi terbalalak, jari lentiknya menutup mulutnya yang menganga lebar, matanya mulai berkaca menahan haru.

“Happy Birthday honey, semoga elo semakin berfikir dewasa jangan jaim melulu dan buru-buru dapet jodoh biar gue cepet-cepet nyusul elo.” Cerocos Aviie sambil memeluk Rindi.

“Happy Birthday kak Ratu.” Riris memeluk erat Rindi.

“Terima kasih Riris,” ucap Rindi dengan suara bergetar menahan haru.

“Barokalloh fii umrik kak Ratu, semoga di hari istimewa ini mendapat keberkahan dunia dan akhirat.” Giliran Anna memeluk Rindi.

“Aamiin, terima kasih banyak Anna.”

“Papah…!” Rindi memeluk erat papahnya dan menumpahkan tangis haru dipelukkan sang papah.

“Selamat hari lahir sayang, semoga di usiamu ini menjadikan kamu semakin dewasa dan membawa langkahmu menuju kebahagiaan yang kau inginkan.” Ridwansyah mencium kening putrinya.

“Kenapa papah tidak bilang sama Rindi kalau papah sudah pulang?”

“Papah ingin memberimu kejutan di hari ulang tahunmu.”

“Ini semua ide siapa? kenapa Riris dan Anna ada disini?”

“Dirga….!” semuanya kompak menunjuk ke arah Dirga yang sedari awal hanya memperhatikan moment haru biru yang tercipta di depannya.

Semua memandang Dirga seakan menunggu penjelasan dari mulut Dirga tak terkecuali Rindi. Dirga hanya mengedikkan bahu saja.

Acara ulang tahun Rindi yang terkesan sederhana namun membawa kebahagiaan dan keharuan luar biasa bagi Rindi, moment ulang tahun yang di rasa mati baginya sejak kepergian mamah tercinta, kini seakan hidup kembali dan membawa lembaran baru untuknya.

****

“Kenapa kau ada disini?”

Dirga menoleh ke arah Rindi yang berjalan kearahnya.

“Kenapa kau kemari? seharusnya kau berada disana berbahagia bersama mereka?”

“Aku tidak melihatmu disana, jadi aku mencarimu kesini. Kenapa kau lakukan ini?”

“Aku memberimu kesempatan untuk merayakan kembali kebahagiaan yang sempat hilang bersama mereka.”

“Kau sengaja membawa Riris dan Anna kemari?”

“Adikku lebih tahu tentangmu, dia yang memberi tahu tentang hari lahirmu, Riris dan Anna ingin bertemu denganmu untuk mengucapkan ulang tahun jadi aku merencanakan kejutan ini, dan kebetulan sekali om Ridwan pulang hari ini, aku sengaja tidak memberi tahumu, untuk menambah acara kejutannya.”

“Dan kejutanmu sukses membuatku terharu dan…!”

“Dan…?”

“Dan… Aku sangat bahagia sekali, ini acara yang paling istimewa buatku, setelah acara ulang tahunku yang terakhir merenggut nyawa mamah.”

Rindi mulai terisak, “Aku merindukan mamah.”

Dirga menarik Rindi kedalam pelukkannya, “aku memberimu acara kejutan ini bukan untuk mengingatkanmu dalam kesedihan, jadi… hentikan tangisanmu!”

Rindi mengentikan tangisnya, dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada Dirga, “apa kau akan meninggalkanku?”

Dirga melepaskan pelukkannya, “tugasku menjagamu sudah selesai, papahmu telah kembali, aku tak punya hak lagi untuk menjagamu.”

“Jika aku memintamu untuk terus menjagaku, apa kau bersedia?”

“Aku rasa kau tak membutuhkan seorang Bodyguard lagi?”

“Aku memang tak membutuhkan seorang Bodyguard, aku hanya menginginkanmu untuk tetap ada disini.”

“Tempatku bukan disini, dan aku memiliki sebuah tugas yang belum selesai dan secepatnya harus segera ku selesaikan.”

“Tugas apa itu? apa lebih penting dari permintaanku?” tanya Rindi dengan rasa penasaran.

“Ini tentang nyawa dibayar nyawa.” jawab Dirga, matanya berkilat aneh, sejenak Rindi tertegun.

“Bolehkah aku meminta dan sedikit memaksa?” Rindi menatap mata Dirga dengan tatapan sendu.

“Katakan apa permintaanmu?” Dirga membalas tatapan Rindi.

“Jika tugasmu selesai, berjanjilah kau akan kembali untukku.”

Dirga menarik nafas berat, “aku janji akan kembali untukmu.”

Dirga kembali memeluk Rindi, “Kau tahu? aku tidak bisa menyimpan lebih lama lagi, bahwa aku….”

“Aku apa…?” lirih Rindi.

“Aku mencintamu.” ucap Dirga.

****

Dibalik pintu, sepasang mata mengalirkan airnya, Anna menekan dadanya yang dirasa begitu sakit, melihat kebersamaan dan mendengar kalimat terakhir Dirga.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #28

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaDilema Cinta #08
Berita berikutnyaLove Story Anhi #16
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here