Bodyguard with Love #01

0
2652
views

Dirgantara segera melajukan motornya kembali, meninggalkan dua preman yang terkapar setelah perkelahian yang tidak seimbang tadi.
Tas hitam yang dia ambil dari si brewok ia simpan dibagasi depan motornya.

Tak lama Dirga tiba ditempat yang cukup ramai, tepatnya di depan Ruko, dimana si pemilik tas disuruh menunggu oleh Dirga selama dia mengejar dua perampok tas miliknya yang dibawa kabur oleh si brewok dan temannya.

Dirga turun dari motor dan membuka helmnya, nampaklah wajah tampanya dengan bentuk rahang yang tegas, matanya yang tajam menatap ke arah mobil lamborgini yang terpakir didepan BI, Dirga mengambil tas hitam yang ia simpan di bagasi. Sambil berjalan santai Dirga menghampiri pria paruh baya yang sedari tadi menunggu di dalam mobilnya dengan perasaan gelisah.
Begitu melihat sosok Dirga pria itu keluar dari mobilnya dan keduanya saling menghampiri.

“Ini tasmu tuan..”
Dirga menyerahkan tas hitam itu. Disambut oleh si pemilik tas dengan wajah gembira.

“Alhamdulillah, terimakasih banyak anak muda”
Ucap pria itu tangannya terulur mengambil tas yang disodorkan Dirga.

“Silahkan tuan periksa isinya”

“Aahkk tidak perlu saya percaya isi tas ini utuh, saya tidak tahu bagaimana nanti jadinya jika dokumen dan chek kuwitansi serta uang tunai puluhan juta ini jika hilang”
Sahut si pria menjelaskan tas yang sangat berharga.

“Baiklah tuan, karena tas anda sudah kembali saya permisi”
Dirga hendak melangkah, namun bahunya ditahan, Dirga kembali menatap ke arah pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu, dengan stelan baju mahal lengkap dengan jas kantornya.

“Tunggu..! boleh saya tahu namamu, setidaknya saya tahu nama orang yang sudah menyelamatkan saya”

“Nama saya Dirgantara tuan” jawabnya.

“Dirgantara, nama yang hebat, saya Ridwansyah Susanto, panggil saja om Ridwan tidak usah pake embel-embel tuan, oh iya ini kartu nama saya, jika kamu butuh sesuatu hubungi saya, jangan segan-segan”

Dirga mengangkat alisnya sebelah, tangannya mengulur untuk mengambil kartu nama yang disodorkan pria yang bernama Ridwan itu.

“Dan ini terimalah jangan di lihat besar kecilnya, sebagai tanda ucapan terimakasih saya”
Ridwansya menyodorkan sejumlah uang.

“Tidak tuan maksud saya om Ridwan, saya tidak butuh pamrih, ini sudah hak saya menolong anda dan memberi pelajaran untuk bajingan seperti mereka” tolak Dirga halus.

“Dirga, saya tahu perbuatanmu ikhlas tanpa pamrih meski taruhannya nyawa kamu, tapi tolong jangan tolak rezeki dari Allah”
Sejenak dirga terdiam, matanya menatap ke arah lembaran uang yang jumlahnya tidak sedikit.

“Ayolah terima saja, jika kau sudah menerimanya terserah kau mau apakan uang ini, bisa kau bagikan uang ini kepada mereka yang membutuhkan”
Ridwan menunjuk ke arah beberapa anak pengamen dan pengemis.

Dengan ragu Dirga mengambil uang yang disodorkan Ridwan, dia sempat berfikir memang banyak yang membutuhkan uang ini selain dirinya.

Mereka iya mereka anak-anak jalanan dan para tunawisma.
Dan pemuda itu memang sudah terbiasa berbagi apapun, walau sedikit dengan mereka-mereka yang membutuhkan bantuannya baik berupa uang maupun makanan.

“Baiklah saya menerimanya”

“Alhamdulillah terimakasih Dirgantara”

“Panggil saja Dirga”
kata Dirga meralat panggilan Ridwan yang terlalu ke panjangan.

****

“Naahh gitu doong, rezeki jangan ditolak”
celetuk Pasha sahabat Dirga diangguki anak-anak yang lain yang rata-rata pedagang asongan dan pengamen.

“Kalian ngintip transaksi gue rupanya?”

“Laahh elo ga, bukan ngintip elonya aja yang transaksi di depan mata kita iya ngga?”

“Betuull..”
Serempak Anak-anak jalanan menyahuti sambil tertawa, Dirga hanya menggelengkan kepala.

“Niihh bagi rata buat kalian, gue ngga mau kalian rebutan, pokonya bagi rata”
Dirga memberikan beberapa lembar uang lima puluhan kepada Pasha untuk kembali dibagikan dengan yang lain.

“Laah itu sisanya buat siapa bang?”
celetuk edod si pedagang koran.

“Elo kaga usah tahu, yang jelas ini duit mau gue sumbangin faham elo”

“iyee bang faham”

Dirga beranjak dari tempatnya lalu pergi meninggalkan kerumunan.
“Ga mau kemana elo..?”
Teriak Pasha.

Dibalas lambaian tangan Dirga sambil berteriak juga, “Masjiidd..”

Ridwan tersenyum penuh kagum menatap sosok Dirga yang melenggang menghampiri Rumah Allah yakni Masjid alun-alun kota.
Rupanya pria paruh baya itu belum meninggalkan tempatnya sejak Dirga pergi, dia masih penasaran dengan pemuda yang menurutnya bersifat sangat langka dizaman yang penuh dengan sifat jahiliah era modern.

Setelah Dirga lenyap dipelataran masjid, Ridwan segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat dimana tadi bertemu Dirga.

Baca selanjutnya

Prolog

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here