Beradu Argument

0
237
views

Emak dan bapak lagi adu mulut, segera kuhampiri.
“Napa,mak? Tanyaku.
“Ini bapakmu maunya enak sendiri, mau beli mobil,” jawab emak.

Wow, hatiku berbunga-bunga. mobil? seakan tak percaya “asik”. langsung terlintas dipikiranku bisa ngajak teman-teman sekolah.
Aku mau pamerin ke aryo anak kepala sekolah yang sombong banget karna bru beli motor baru.
Terbayang aku diantar pake mobil bapak aduh senangnyaa

“Masih mending beli mobil daripada kamu perhiasan, apaan untuk dipamer ya” balas bapak ku sengit.

“Ow maksudnya kamu naik mobil biar ada ibu-ibu lain yang ngelirik ya, uh dasar ganjen,” ujar emakku tidak mau kalah.

“mending beli rumah kalo gitu, ogah beli mobil.” Kulihat emak memutar sedikit kepalanya tanda tidak setuju keputusan bapak.

Sekali lagi Wow rumah kataku takjub, pasti banyak nih uang bapak dan emak.
aku mulai menghitung kira kira klo rumah harganya ratusan juta. Hmm pasti banyak dong sisanya. Aku mau minta skalian beli handphone ah, hpku jadul udah kelamaan kupake yang bisanya menerima dan menelpon doang.

“Yaelah mak klo rumah kan sudah jelas bapak beli, yang masalah sisanya itu bapak mau beli mobil.
klo bli perhiasan gampang diendus pencuri, kamu mau kecurian seperti tetangga sebelah.”Kata bapak tidak mau kalah.

Seru banget adu mulut bapak dan emak. baru kali ini adu mulut mereka bikin aku betah. terbayang teman teman sekolah tidak lagi memandang sebelah mata padaku, si cantik rina akan kuajak keliling kampung dengan mobil bapak. Aku senyum-senyum sendiri terbayang semua kejadian yang akan kualami nanti. Hatiku berbunga-bunga.

“Pokoknya beliin aku perhiasan dulu malu ama tetangga nggak pernah punya emas, sekali punya emas hanya imitasi.” emakku mulai melunak disambut anggukan bapak.

“Sepertinya agus sudah bisa ambil kesimpulan mak, gini mak,” kataku bijaksana dan memasang wajah serius untuk menangani masalah emak dan bapak.

“Sebaiknya uangnya di beliin rumah dulu, baru beli mobil, sisanya lagi beli perhiasan untuk emak, jangan lupa beliin agus handphone ya mak! Kataku dengan senyum-senyum girang.

Kedua orang tuaku balik menantapku dan bertanya,
“kamu tau dari mana gus bapak dapat uang?,”tanya bapakku serius.

“Kan tadi bapak dan emak bertengkar gara-gara uang kan, agus dengar semuanya.” kataku, perasaanku mulai nggak enak.

“Itukan cuma hayalan bapak sama emakmu gus, maksudnya nanti kalo kita punya uang sebaiknya beli apa ya?” terang emak.

Tiba-tiba saja aku mematung, dunia gelap.
Aku pingsan.

-Sekian-

by: Tanty Mahanggi

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here