Bodyguard with Love #18

0
198
views

Dirga mengejar Rindi yang sudah jauh bejalan di depannya.
“Rindi tunggu..!” Teriak Dirga.

Rindi sama sekali tidak menghiraukan panggilan Dirga, Rindi terus berjalan semakin cepat, dengan baju agak diangkat sedikit karena baju gamisnya yang panjang hingga mata kaki menghambat langkahnya.

“Rindi, berhenti…!” Dirga berhasil menarik lengan Rindi, sontak gadis itu terpekik kecil hampir terjengkang akibat tarikkan kuat tangan Dirga.

“Kau mau kemana?” tanya Dirga setelah berhasil menghentikan laju jalan gadis itu.

“Bukankah kita akan ke rumahmu?” dengan nafas tersengal.

Dirga mengangkat alisnya sebelah, “memang kau tahu dimana rumahku?”

Rindi terhenyak baru sadar dengan kebodohannya, mana tahu ia rumah Dirga, ke tempat ini saja baru kali ini.
“Eenng, ini jalan ke rumahmu kan?” tanya Rindi dengan wajah polos.

Dirga menggeleng, “bukan..!”

“Aahh mungkin jalan yang itu?” Rindi menunjuk jalan dekat pangkalan ojek, berharap kali ini benar untuk menutup rasa malunya, namun lagi-lagi Dirga menggeleng.

“Atau mungkin…!”

“Sudahlah ikuti aku,” potong Dirga, sambil berjalan ke arah dimana tadi mobilnya terparkir, jalan yang berlainan arah dengan jalan yang dilalui Rindi.

“Dirga tungguuu…!” kali ini Rindi yang tergopoh-gopoh, mengejar Dirga yang berjalan cepat jauh di depannya.

Dirga menghentikan langkahnya, bibirnya tersenyum tipis menatap Rindi yang berjalan kesulitan, dengan gamis panjang yang agak diangkat sedikit untuk memudahkan langkah lebarnya, nampak keringat mengucur dari sela-sela kerudungnya.

“Cepet banget jalannya, capek tau..!” gerutu Rindi sambil menyeka keringatnya, nafasnya semakin kembang kempis.

Ingin rasanya Dirga tertawa melihat penampilan Rindi, namun ditahannya tidak ingin menambah kacau suasana hati gadis model itu, meskipun tidak mengurangi kecantikkan Rindi, gadis itu terlihat sedikit kacau, Efek cuaca panas yang menimbulkan banyak keringat dan lelah membuat Rindi terlihat seperti bukan gadis model papan atas.

“Kenapa diam saja?” Rindi heran melihat Dirga diam tidak melanjutkan jalannya.

“Bukannya kau capek? kita berhenti dulu”

“Tapi ini panas, aku tidak mau berhenti disini bisa-bisa kulitku gosong.”
Dirga menggedigkan bahu serba salah.

“Sudah ayo lanjut lagi jalannya, apa masih jauh rumahmu?”
dengan suara parau karena lelah.

“Di dekat sana, bukan ke rumah orang tuaku, tapi ke rumah baca.”
jelas Dirga.

“Rumah baca..” desis Rindi kembali mengikuti langkah Dirga.

Dirga melanjutkan jalannya, kali ini langkahnya teratur menyeimbangkan dengan langkah Rindi disampingnya.
Tak berapa lama mereka tiba di rumah baca milik Dirga yang dikelola Anna dan Pasha juga Riris adik Dirga.

Sebelumnya, selama perjalanan melewati beberapa rumah penduduk tak ada yang mengenali Rindi, karena gadis itu menutupi sebagian mukanya dengan ujung jilbab atas perintah Dirga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian di rumah makan tadi.

Rindi juga melihat para penduduk sekitar tak ada seorangpun yang tidak menyapa Dirga dengan rasa hormat dan segan, Rindi heran apa yang membuat mereka begitu segan kepada Bodyguardnya.

Rindi memang tidak memungkiri bahwa Dirga selain tampan bahkan teramat tampan dengan tubuhnya yang atletis terlihat sexi serasa kurang pantas tinggal di tempat seperti ini, Menurut Rindi Dirga cocok tinggal di apartemen macam artis.

“Abaaang…” Suara nyaring milik Riris menyambut kakaknya, dan memeluk Dirga dengan rasa rindu.

Dirga membalas pelukkan adik tersayangnya, “apa kabar adek abang?”

“Alhamdulillah adek baik bang, ko abang ga bilang-bilang mau kesini?”

“Supraise..” jawab Dirga sambil mengusap sayang kepala Riris yang tertutup kerudung.

“Dimana anak-anak?”

“Anak-anak ada di dalam bang sedang mengaji sama kak Anna, Riris juga baru dateng belum sempat masuk,” Ucap Riris, matanya melirik ke arah belakang Dirga dimana Rindi berdiri memperhatikan momen pertemuan adik dan kakak.

Dirga menangkap Lirikkan adiknya ke arah Rindi.
“Dia siapa bang..?” Riris memberi isyarat dengan dagunya.

Dirga tersenyum membawa Riris ke dekat Rindi, “turunkan saja penutup wajahmu..!”

Rindi menurunkan tangan yang memegang ujung jilbab untuk menutup sebagian mukanya, bibirnya menyunggingkan senyum. Riris membulatkan matanya dengan sempurna, mulutnya menganga lebar, “Ratuuu…” jerit Riris histeris.

Dirga menutup kedua telinganya begitu mendengar jeritan adiknya dengan tubuh berjingkrak.

“Abang, coba cubit Riris takutnya ini mimpi?” Riris menyodorkan tangannya untuk dicubit Dirga.

“Aawww sakit bang” teriak Riris sambil memukul tangan Dirga yang tadi dipakai menyubit.

Dirga menggelengkan kepala, lagi-lagi serba salah jika menghadapi wanita.

“Haii kak Ratu..” sapa Riris masih dengan tatapan tidak percayanya.

“Haii juga Riris..” Balas Rindi.

“Kalian berdua ngobrollah dulu, aku masuk ke dalam untuk menemui anak-anak.”

“Iya, iya abang masuk aja sono, kak Anna sudah kangen sama abang, Riris disini saja sama kak Ratu, iya kan kak?” Rindi mengangguk pelan, senyum lebarnya agak mengerut saat Riris menyebut nama Anna, apa lagi Anna merindukan Dirga.

****

“Berkata Abdul Malik Bin Umar bahwa satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selama hidupnya selalu membaca Al-Quran, serta manusia yang paling jernih akalnya yang selalu membaca Al-Quran, jadi kita harus pintar menguasai ayat Allah dengan cara belajar membaca Al-Quran seperti yang dikatakan…”

“Bang Dirgaaa…!” Seru anak-anak kompak, membuat Anna sejenak mematung.

“Ko bang Dirga? maksud kak Anna Seperti yang dikatakan oleh…”

“Itu bang Dirgaaa…” Kembali ucapan Anna terpotong dengan seruan kompak Anak-anak kali ini sambil menunjuk ke arah belakang Anna, sontak Anna menolehkan wajahnya dengan cepat ke arah yang ditunjuk mereka.

Deg, jantung Anna berdetak cepat matanya menangkap sosok yang berdiri diambang pintu sedang menatap ke arahnya, sosok Dirga yang selama tiga minggu ini dirindukannya dalam diam kini ada dihadapannya.

“Bang Dirga..”

“Assalamu’alaikum Anna” salam Dirga dengan sikap kharismatiknya yang membuat wajah Anna selalu tersipu.

“Wa’alaikumssalam”

“Maaf mengganggumu, aku bisa menunggu sampai kau selesai mengajar.”

“Eeh tidak usah, ma-maksudku aku bisa melanjutkannya besok” ujar Anna dengan gugup.

Anna menyudahi mengajarnya dan menyuruh anak-anak untuk belajar atau menbaca buku yang mereka suka.

“Apa kabar bang Dirga?” Anna mengajak duduk Dirga disalah satu kursi diruang baca.

“Alhamdulillah aku baik, bagaimana denganmu?”

“Alhamdulillah seperti yang bang Dirga lihat, aku baik juga.”

“Syukurlah..” Rasa cangguh menghinggapi sikap keduanya.

“Berapa lama lagi tugas abang?”

“Entahlah belum ada kepastian kapan om Ridwan pulang ke Indo dan maaf minggu kemarin aku pulang menengok ibu tidak sempat kemari”

“Iya aku tahu Riris cerita minggu kemarin abang pulang sebentar” timpal Anna memahami pekerjaan dan tanggung jawab Dirga.

“kau tidak menemui kesulitan disini selama aku tidak ada?”

“Alhamdulillah tidak, Riris dan Pasha selalu membantu, oh iya abang sengaja datang kemari?”

“Aku ingin memberi kejutan pada Riris, dengan membawa seseorang kesini”

“Oh iya, siapa..?” tanya Anna penasaran.

“Ayo kita temui mereka, kau pasti mengenalinya,” ajak Dirga sambil beranjak dari duduknya diikuti Anna.

Rindi terpaku melihat Dirga berjalan ke arahnya bersama seorang wanita cantik berjilbab, wanita itu begitu anggun melangkah di samping Dirga, wajah keduanya memancarkan kebahagiaan, terlihat dari cara bicara mereka yang diselingi tawa.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #17

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaMy Bos… I Love U #43
Berita berikutnyaAntara Cinta dan Persahabatan # 37
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here