Bodyguard with Love #26

0
311
views

“Rassulullah sallallaahu’alaihi wa’sallam bersabda bahwa orang yang pandai membaca Al-Quran akan bersama Rosull dan waliullah, adapun yang membaca Al-Quran dengan tersendat-sendat karena kesulitan membaca Al-Quran maka ia mendapat dua pahala. Marilah kita hidupkan gerakan satu hari satu Juz, kalau berat satu hari satu ruku, sesungguhnya Allah akan menolong orang yang menolong agamanya.
Nah jadi kalian harus pandai-pandai membaca Al-Quran sesuai dengan kemampuan kalian dan ingat Allah akan menolong kalian jika dalam kesulitan, faham…!”

“Fahaaamm kak Anna..” kompak suara anak-anak yang sedang belajar bersama Anna Afroutunisza.

“Baiklah anak-anak cukup untuk pelajaran hari ini, Insyaa Allah besok kita lanjut lagi belajar tentang lebih mengenal pentingnya menghapal Al-Quran, kak Anna sudahi hari ini ya Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatu.”

“Wa’alaikumssallam warohmatullahi wabarokatu..”

Anak -anak berhamburan keluar setelah mencium punggung tangan guru ngajinya. Setelah semua anak-anak pulang, Anna membereskan peralatan belajarnya dan bersiap untuk keluar, “Riris kamu sudah selesai..?”

Riris mengangguk, “sudah kak, kakak mau pulang ya..?”

“Iya Ris, mau bareng sama kak Anna?” tawar Anna.

“Boleh kak, kita kan searah, bentar ya kak Riris bereskan dulu bukunya.”

“Kak Anna bantu bereskan ya..?”

“Eeh tidak usah, cuma sedikit ini koq, kak Anna tunggu saja diluar nanti Riris nyusul.” Cegah Riris, menghalau tangan Anna yang hendak meraih buku.

“Ya sudah kak Anna tunggu diluar ya?”

“Ok..”

“Assalamu’alaikum..” sapa seseorang sambil menghampiri Anna.

“Wa’alaikumssallam, bang Rizal, baru pulang?” Anna membalas salam Rizal yang menghampirinya.

“Iya Na, Anna juga sepertinya bersiap untuk pulang?”

“Iya bang, Anna sedang menunggu Riris di dalam.”

“Eeh ada bang Rizal..!” sahut Riris, dengan tangan sibuk mengunci pintu.

Rizal mengangguk menanggapi sahutan Riris.
“Ayo kak Anna kita pulang, bang Rizal mau bareng kita juga?”
Tanya Riris melihat ke Rizal.

“Boleh, kalau kalian tidak keberatan..?” Rizal melirik ke arah Anna seolah meminta persetujuan untuk pulang bersama.

“Ayo bang..!” Anna mengerti maksud lirikkan Rizal.

Selama perjalanan pulang Riris yang paling rame berceloteh, Anna dan Rizal menanggapinya dengan tertawa-tawa, Riris memang selalu meramaikan suasana dengan celotehan riangnya. Setelah Riris memasukinya rumahnya, menyisakan suasana cangguh Rizal dan Anna.

Setelah Riris tidak ada, keduanya terdiam, hanya suara langkah yang mengiringi mereka, sampai akhirnya Rizal kalah dengan aksi diamnya.
“Anna..”

“Hhmmm..” balas Anna dengan gumaman.

“Saya ingin bicara sesuatu denganmu.” Suara Rizal sedikit berubah.

“Bang Rizal mau bicara apa..?” perasaan Anna mulai tidak nyaman, namun Anna menepis perasaan tidak nyamannya.

“Bo-bolehkah saya mengenalmu lebih dekat lagi?” Rizal menelan ludah kesat, serasa sulit untuk berucap.

“Maksud bang Rizal? Anna pikir kita sudah saling mengenal.”
Anna berharap Rizal dapat memahami maksud DEKAT yang diucapkannya.

“Anna, maafkan saya kalau saya lancang, saya hanya berusaha jujur dengan perasaan saya.”

Hati Anna semakin berdebar, sebenarnya ia tidak berharap perasaan lebih dari Rizal, karena Anna merasa tidak akan bisa membalas perasaan Rizal. Selama ini Anna tahu bahwa Rizal menaruh hati padanya, tapi Anna tidak ingin menanggapinya sebab hati Anna telah terpaut untuk satu orang yang ia cintai dalam diam.

“Anna..” panggil Rizal lembut.

“I-iya bang Rizal” Anna sejenak menghentikan langkahnya.

“Sepertinya saya mencintai kamu..!” Rizal ikut menghentikan langkahnya dan berdiri dihadapan Anna yang menunduk memainkan jarinya.

“Ini kesempatan saya bisa mengungkapkan perasaan saya yang selama ini membuat hati saya sesak, dan saya merasa lega telah mengungkapkannya sama kamu.” ungkap Rizal dengan nada lega.

Anna merasakan bingung, mulutnya serasa terkunci entah apa yang harus ia jawab. Satu sisi Anna memang menyukai Rizal. Rizal pria yang baik, menyandang profesi seorang Ustadz, diperkuat dengan kuliahnya di bidang dakwah, hidup di lingkungkan keluarga yang religius dan berkecukupan. siapa wanita yang akan menolak dicintai sosok Rizal, tapi hati Anna tetap terfokus satu nama Dirgantara, iya di hati Anna hanya ada Dirga, meski pun Anna tidak tahu bagaimanaa perasaan Dirga terhadapnya, Anna hanya bisa berharap bahwa pria yang dicintainya memiliki perasaan yang sama dengannya.

“Anna, saya mencintai kamu tulus, tapi saya tidak akan memaksamu untuk membalas cinta saya sekarang, saya hanya sekedar mengungkapkan saja, agar saya bisa bernafas lega.”

“Ma-maafkan Anna bang Rizal, Anna belum bisa membalasnya sekarang.”

“Tidak masalah Anna, kapanpun saya akan menunggunya, sampai kamu siap membalas dan menjawab cinta saya, dan satu hal Anna, saya serius dengan niat saya ingin berta’aruf denganmu.”

Deg, jantung Anna semakin berdegup kencang, ungkapan hati dan keinginan Rizal sudah sejauh itu, menambah kegalauan di hati Anna semakin menjadi.
“Berilah Anna waktu untuk meyakinkan perasaan Anna.”

Rizal mengangguk setuju, “Kau tidak usah terburu-buru, apa pun keputusanmu nanti Insyaa Allah saya siap menerimanya.”

“Terima kasih bang Rizal, Insyaa Allah Anna akan memberikan jawabannya nanti.”

****

Dirga dengan sabar mengikuti kemana kaki Ratu Eka Rindiyani melangkah, seisi butik bahkan sudah beberapa butik disinggahinya oleh mereka berdua, Dirga hanya menggeleng kepala dan sesekali menarik nafas kasar, Dirga selalu dibuat bingung dengan keinginan wanita yang tidak Dirga fahami.

Apa sebenarnya yang Rindi cari, apa belum cukup kantung belanjaan yang ditenteng Dirga dan semuanya berisi baju dari berbagai butik, dan ini adalah butik yang kesekian, Dirga menghempaskan pantatnya di kursi tunggu dalam butik membiarkan putri majikannya itu berinteraksi sendiri.

“Dirgaaa, baju ini cocok tidak..?” seru Rindi memperlihatkan dua buah baju mirip gamis.

Dirga hanya mengacungkan jempolnya saja, seperti biasa jika Rindi meminta pendapatnya.

“Kalau yang ini..?” kembali Rindi mengacungkan baju satu lagi, dan di acungi jempol oleh Dirga.

Wajah Rindi berubah cemberut, dengan langkah cepat Rindi menghampiri Dirga yang sedang duduk santai, tanpa aba-aba Rindi menjejak kaki Dirga, sontak membuat Dirga mengaduh.

“Aawww, aduuh sakit Rin.. kamu kenapa..?” tanya Dirga sambil mengusap kakinya yang tertutup sepatu yang dijejak Rindi.

“Kenapaaa..? dari tadi aku minta pendapat tentang baju cocok atau engganya cuma dijawab acungan jempol.” gerutu Rindi.

“Trus aku harus bilang apa? semua baju yang kau perlihatkan memang bagus semua,” bela Dirga.

” Aku tanya baju ini cocok tidak buatku, bukan nanya bagus tidaknya, baju disini memang bagus-bagus.” jawab Rindi masih sewot.

“Cocok..!”

“Dirgaaa.., tahu ahk..!” Rindi berlalu dari hadapan Dirga menuju kasir untuk membayar baju yang dipilihnya.

Dirga menggeleng sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Wanita memang sulit di mengerti, batin Dirga.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #25

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here