Bodyguard with Love #13

0
263
views

“Dirga…!” wajah Rindi seketika menegang. Dirga menghampirinya dengan tatapan dingin.

“Ba-bagaimana dia tahu gue ada ditempat ini?” gumam Rindi.

“Sayang, maafkan aku. Ayo kita masuk lagi kita akan bicara baik-baik.” Devan menarik tangan Rindi agar ikut bersamanya kembali masuk ke dalam diskotik.

“Lepaskan tangan gue! tidak ada yang perlu dibicarakan lagi semuanya sudah jelas.” Rindi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Devan.

“Ayolah sayang!”

“Lepaskan tangannya!” Ucap Dirga memotong kalimat laki-laki yang menarik paksa tangan Rindi.

Wajah Devan seketika berubah berang saat tahu Bodyguard Rindi ada didekatnya.

“Elo ga usah ikut campur, ini urusan gue dengan kekasih gue,” sergah Devan.

“Gue bilang lepaskan tangan elo darinya!” Dirga tak mau kalah.

Dengan satu sentakkan Dirga menarik Rindi dari genggaman Devan hingga terlepas, sontak tubuh Rindi terhuyung dan jatuh kedalam dekapan Dirga dengan pekikkan tertahan.

“Sialan.” Devan merasa geram, tanpa fikir panjang lagi langsung melayangkan bogem mentahnya ke arah wajah Dirga, namun Dirga dengan cepat mengelak sehingga bogem Devan mengenai tempat kosong.

Devan semakin geram wajahnya merah padam dan kembali menghampiri Dirga dengan tangan terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.

“Masuk ke mobil!” Suruh Dirga, namun Rindi tidak menghiraukan perintah Dirga, gadis itu hanya mundur beberapa langkah. Hati Rindi dilanda cemas melihat Dirga dan Devan saling adu jotos. Devan dan Dirga sama-sama memiliki ilmu bela diri.

Suasana diluar diskotik menjadi riuh, bahkan Raisya dan teman-temannya yang berada didalam berhamburan keluar ikut menonton keributan.

Buugghj … sebuah tonjokkan mengenai wajah Dirga hingga terjengkang dan mengalirkan darah kental disudut bibirnya.

“Rasakan brengsek…!” seru Devan dengan suara parau menahan marah.

Devan kembali hendak menerjang Dirga kemarahannya semakin memuncak saat Dirga kembali berdiri seakan tonjokkannya tidak berarti.
Saat jarak Devan tinggal beberapa langkah lagi didepan Dirga dengan tangan siap meninju, tiba-tiba Dirga melayangkan tendangan ke arah perut Devan hingga terpental tepat dibawah kaki Raisya.
Jeritan tertahan terlontar dari mulut Raisya dan Rindi.
Dirga hendak menghampiri Devan yang terkapar namun tubuhnya ditahan Rindi.

“Cukup Dirga, hentikkan!” Desis Rindi tanpa sadar memeluk Dirga agar pemuda itu tidak menyerang lagi Devan yang sudah tidak berdaya.

Dengan gerakkan cepat Dirga menarik tangan Rindi menghampiri mobilnya, dengan kasar Dirga membuka pintu mobil dan menyuruh Rindi untuk segera masuk.
Gadis itu tidak berani menolak, dan langsung masuk ke mobilnya.

Raisya dengan susah payah membangunkan tubuh lemas Devan, bibirnya mendesis menahan sakit.

****

Dirga membanting pintu mobil dengan keras, Rindi yang masih didalam mobil terlonjak kaget.
Dirga menghempaskan tubuhnya diatas sofa, sambil menahan rasa kesal, geram dan sakit di wajahnya, namun kalimat terakhir lebih mendominasi.

Sesaat Dirga memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya disandaran sofa, mencoba meredakan sisa emosinya.

Dirga tersentak kaget saat sebuah benda basah dan dingin menyentuh wajahnya. Rindi mengompres wajah Dirga dengan gumpalan es yang dibalut kain handuk.
Sesaat mata mereka saling beradu, menimbulkan getaran hebat dihati keduanya.

“Maaf, gara-gara gue wajah elo seperti ini,” sesal Rindi sambil menunduk menghindari tatapan tajam Dirga.

Dirga tidak membalas ucapan Rindi, tangannya mengambil alih kompresan dari tangan Rindi.

“Elo berhasil kabur dari pengawasan gue,” ujarnya dengan suara datar.

Rindi semakin menunduk menatap permainan jarinya. “Devan telpon dan ingin ketemu gue, gue fikir jika harus ngomong sama elo, ga bakal ngizinin gue keluar.”

“Apa elo mendapat kebahagiaan setelah keluar?” tanya Dirga dengan nada suara semakin menghakimi, Rindi menggeleng.

“Apa yang elo dapatkan setelah keluar?” kembali Dirga bertanya dengan nada suara yang sama.

“Tidak ada.” jawab Rindi singkat, mulai menyadari kebodohannya.

“Istirahatlah!” suruh Dirga, namun Rindi enggan untuk beranjak.

“Tapi wajah elo.”

“Gue baik-baik saja, istirahatlah!”
Perintah Dirga.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #12

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here