Bodyguard with Love #21

0
62
views

Ratu Eka Rindiyani melangkahkan kakinya ke arah dapur, hidungnya mengikuti aroma sedap yang menggelitik rasa laparnya.

“Hhmmm harum sekali mbok, kayanya sedap banget..!” Rindi mendekati wanita paruh baya yang selama ini paling mengerti dalam urusan perut.

“Eehh non Rindi bikin kaget mbok saja, sudah bangun toh non? tadi mbok lihat masih betah dalam selimut.” kata mbok Surti.

“Semalem Rindi ga bisa tidur mbok, makanya pukul lima subuh baru bisa tidur,” jelas Rindi, tangannya mengambil pisau yang tergeletak di atas tatanan dimana terdapat sayuran yang belum selesai di potong.

“Kenapa ga bisa tidur non? eehh itu kerjaan mbok non jangan dikerjakan..!” cegah mbok surti hendak meraih pisau yang dipegang Rindi.

“Ngga apa mbok, sekali-sekali Rindi boleh kan bantu mbok di dapur biar ga bosen diem di rumah,” Rindi ngotot ingin membantu mbok Surti, meskipun potongannya tidak beraturan tapi Rindi tetap melanjutkannya dengan gerakkan kaku.

“Ya sudah non, tapi hati-hati ya non pisaunya tajam..!”
Mbok Surti tersenyum, akhirnya membiarkan putri majikannya itu asyik dengan dunia barunya.

“Aawww…,” Rindi terpekik, tanpa sengaja pisau yang digunakannya terlempar.

“Astaghfirullah’aladzim, non kenapa?” mbok Surti terkejut dan langsung menghampiri Rindi yang memegang jarinya yang berdarah.

“Yaa Allah non, mbok bilang apa kan? pisaunya tajam mesti hati-hati..!” mbok Surti agak panik melihat darah di jari Rindi mulai banyak.

“Ini juga sudah hati-hati ko mbok, eehhh…?” Rindi membelalakan matanya teramat terkejut, jarinya yang berdarah ada dalam mulut Dirga, hisapan lembut pada jarinya yang terkena sayatan pisau membuat Rindi tak bergeming, aliran darahnya serasa berhenti.

Dirga memuntahkan salivanya yang bercampur dengan darah Rindi ke wastafel, lalu kembali menghisap jari terluka yang masih mengeluarkan darah itu.

Aksi spontan Dirga membuat Rindi sphescheels, matanya masih membelalak.
“Mbok ambilkan kotak P3K..!” suruh Dirga.

“I-iya sebentar mbok ambilkan dulu” mbok Surti mematikan dahulu kompor yang menyala, lalu berlari ke arah tempat kotak P3K tersimpan.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Rindi berucap dengan susah payah berpacu dengan degupan jantungnya.

“Menghentikan darahnya dan mengeluarkan tetanus akibat sayatan pisau.”

“Ta-tapi kenapa harus kau isap maksudku.. apa kau tidak jijik menghisap darah itu!”

Dirga menggeleng, “Kenapa harus jijik? ini salah satu cara tercepat dan efektip mencegah infeksi yang ditimbulkan sayatan benda tajam.”

“Ini kotak P3Knya bang Dirga..” mbok Surti menyimpan kotak obat-obatan itu di atas meja makan di dekat Dirga.

Dirga dengan seksama mengobati luka di jari Rindi, sayatannya cukup dalam, karena itu darahnya sulit dihentikan. “Lain kali hati-hati jika menggunakan benda tajam”

“Iya..” jawabnya singkat. Rindi menatap wajah Dirga yang sedikit menunduk sedang melilitkan perban di jarinya, wajah Dirga begitu dekat dihadapannya.

Rindi dengan cepat menolehkan wajahnya ke arah lain, saat Dirga mengangkat kepala dengan mata balik menatap Rindi, “Sudah selesai” sahutnya.

“Terima kasih..”

“Non Rindi, bang Dirga sebaiknya langsung makan saja, mbok sudah selesai masaknya mumpung masih hangat biar enak tenan.”

“Kebetulan perutku sudah laper banget mbok, sayuran yang tadi buang saja mbok terkena darahku…”

“Iya non sudah mbok buang, jadi mbok masak ini saja.”

“Segini juga sudah Alhamdulillah mbok, tidak usah terlalu royal yang penting nikmat.”

“Hehe, betul bang Dirga, ayo di makan dulu toh, ini piringnya,”
ucap mbok Surti dengan logat jawanya.

“Duduk mbok mau kemana?” Rindi menarik tangan mbok Surti yang hendak pergi.

“Mbok mau ke belakang mau nyuci non.”

“Sini duduk dulu, nyucinya nanti saja, kita makan sama-sama.”

“Tapi non..!”

“Duduk saja mbok, mbok belum makan kan?” tanya Dirga.

Mbok Surti menggeleng sambil tersenyum “belum..!”

“Ya sudah ayo duduk makan dulu, kalau ga mau nanti Rindi pecat lho..!” ancam Rindi

“Iya, iya non mbok makan..” dengan perasaan haru mbok Surti menuruti keinginan Rindi, putri majikannya ini memang selalu membuatnya senang dan terharu dari dulu.

“Dirga..” panggil Rindi sambil mengakhiri makannya.

“Hhmmm…”

“Nanti sore aku ada acara, bisa kau antar aku..?”

“Tidak masalah, sudah tugasku mengantar tuan putri kemana saja…” seloroh Dirga, dibalas deheman oleh Rindi dengan wajah agak merona karena sebutan tuan putri.

Mbok Surti tersenyum senang melihat ekspresi kedua anak muda itu.

****

Dirga menghentikan kegiatan main game di ponselnya, matanya menatap lurus tak berkedip ke arah lantai atas, dimana Rindi sedang berjalan di tangganya.

Rindi melangkah dengan anggun, penampilannya seakan menyihir mata Dirga untuk sulit berpaling ke arah lain.

Rindi terlihat sangat cantik dengan balutan gaun merah maroon panjang menutupi mata kaki, potongan gaun setengah klok dengan lengan baju panjang serta kerah chiangi dari kain brokat menutupi sebagian leher jenjangnya begitu mempesona, rambutnya disanggul asal menyisakan juntaian rambut di pipi kanan kiri terkesan acak-acakan namun terlihat begitu menarik.
Sepatu heeghils warna senada menambah kontras kondisi gadis penyandang model papan atas itu.

Rindi melambaikan tangannya di depan wajah Dirga, membuat pemuda itu tersentak kaget, tanpa sadar Rindi sudah berdiri dihadapannya.

“Apa aku terlihat aneh?” tanya Rindi sambil memeriksa gaunnya, siapa tahu memang ada yang aneh.

“Tidak… kau terlihat sempurna.”

Rindi terkekeh kecil mendengar ucapan jujur Dirga, “Kau juga terlihat tampan dan gagah dengan stelan jas hitam itu?” Rindi pun mengungkapkan kejujurannya.

“Eheemmm.. begitu..!”

Rindi mengangguk, “Bisa kita berangkat sekarang My Bodyguard..?” celetuk Rindi.

“Kenapa tidak..! silahkan tuan putri..!”
balas Dirga.

Rindi kembali terkekeh, tangannya ia kaitkan di lengan Dirga, spontan Dirga menatap ke arah tangan Rindi yang melingkar di lengannya. Tiba-tiba keduanya tersenyum.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #20

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here