Baju Kedodoran

0
492
views

“Nimbang mulu, Say, kasian dong sama timbangannya tiap menit dinaikin kamu.” Kata pak suami berkomentar.

“Timbangannya aja gak protes, Yang, eh…kamu malah bawel, nanti kamu aku naikin, baru tau rasa.” Protesku.

“Wowww, ampun Say, bisa remuk tulang belulang ku.” Pak suami ketakutan, takut diinjak istrinya yang bulet-bulet seksi.

“Makanya jangan bawel, aku tuh lagi diet sehat Yaaang, dukung dong, jangan nyinyir.” Kataku sambil naik ke timbangan lagi. Pak suami hampir saja protes, tapi kemudian diurungkan, karena takut kuinjak, hehe. Becanda sayangkuuu.

“Iya deh, Cornelia Agatha.” Kata pak Suami.

“Rano Karno, diam ya, jangan bikin Sarah erosi.” Sahutku.

“Jangan sering-sering erosi, nanti tanahnya longsor lho.” Rano Karno malah menambahi.

“Kan udah dibikin terasering, Doel.” Ucapku lagi, gemes sama suamiku yang jadi komentator di rumah.

“Ya udah, Atuuun, Doel mau mandi dulu…ya.” Suamiku tersenyum puas, memanggilku Atun, si gembrot adiknya si Doel.

Beginilah suasana rumah, kalau anak-anak lagi sekolah atau belajar kelompok bersama teman-temannya. Maklumlah aku dan suami usaha bersama jualan nasi goreng kalau malam hari.

Siang harinya kami berdua bekerja sama untuk mempersiapkan dagangan kami.

Aku, bernama Atikah, istri yang doyan makan tapi pingin langsing, kini bertekad untuk diet. Suami mendukung? Tentu saja, tapi kegagalan diet beberapa kali, membuat dia menjadi seorang nyinyires.

“Mama ga usah diet, biar gemuk tetap cantik kok, ya gak pa?” Si sulung yang kini kelas 3 SMP berkomentar.

“Iya, mama…cantik kok, mirip Sarah di Doel, cantik, seksi dan…..” Si bungsu yang kelas 5 SD ikut-ikutan jadi komentator dan follower papanya.

“Dan apa anak-anak?” pak suami mencoba menjadi dirigen paduan suara.

“Genduuuuuuttt…” Kompak sekali mereka, awas ya, aku buktikan nanti, kalian akan memujiku langsing seperti Zaenab. Huh..!

——

“Say…,” Panggil pak suami selepas kami dagang.

“Apa sih, Yang,?” Tanyaku yang sedang membereskan uang hasil dagangan.

“Kamu gak makan?, dari sore tadi papa lihat kamu gak makan?” Tanya pak suami, perhatian nih yee.

“Kan lagi diet, Yang, gak tahu ya.?” Jawabku.

“Oh gitu, ya… Kalo pingsan nanti lapor ya sama papa, haha.” Pak suami ketawa, ngeledek.

“Lihat aja, Yang, kalau aku berhasil jadi langsing, kamu mau beliin aku apa?” Tanyaku, menantang.

“Mama Say mau dibeliin apa?” Pak suami, ikut menantang.

Ditantang begitu, tentu aku kesenangan lah.

“Bener nih Yang?” Tanyaku penuh penasaran.

“Iya lah Say, karena semua itu tidak mungkin, papa berani bertaruh.” Si Pak suami yakin benar, semua itu mustahil.

“Oke, mama minta papa belikan baju bagus sepuluh, mama yang pilih sendiri, soalnya baju lama pasti kedodoran.” Kataku pede abis.

“Oke deal, tapi kalau mama Say enggak berhasil, apa hukumannya?” Pak suami bertanya lagi.

“Hukumannya, papa boleh nyuruh mama apa aja.” Kataku mantap.

“Wiiih… Setuju say, mama sayaaaang.” Si Paksu kegirangan, pasti dia akan nyuruh macam-macam deh. Tapi aku yakin, diet kali ini aku pasti berhasil. Bismillah.

Ya Allah sehatkan badanku, dengan diet sehat ini, kasih bonus juga ya Allah, biar badanku langsing kayak si Zaenab, Maudy Koesnaedi, yang akhirnya dipilih si Doel, daripada si Sarah yang gendut. Aamiin.

Mulai seminggu yang lalu aku menerapkan pola makan yang sehat.

Pagi aku cukup sarapan kurma, atau buah, air putih, air infus atau rebusan rimpang (jahe, kunyit, sereh, kayu manis, kadang ditambah jeruk nipis atau lemon), ditambah madu jika ada.

Siang hari aku makan nasi, tapi dikit aja, aku banyakin sayur dan buah, mulanya aku masih lapar, tapi lama-lama terbiasa juga.

Malamnya aku gak makan nasi dan gorengan, aku makan buah, itu pun sebelum magrib.

Ya Allah, lunturkan lemakku secara bertahap dan konsisten, aamiin ya rabbal’alamiin.

—-

“Say…,” Pak suami suatu sore.

“Apa sih, Yang, masih sore udah mendesah gitu, haha.” Kataku.

“Hari ini kita kan libur dagang, nanti malam kita dinner yuk.” Ajak pak suami mesra.

“Duh, suamiku sayang, senang sih diajak dinner, romantis gitu, tapi…sorry, mama lagi diet, dan tak mau melanggar aturan, oke Yang.” Jawabku.

“Yah… padahal papa mau ajak mama Say makan sate kambing di dekat pengkolan itu, lho.” Katanya lagi, cess, air liur hampir menetes, idola banget sama sate kambing itu, tapi….hmmm…hindari jebakan si Doel, Sarah harus konsisten jika ingin menjadi Zaenab.

“Mama takut darah tinggi ah.” Kilahku.

“Say takut kalah taruhan ya….lagian papa cuma bohongan kok, weww.” Ujar pak suami bikin keki.

“Oke, Doel, sikapmu sungguh terlalu, sudah memainkan perasaan Sarah, padahal sudah tinggi angan-angan naik pesawat sampai ke Belanda, kini harus rela naik oplet lagi, Cinere gandul.” Kataku kesal, tapi bersyukur juga, ga jadi makan sate kambing, sumber lemak yang mengacaukan dietku.

“Hahahhaa, emang enak papa boongin, dasar Atun..” Pak suami tertawa dan berlalu.

“Mandraaaa…” Teriakku.

“Gantengan Mandra lah.” Pak suami masih nyahut aja, padahal bayangannya dah hilang dari pandangan, menuju toilet.

Akhirnya aku tersenyum, suamiku memang punya jiwa usil-usil romantis, walau rumah kontrakan, tapi hati kami bagai apartemen. Walau uang kami bukan gepokan, tapi cinta kami milyaran di ATM, walau makan seadanya, tapi tiap suapan mengandung gizi cinta yang menyehatkan. I love you my husband. Muhammad Reza, namanya.

Wajah suamiku cukup tampan, aku juga cukup cantik, tapi karena tertutup lemak, wajahku jadi bulat berisi, kayak bakpau isi kacang hijau, empuk, manis dan mengenyangkan.

—-

Hari itu pak suami mendapat kabar dari ibunya di Bandung, katanya sawah ibunya mau dijual, karena beliau tidak mengerti administrasi, beliau menyuruh suamiku untuk mengurusnya, nanti katanya hasil penjualannya dibagikan kepada 3 anak lelakinya, termasuk pak suami. Aku sebenarnya ingin ikut, tapi katanya di Bandung bisa sampai dua Minggu, kasihan anak-anak di rumah, gak ada yang ngurus, mereka belum libur sekolah, jadilah aku ditinggal dia,hik hik, kesepian deh.

Tapi aku senang, program dietku pasti berhasil kalau gak ada dia, aku izin ikut senam erobik kalau malam, untung saja diizinkan, yess.. Doel, Sarah akan berjuang demi menjadi Zaenab.

—–

Benar saja, pak suami di Bandung lama sekali, duh… rindu serindu rindunya, tapi aku bahagia se bahagia-bahagianya, 20 hari ditinggal pak suami badan aku loss hampir 15 kg, aku diet sesuai anjuran, ditambah senam erobik dan puasa Senin Kamis. Malam stop makan sama sekali, sekalian irit budget, hehe.

Baju-bajuku kedodoran semua, gamisku mendadak kepanjangan semua, wajahku yang tadinya tembem seperti Sarah, kini jadi tirus seperti Zaenab. Wiiih, kereen bingits kan?.

Aku berharap setelah berjumpa dengan pak suami, dia makin sayang sama aku, gak panggil aku Atun dan Sarah lagi, semakin senang memboncengku kalau naik motor, karena badanku kini enteng.

—–

Pagi ini.

“Assalamualaikum.” Suara pak suami. Sepertinya dia pulang. Horeee, suka cita hatiku.

“Waalaikumsalam.” Sahutku.

“Say, kamu dimana?” Dia mencariku.

“Di kamar, Yang, lagi ganti baju.” Ucapku.

Dia menghampiriku, senyum dan terkejut.

“Aduh, salah masuk kamar.” Dia balik lagi gak jadi masuk.

“Yang, kamar kita masih disini.” Kataku.

“Tapi siapa yang ada di kamar?” Tanyanya.

“Mama lah, mama sayangmuu.” Jawabku.

“Kok langsing?, Ah…bukan kaliiii, biasanya kayak Atun, kok sekarang kayak Zaenab.” Candanya, duhh… tersanjung aku.

“Biasanya kayak Sarah, bukan Atun, Yang..” Ucapku lagi.

“Enggak mau masuk ah, takut.” Katanya.

Merasa kesal tidak dihampiri aku keluar kamar, sengaja aku pakai baju seksi, pakai kaos anakku lelaki yang SMP dan hotpannya, seksi sekaliiii.

“Papaaa….” Aku berdiri bak foto model yang peragawati itu.

“Duuh, aurat.” Dia pura-pura menutup matanya.

“Habis bajuku kedodoran semua, Yang. Jadi aku pakai baju si Faiz saja.” Kataku.

“Jangan dong Say, nanti aku tergoda, kamu terlalu seksi.” Pak Suami mulai membuka matanya, dan mendekatiku.

“Berarti mama harus beli baju baru, biar muat.” Kataku kesenangan di dekati pujaan hatiku.

“Mama tau aja, papa habis dapat uang warisan, hehe.” Dia mulai menempelkan tubuhnya ke tubuh seksiku.

“Maksudnya?.” Tanyaku sambil menikmati dekapannya.

“Mama menang taruhan, papa ajak mama Say ke tanah Abang, kita borong baju untuk mama yang kini langsing aduhai.” Katanya tambah erat pelukannya.

“Horeeee.. tapi jangan boros-boros ah, yang. Kan sayang nanti duitnya habis.” Kataku.

“Iya, tenang aja, kita beli yang obralan kok, seratus ribu lima.” Katanya, mulai ngeselin.

Aku melepaskan pelukannya, dia tertawa.

“Eh, kok dilepas pelukannya, papa kan kangen banget sama mama Say.” Pak suami mulai mendekat lagi.

“Janji…gak mau yang seratus lima.” Ancamku.

“Iya…iya…” Katanya lagi, kini mengecup keningku.

“Gitu dong.” Kali ini aku balas kecupan di pipinya, dia kegirangan.

“Kita diskusinya di kamar aja yuk.” Ajaknya.

“Habis diskusi, ke tanah Abang ya.” Pintaku.

“Tapi diskusinya, harus serius ya Say.” Pak suami sepertinya minta sesuatu.

“Maksudnya?” Aku pura-pura bingung.

“Sampai mencapai kata mufakat dan tuntas, haha.” Dia tertawa dan menggandengku ke dalam kamar, aku sih senyum senang, siapa yang enggak suka diskusi di kamar, mumpung anak lagi sekolah, hehe.

Bahagia sekali hatiku hari ini, kedatangan suamiku yang ku rindukan, membawa banyak cinta, dan banyak duit juga. Kerinduan yang melanda membawa kami pada diskusi asmara, hmmm..

Akhirnya siang ini benar juga dia mengajakku ke tanah Abang, aku diperlakukan sebagai incess, dibelikan apa saja yang aku mau, tentunya aku membeli baju ukuran L, yang sebelumnya ukuran 3L. Woww….emejing pokoknya.

Boleh jadi lemakku sudah luntur.
Tapi cinta kami, jangan.

Boleh jadi bajuku pada kedodoran.
Tapi cinta kami, jangan.

Boleh jadi kita borong ke tanah Abang.
Tapi cinta kami jangan diborong.
Biar dicicil saja tiap hari
Supaya gak lunas-lunas
Dan nagih terus
Hehhehehe

by : Sumaryati Ummi Haidar Rafi

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here