Badut Kematian

0
74
views

“Ma … Adek mau liat badut itu,” ujar seorang gadis.
“Gak usah, badutnya jelek dan kucel. Liat badut lainnya aja.” Ucapan si ibu membuat hatiku sedih.

Aku seorang badut jelek dan kucel, karena keterbatasan biaya, sehingga tak mampu membeli kostum baru yang lebih menarik. Aku tak berputus asa, demi melangsungkan hidup anakku, kerja siang dan malam. Istriku meninggal karena tak tahan hidup miskin.

Suatu hari, ada keluarga kaya yang mengundangku untuk mengisi acara ulang tahun anaknya. Dari awal, aku sudah sampaikan kalau kostum badutku sederhana, tidak mewah seperti badut lainnya. Mereka tak mempermasalahkan itu, yang terpenting kehadiranku dapat menghibur tamu undangan.

Tibalah di hari ulang tahun anak Pak Wijaya. Ya, dia adalah orang kaya yang memakai jasaku sebagai badut. Aku disambut ramah oleh keluarga mereka.
Anak-anak tampaknya gembira dengan kelucuan-kelucuan yang kubuat. Mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang tampak tidak bahagia sama sekali. Riki, dia adalah anakku. Ternyata dia teman sekolah anak Pak Wijaya, kuyakin dia menyadari kalau badut penghibur itu adalah ayahnya. Aku berusaha bersikap profesional, menganggapnya seperti anak-anak lain yang tengah menyaksikan pertunjukkanku.

Di tengah perayaan pesta ulang tahun itu, aku mendengar omongan miring para tamu undangan.
“Gak berkelas banget sih Pak Wijaya itu, masa ngundang badut jelek gitu,” ujar seorang wanita berambut pirang.
“Iya-ya, padahal dia orang kaya. Masa ngundang badut seperti itu,” timpal yang lainnya.

Mereka memandangku sinis, padahal bagi anak-anak itu, tampilan bukan yang utama. Mereka bahagia dengan tingkah lucuku.

“Bapak ….” Terdengar suara Riki memanggilku.
“Ya, Nak. Ada apa?” tanyaku.
“Bapak, capek?” tanya Riki.
“Nggak, Nak. Kamu senang?”
“Bagaimana Riki bisa senang, sementara Bapak ….” Riki menundukkan kepalanya. Aku tahu, Riki tidak bisa senang sementara aku harus bekerja, menghibur tamu undangan dengan kostum yang berat.

“Riki, melihat tawamu, tawa teman-temanmu Bapak sudah bahagia, Nak. Jangan rusak kebahagianmu dengan memikirkan Bapak.” Kuusap lengan Riki.

“Jadi, badut jelek itu Bapaknya Riki!” ujar wanita berambut pirang.
“Kok, pihak sekolahan bisa kecolongan dengan menerima anak badut jelek ini?” Ucapan mereka sangat menyakitkan, Riki tampak murung setelah mendengarnya.

Kugelengkan kepalaku, pertanda Riki tak boleh sedih dan jangan dengarkan apa yang mereka ucapkan, Riki pun mengangguk lemah.

**°**

‘Hu-hu-hu-hu.’ Samarku dengar seperti ada yang menangis.
Segera kumenuju keluar rumah, ternyata itu Riki.
“Kamu kenapa, Nak?” tanyaku.
‘Hu-hu-hu-hu.’
Riki tidak menjawab pertanyaanku, dia terus saja menangis. Akhirnya kupeluk erat tubuh mungilnya. Perlahan tangisannya pun tak terdengar lagi. Riki tertidur di pelukkanku. Kubiarkan dia untuk beristirahat dan nanti akan kutanyakan kenapa dia menangis.

“Bapak, Riki lapar,” ujar Riki yang keluar dari kamar.
“Yuk, Bapak ambilkan nasinya.”
Riki makan dengan lahapnya, dia sangat lapar sekali. Lelah menangis ia tertidur, bangun tidur rasa lapar pun datang.

Setelah selesai makan, kuajak Riki untuk duduk di ruang tamu.
“Sini duduk, Bapak mau bertanya sama kamu.”
Riki menuruti perintahku.
“Kamu tadi kenapa menangis?”‘
Riki menunduk, kembali wajahnya bersedih.
“Riki, jawab Bapak. Apa ada yang jahatin kamu?” tanyaku lagi.
“Riki diejek teman-teman sekolah, Pak. Riki dibilang anak badut jelek.” Seketika hatiku langsung sakit mendengar cerita Riki. Dia menjadi korban bulying teman-temannya.
“Sayang, kamu jangan sedih. Selagi Bapak bekerja yang halal gak ada yang perlu malukan.”
“Iya, Pak.”
“Temanmu, yang mana?” selidikku.
“Yovi, yang Mamanya menghina Bapak di rumah Chintya.”

**°**

Sejak tampil di rumah Pak Wijaya, aku semakin menjadi sepi job. Biasanya pertunjukkan sederhana di taman masih banyak yang memakai jasa hiburku, tapi sekarang sepi. Sekolah Riki membutuhkan biaya besar.

Desas-desus yang kudengar, mereka enggan mengundangku untuk tampil di acara mereka. Karena itu akan menjatuhkan pamor mereka. Aku tak berputus asa dan yakin nanti pasti akan ada rezeki untukku.

**°**

Dua minggu berlalu, penghasilanku semakin sedikit. Bahkan untuk makan saja sudah susah. Kabar miring tentang kualitas hiburanku semakin sering terdengar. Riki juga sudah dua hari tidak masuk sekolah, karena malu ditagihkan tunggakkan uang sekolah. Ditambah lagi Riki semakin dikucilkan di sekolahannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, mungkin Riki harus menyudahi pendidikannya di tempat itu.
Kemiskinan ini membuatku dipandang hina, padahal aku selalu totalitas dalam menjalani tugas. Seprofesianal mungkin, membuat para tamu undangan terhibur.

Dari pagi perutku belum terisi apa pun, di rumah ada sepotong roti pemberian tetangga, kuberikan kepada Riki.
Lambungku sudah memberontak minta diisi, aku hanya mengisi dengan air putih saja.
‘Ulah mulut mereka, aku dan Riki menjadi sengsara,’ rutukku.

Telepon selulerku berdering, Pak Wijaya meneleponku.
“Halo Pak Rizal, bisakah Bapak mengisi acara di rumah teman saya malam ini?” Ucapan di sebrang sana bagaikan angin surga bagiku.
“Baik, Pak. Di mana alamatnya?”
“Nanti saya kirim melalui pesan, ya.”

‘Tut-tu-tut.’ Sambungan pun terputus.
Aku tidak sabar menunggu pesan dari Pak Wijaya.
Setelah menerima pesan dari Pak Wijaya, aku mempersiapkan semua perlengkapanku.

Kuhampiri Riki yang tengah tidur, kuusap kepalanya. Sedikit hangat, mungkin dia sedang tidak enak badan. Sepulangnya dari rumah teman Pak Wijaya, akan kubelikan obat penurun panas. Kucium keningnya.

**°**

Anak-anak tampak riang gembira, semua tertawa lebar. Tingkah lucuku mampu membuat mereka terpingkal-pingkal.
Sebenarnya, aku tidak begitu fokus dengan pertunjukkan ini. Aku memikirkan keadaan Riki. Aku tak meninggalkan apa pun yang bisa dimakannya. Aku sengaja tidak makan di sini, karena Riki juga pastinya belum makan.

Aku pikir hanya di acara Pak Wijaya saja aku dihina oleh para tamu. Di sini aku juga mengalaminya, hinaan demi hinaan kuterima. Hingga akhirnya, tuan rumahnya juga ikut menghinaku.
“Apa-apaan ini Pak Wijaya? Masa badut kampungan ini yang Bapak pilih sebagai hiburan di acara ulang tahun anak kami?” ujar seorang wanita paruh baya, bersanggul tinggi dan berkulit putih.
“Udah, Ma. Gak apa-apa kok. Kan anak-anak juga bahagia. Maafkan istri saya ya, Pak.” Suami wanita itu merasa tak enak hati.
“Tapi, Mama malu Pa. Ibu-ibu itu terus mengejek Mama.”
“Maafkan saya, Bu, Pak. Saya hanya membantu mencarikan hiburan yang diminati anak-anak.”
“Sudahlah, Ma. Yang penting acaranya berjalan dengan lancar. Sudah Pak Wijaya, jangan didengar apa kata istri saya. Saya sangat puas dengan jasa hibur badut pilihan Bapak.”

Kenapa semua memandangku jijik? Padahal aku tak meminta apa pun. Aku menghibur mereka, dan mereka tertawa.

Hinaan demi hinaan kudapati, luapan emosi seperti sudah tak terbendung lagi.
Mataku memerah, keringatku bercucuran.

“Pak Rizal, ada apa?” Pak Wijaya mengekutkanku.
“Ah, tidak apa-apa Pak.”
“Bapak, baik-baik sajakan?”
“Iya, Pak. Saya hanya memikirkan anak saya yang tinggal sendiri di rumah.” Terpaksa aku berbohong.

“Lho, kenapa gak dibawa tadi? Bukankah anak Bapak juga satu sekolahan dengan anak-anak kami?” tanya Pak Wijaya.
“Kondisinya lagi tidak sehat, Pak.”
“Ya ampun, kalau lagi tidak sehat seharusnya jangan ditinggal.”
“Bagaimana lagi, Pak. Sudah dua minggu saya tidak mendapatkan penghasilan yang cukup. Sekali dapat tawaran untuk mengisi acara ulang tahun, saya langsung terima.”
Pak Wijaya terdiam dan memalingkan wajahnya kepada istrinya.

“Alamat Bapak, di mana? Biar kami jemput anaknya terus dibawa ke rumah sakit,” ujar lembut Ibu Wijaya.
Aku merasa segan dengan perhatian yang diberikan keluarga Pak Wijaya.
“Gak usah, Pak, Bu. Sebentar lagi acaranya selesai. Nanti, saya belikan obat di warung saja.” Aku menolak pertolongan mereka.

“Gak apa-apa kok, Pak. Kami ikhlas, Bapak sebutkan alamat anak Bapak, nanti kami jemput.” Akhirnya aku mengalah dengan keinginan mereka yang akan menolongku dan memberi alamat rumahku kepada mereka.
“Ya sudah, kami jemput sekarang ya.” Pak Wijaya dan istrinya pamit menjemput Riki.

**°**

Tak lama kemudian, Pak Hendro si tuan rumah mendapatkan telepon dari sekretarisnya. Ada berkas penting yang harus ditanda tangani, karena akan dikirim malam ini juga.
“Pak Rizal, saya serahkan acara ini kepada Bapak. Buat semeriah mungkin, sebentar lagi saya kembali.”
Pak Hendro meninggalkan gedung tempat berlangsungnya acara ulang tahun.

Tamu-tamu Pak Hendro adalah para udangan di acara Pak Wijaya. Makanya, kenyinyiran mereka masih sama ketika acara tempo lalu.
Kupandang mereka dengan tatapan tajam, sehingga mereka semakin risih dan membenciku.

“Hei badut jelek. Berani sekali kau memandang kami seperti itu,” ujar ketus wanita berambut pirang.
“Hei miskin, berani-beraninya kau pandang istriku begitu,” timpal suami wanita itu.
Kuabaikan ucapan mereka dan berlalu meninggalkan mereka. Namun, saat aku menjauhi mereka, terdengar sebuah hinaan yang membuat emosiku semakin membara.
“Dasar, tak tau diuntung. Kalau miskin, jangan sok-sokan nyekolahin anak di tempat elit. Anak lo, cuma jadi kacung di sana ha-ha-ha.” Terdengar tawa puas mereka.
Kuberlalu, meninggalkan mereka.

Aku mengelilingi gedung ini menghindari hinaan mereka. Tampaknya gedung ini sedang melakukan renovasi, terlihat ada gergaji, palu besi, ada juga kapak.”
Aku kembali menuju tempat acara berlangsung, kutemui di belakang pentas ada kontak pencahayaan ruang ini. Sengaja kutekan tombolnya dan ruangan langsung gelap gulita.
Suasana di sini riuh, ada yang menghidupkan lampu dari ponsel mereka. Mereka berusaha mencari pintu keluar, sayangnya ruangan ini sudah kukunci sebelumnya. Orang-orang di luar tak akan mendengar kegaduhan di sini, sebab ruangan ini kedap suara.

Di sini terdapat sebuah kamar kecil, yang mungkin kegunaannya untuk menyimpan perlengkapan acara di sini. Lampunya menyala, anak-anak dimasukkan ke sana. Para orang tua menunggu di luar.

‘Nyit … nyit … nyit.’ Bunyi besi yang beradu dengan lantai. Kunyalakan kembali lampu ruangan ini, tapi sebelumnya kamar yang ditempati anak-anak itu sudah kukunci.
Mereka amat terkejut melihatku datang membawa sebuah kapak.

“Badut jelek, mau apa kau?”
‘Krek ….” Sekali tebas, kepala pemilik suara itu terlepas.

‘A-a-a-a-a.’ Teriakkan demi teriakkan terdengar oleku.

Aku mendekati wanita berambut pirang.
“Mau apa kau? Jangan dekati aku. Kalau tidak, aku akan jebloskan kau ke penjara.”
‘Bug ….’ Wanita itu tersungkur.
‘Krek … krek … krek ….’ Tubuhnya sudah menjadi beberapa bagian.

Suasana semakin riuh, jerit tangis terdengar jelas.
“Tolong … tolong ….” Pria yang marah ketika istrinya kupandangi menjerit minta tolong.

‘Krek ….’ Kepalanya terbelah dua.
Tak puas hingga di situ, aku terus menancapkan kapak itu ke tubuhnya, hingga hancur lebur.
“Kau tadi terlihat garang. Sekarang, kau terlihat amat lunak, ha-ha-ha.” Aku tertawa puas!

Bu Hendro menyaksikan secara langsung adegan antara aku dan pria malang itu. Kudekati dia, perlahan dia memundurkan langkahnya.
“Mau apa, Kau? Tolong … jangan bunuh aku. Suamiku akan memberi upah lebih untukmu.” Wanita itu memohon ampun.

“Uangmu tak berarti lagi bagiku. Nyawamu adalah penebus segala hinaanmu.”

‘Krek … krek … krek ….’ Tubuh atas dan tubuh bawahnya terpisah. Ususnya terburai, kulilitkan usus itu ke batang lehernya.

Satu-persatu penghinaan kalian sudah kubalas dengan balasan yang setimpal.
Sakit hatiku, penderitaan bagi anakku ulah dari ucapan kalian.
Ruangan yang tadinya indah dengan rangkaian bunga dan balon, berubah menjadi tempat penjagalan. Organ tubuh manusia beserakkan, darah-darah mengalir disetiap penjuru.

Aku, puas! Apa pun yang terjadi ke depannya sudah siap kuterima.
Kulempar kapak yang kugunakan untuk menghabisi nyawa orang-orang sombong itu, lalu menuju pintu keluar.

Ternyata di luar sudah menunggu Pak Wijaya, istrinya, dan Pak Hendro. Juga ada Riki.
Mereka terkejut melihatku bersimbah darah. Sedari tadi mereka sudah mencoba untuk masuk, namun mereka tak bisa membuka pintunya.

“Maafkan Bapak, Nak. Bapak tak terima mereka menghina pekerjaan Bapak. Bapak juga tidak terima mereka menghinamu,” ujarku.

“Maafkan saya Pak Wijaya, Bu, dan Pak Hendro. Saya tak bisa menahan emosi, pikiran saya dikuasai setan. Semua di luar kendali saya,” lanjutku.

Mereka berempat hanya terdiam mematung.
“Silahkan lapor polisi, Pak. Saya siap menerima resiko atas perbuatan saya.” Tiba-tiba polisi datang dan segera menangkapku. Mungkin, salah satu tamu yang menjadi korbanku sempat menelepon kantor polisi.

Aku diborgol dan digiring menuju mobil patroli.
Sebelum naik ke mobil, aku melihat ke arah Pak Wijaya dan memohon bantuan padanya.

“Pak, Bu, tolong jaga anak saya. Dia tidak punya siapa-siapa selain saya.”
“Baiklah.” Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Pak Wijaya.
Bu Wijaya memeluk erat Riki saat ia meronta ingin mengikutiku.

“Tinggallah bersama keluarga Pak Wijaya, Sayang. Nanti Bapak akan menjemputmu.”

“Bapa-a-a-ak ….”

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here