Bodyguard with Love #19

0
92
views

Ratu Eka Rindiyani menatap lekat gadis anggun yang berjalan di samping Dirga, hatinya serasa ada yang mencubit melihat kebersamaan mereka.
Anna membalas tatapan Rindi dengan senyum merekah di bibirnya, matanya berapa kali mengerjap seakan ingin memastikan bahwa wanita yang bersama Riris itu adalah gadis foto model terkenal yang sering ia lihat di televisi maupun surat kabar.

“Masyaa Allah Itu Ratu Eka Rindiyani kan bang?” ucapnya.

Dirga mengangguk “iya..”

“Abaaang jahat, kenapa ga bilang sama Riris kalo abang jadi Bodyguardnya kak Ratu?” Celetuk Riris dengan bibir bimolinya.

“Kalau abang kasih tahu adek, abang bukan jaga Ratu tapi jaga kamu,” balas Dirga.

“Uuhh abang pelit.”
Sahut Riris menatap jengah kakaknya.

“Assalamu’alaikum kak Ratu,” sapa Anna menyodorkan tangan untuk berjabat, ada rasa heran dalam hati Anna, setahu Anna Ratu tidak memakai jilbab, tapi kali ini gadis yang sering Anna lihat berlenggak lenggok di atas Catwalk itu begitu cantik dengan jilbab dan balutan gamis.

“Wa’alaikumssallam” jawab Rindi membalas jabatan tangan Anna, suara lembut Anna serasa menyejukkan hati Rindi.

“Namaku Anna, senang sekali bisa bertemu langsung dengan kak Ratu, suatu kehormatan buat saya.”

“Maaf, saya hanya manusia biasa bukan tamu terhormat.” Rindi meluruskan kalimat Anna yang dirasa berlebihan, bukannya merasa tersanjung dengan ucapan Anna tapi entah kenapa justru merasa malu.

Pantas Dirga terlihat senang bertemu Anna, gadis itu begitu sempurna di mata Rindi, cantik, anggun, serta sopan dan lemah lembut.
“Mereka pasangan yang cocok,” batin Rindi.

“Oh iya sebentar lagi menjelang maghrib, bagaimana kalau kita shalat bersama di sini saja.”

Deg, jantung Rindi serasa hendak copot dengan ajakkan Anna, Rindi sama sekali bukan buta dalam hal agama, bukan tidak becus dalam menjalankan kewajiban lima waktunya, tapi sejak kematian mamahnya Rindi meninggalkan segala yang berbau ibadah, sebagai bentuk protesnya pada Tuhan atas terenggutnya nyawa sang mamah disaat ia sedang ingin menyatukan kebahagiaan.

Rindi sudah bertahun-tahun meninggalkan sholatnya, tidak pernah menyentuh sejuknya air whudu bahkan nasihat papahnya pun ia bangkang, jika papahnya acap kali mengajak Rindi bersujud pada sang kholik.

Rindi selama ini melarikan keresahan hatinya dengan hiburan dugem dan mengisi kekosongan jiwanya dengan cara menyibukkan diri bekerja sebagai model, bersenang-senang di kafe atau di tempat yang tak semestinya ia kunjungi.

“Kak Ratu tidak apa-apa?” Suara Riris menginterupsi lamunan Rindi kembali pada kesadarannya.

“Eeh iya Aku baik-baik saja”

Dirga menatap Rindi dengan tatapan yang tidak terbaca, Dirga tahu apa yang di fikirkan gadis itu.

“Lho ko pada diam semua, ayo kita masuk ke rumah baca, sebentar lagi Adzan.” Anna menarik lembut lengan Rindi mengajaknya untuk masuk ke rumah baca.

****

Tubuh Rindi bergetar hebat, disetiap gerakkan shalatnya Rindi menahan sekuat mungkin untuk tidak terisak mengundang curiga orang-orang yang shalat bersamanya.
Gadis itu merasakan rapuh dalam hatinya, kesenangannya selama ini di dunia glamor tak mampu membawanya dalam ketenangan.

Hati Rindi terasa tercabik, rasa bencinya pada Tuhan adalah salah besar, menjauh dari Tuhan menambah beban dosa dalam dirinya. Rindi benar-benar bersimpuh khusyu dalam sujud yang sudah sekian lama tidak dilakukannya.

“Ampuni hambamu yaa Allah.” Bisik hati Rindi.

“Kau baik-baik saja kak Ratu?” kali ini Anna yang bertanya, sejak melaksanakan shalat bersama, Rindi terlihat banyak diam.

Anna dengan sabar menemani Rindi selama Dirga mengantarkan Riris pulang.

“I-iya Anna aku baik-baik saja,” gugup suara Rindi.

“Saya buatkan minum ya kak, mungkin kak Ratu haus?” tawar Anna.

“Tidak usah Anna, aku tidak haus, oh iya Anna kau tidak ikut pulang ke rumah Dirga sambil mengantar Riris, bukannya kalian serumah?”

“Tidak.. aku tidak serumah dengan bang Dirga dan Riris”
sergah Anna.

Rindi menautkan alisnya heran.
“Hhmmm apa kau dan Dirga tinggal di rumah orang tuamu?”

“Tentu saja kami tidak serumah, rumah kami terpisah.”

jawaban Anna semakin membuat Rindi bingung, mana mungkin suami dan istri yang terlihat rukun tapi tidak seatap, bagaimana bisa mereka hidup masing-masing.
“Memangnya kau tidak serumah dengan suamimu? lalu kau tinggal dengan siapa?” Rindi sebenarnya tidak ingin menanyakan hal bodoh itu, karena sama saja menyiram hati yang panas dengan air yang panas pula.
Tapi rasa penasaran mengalahkan egonya.

“Suami..? maksud kak Rindi suami siapa? aku tinggal bersama keluargaku.” Kata Anna dengan wajah sama bingungnya dengan Rindi.

“Tentu saja Kamu sama Dir…!” Rindi tidak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Rindi menepuk jidatnya, untung ia tersadar kalau tidak mungkin ia sudah malu besar dihadapan Anna.

“Ini pasti aku salah paham, tapi..!” batin Rindi.

“Kak Ratu kenapa..?” wajah Anna terlihat cemas dengan perubahan sikap Rindi.

“Kalian sedang membicarakan apa?” Dirga tiba-tiba menyela setelah kembali dari mengantar Riris pulang ke rumah.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #18

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Previous articleAntara Cinta dan Persahabatan # 38
Next articleMisteri Kamar 201
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here