Bodyguard with Love #11

0
240
views

Ratu Eka Rindiyani sedang melakukan sesi pemotretan bertemakan steampunk armi.
Rindi mengenakan baju tanktop loreng dipadukan dengan kemeja PDL loreng lengan panjang yang dilipat sampai siku, serta celana panjang PDL warna loreng senada.
Sepatu hitam PDL serta topi baret hijau begitu kontras dengan rambut wig bob asimetris.
Paras cantiknya lebih dipertegas dengan mata tajam yang mampu menghipnotis para penikmat mode.

Rindi mampu membuat penggemarnya menjerit histeris penuh kekaguman dengan kemampuan modelingnya.
Rindi berfose diantara jaring-jaring yang biasa dipakai latihan para TNI, kali ini Rindi mencoba berfose sambil melompat dari benteng pemantau begitu terlihat enerjik, hasil foto itu mengundang decak kagum sang fotografer.

“Cukup, kita istirahat dulu, kita sudah mendapatkan foto yang tepat”
Ucap sang fotografer.

“Lo hebat Rin, gue paling seneng kalo sudah moto elo, top banget and Brilian”
Semua kru bertepuk tangan gembira, Rindi sendiri merasa puas dengan hasil kerja kerasnya.

“Good..i like you Rindi, that’s a wrap everbody, untuk kerja kerasmu honey”
Devan memberikan selamat dan pelukkan serta kecupan dipipi.

“Thank’s Devan.. tanpa dukungan kamu, aku belum tentu seperti ini”
Balas Rindi, matanya tidak sengaja melirik ke arah Dirga yang sedari tadi memperhatikannya.

Dirga melempar pandangan ke arah lain, ada perasaan sesak dalam dadanya saat Rindi menerima pelukkan dan kecupan dari Devan yang notabenenya adalah kekasihnya.
Dirga mengikuti Rindi dari kejauhan saat gadis itu diapit Devan menuju sebuah kafe yang ada didekat lokasi pemotretan.

“Sayang apa harus kamu di ikuti terus laki-laki itu?”
Tanya Devan, Rindi mengikuti arah mata Devan, Dirga nampak duduk tidak jauh disalah satu kursi kafe.

“Dia menjaga gue atas suruhan papah, aku sih no problame saja”
Jawab Rindi, meski dalam hati ada rasa dongkol karena Dirga benar-benar mengawasinya.

Kembali mata Rindi mencuri pandang ke arah Dirga.
Dibalik kaca mata hitamnya Dirga membalas pandangan Rindi.
Penampilan Dirga yang cool mengundang mata para wanita pengunjung kafe terpesona.
T’strit warna hitam polo yang dipakainya melekat membentuk tubuhnya yang atletis, menonjolkan otot dikedua tangannya.
Kaca mata hitam yang bertengger dihidungnya menambah penampilannya semakin gagah.

Rindi tahu selain dirinya Dirga menjadi salah satu pusat perhatian di kafe ini.
Dan sikap genit para wanita pengunjung kafe membuat Rindi jengah

“Honey, kamu tahu aku semakin sayang sama kamu, apa lagi kamu selalu membuat aku puas dengan hasil kerja keras kamu”

Rindi hanya tersenyum miring, dia tahu Devan butuh dirinya sebagai mesin penghasil rupiah, Sebenarnya Rindi mulai jenuh dengan profesinya, keinginannya putus dari Devan belum terpenuhi.
Rindi tidak bisa egois mengikuti kata hatinya meninggalkan Devan begitu saja, selain tidak ada alasan kuat menjauh dari pria yang sudah melambungkan namanya, kontrak kerjanya sebagai model dimajalah milik Devan belum berakhir.

Setelah cukup beristirahat, Rindi kembali melanjutkan sisa waktu pemotretannya hingga berakhir sampai malam.
“Makasih Dev sudah mengantarku pulang, seharusnya kau tak perlu repot-repot mengantarku, aku bisa pulang bersama Dirga”

“Tidak apa-apa sayang, sudah seharusnya aku mengantar pulang calon istriku hingga selamat sampai rumah”

Rindi terkekeh seakan ucapan Devan menggelitik gendang telinganya
“Kau terlalu berlebihan Dev”

“Eheemm..”

Rindi menolehkan kepalanya ke arah Dirga, Dirga membalas tatapan Rindi seakan memberi kode waktunya bersama Devan telah habis.
Devan menatap tajam Dirga, merasa tidak suka momen berduanya dengan Rindi terganggu.

“Sebaiknya aku masuk dulu Dev, malam sudah sangat larut”
Ujar Rindi, Devan yang merasa terusir akhirnya pamit pulang.

Dirga mulai menyalakan laptopnya seperti biasa, pemuda itu melihat Rindi baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya, Rindi mulai merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Dirga sempat melihat Rindi menatap ke arah kamera cctv seakan tahu bahwa ia sedang diperhatikan Dirga.

Baca selanjutnya

Kembali ke halaman #10

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaAntara Cinta dan Persahabatan # 29
Berita berikutnyaMy Bos… I Love U #35
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here