Bad Marriage #57

0
318
views

Reyhan nampak gusar. Semalaman ia sudah mencari Feby ke semua tempat yang mungkin didatanginya. Namun apa yang ia dapat? Nihil.

Rambut yang biasanya tertata rapi sekarang menjadi acak-acakan, pakaian yang selalu nampak rapi menjadi lecek, dan terlihat sedikit kantung mata yang menghiasi matanya yang memerah akibat kurang tidur.

Reyhan tengah berada di dalam mobilnya, ia menghentikan mobilnya di tepi jalan yang sepi, entah mengapa pagi ini jalan di perkomplekan rumahnya menjadi sepi. Mungkin orang-orang sedang tidak mood untuk beraktivitas pagi ini, pikir Reyhan.

Reyhan memukul setirnya dengan keras, sehingga tangannya memerah. Pikirannya kacau, ia bingung harus bagaimana sekarang. Menanyakannya kepada orang tua dan mertuanya? Tidak! itu ide buruk. Mereka pasti akan menyalahkannya dan tidak akan membiarkan Feby bersamanya lagi.

“Aaaarrghh!”

***

Alex kini sudah siap dengan baju kaos dan trainingnya, rencananya ia ingin mengajak Linda joging pagi ini, ya walaupun ia tahu pasti ia akan diusir menggunakan gunting kebun kesayangan milik Linda.

Alex sengaja tidak membawa mobilnya, karena kebetulan jarak rumahnya dan rumah Linda tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu kurang lebih dua puluh menit.

Setibanya di depan pagar rumah Linda, ia memanggil sekuriti yang sudah berdiri tegak di depan pagar.

“Pak! Ada Linda?” tanya Alex pada sekuriti yang tengah berjalan mendekat ke arah pagar.

“Ada. Mmm, Mas Alex, ya?” Alex mengangguk.

“Masuk, masuk.” Si sekuriti yang sudah kenal akan Alex segera membuka pagar agar Alex bisa masuk ke dalam.

“Makasih, Pak.” Alex tercengir lebar sembari berjalan meninggalkan sekuriti tadi yang hanya menggelengkan kepala maklum.

Alex menatap pintu utama rumah Linda dengan berbinar, lalu ia mengetuk pintu tersebut.

Selang beberapa waktu, pintu terbuka, menampakan sosok wanita yang memakai piama bergambar tayo dengan rambut yang tercepol asal-asalan.

“Hai!” sapa Alex semringah saat melihat Linda dengan penampilan yang menurutnya—lucu? Ah, entahlah, yang pasti Linda sangat menggemaskan.

Linda mengucek matanya sebentar, lalu segera menatap ke sumber suara.

Mata Linda yang semula masih setengah terpejam, kali ini terbuka lebar, sangat lebar.

“Lo ngapain ke sini?!” Linda menatap Alex jengkel.

“Mau ajak lo joging.” Alex menampakan senyum terlebarnya.

“Nggak! Gue mau tidur lagi, masih ngantuk!” Linda membalikan badannya hendak kembali melanjutkan aktivitasnya yang terjeda. Tidur.

“Gue juga sebenernya masih ngantuk, yaudah deh, gue juga ikut tidur sama lo.” Alex mengikuti Linda yang berjalan memasuki rumahnya.

Langkah Linda terhenti. Ia membalikan badannya, lalu menatap Alex angker.

“Lo mau gue sunat dua kali pake gunting kebun kesayangan gue?!” tanya Linda galak.

“Palingan cuma anceman, lagian mana berani lo sunat adik gue, liatnya aja pasti gak berani,” ucap Alex remeh.

“Lo dari dulu ngeselin, ya! Gue masukin lagi ke rahim ibu lo, baru tau rasa!”

“Lo juga dari dulu galaknya gak ilang-ilang, tapi gue suka, soalnya muka lo kalo lagi mode galak lucu, kayak Mimi Peri.” Linda mencebikan bibirnya.

“Lo kalo gak niat muji diem, deh!”

Alex terkekeh. “Jadi gimana? Mau gak joging bareng gue?”

“Gue males, Lex.” Suara Linda terdengar seperti rengekan.

“Mau, ya? Nanti gue turutin semua kemauan lo, deh, asal lo mau joging bareng gue.”

Linda menyimpan jari telunjuknya di dagu. Jika dipikir-pikir, tawaran Alex boleh juga. “Oke, deh. Tapi bener, ya, harus nurutin semua kemauan gue. Se-la-ma-nya.”

Alex berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Oke!”

“Yaudah, gue siap-siap dulu, lo tunggu di sini.” Bagai terhipnotis, Alex mengangguk begitu saja mengikuti perintah Linda. Sedangkan Linda berjalan santai menuju kamarnya seraya bersiul.

***

“Hah ….” Feby membuang nafas pendek. Ia melihat pemandangan sekelilingnya. Ini yang seharusnya ia lakukan dari awal. Refreshing.

Mungkin dengan ini sedikit masalahnya akan menguap.

Mengunjungi kota kelahiran Neneknya memang pilihan terbaik. Selain jauh dari kota tempat ia dan keluarganya tinggal, ia juga jauh dari Reyhan.

“Harusnya dari dulu gue ke Bandung.” Feby menatap jalanan di bawahnya, sekarang ia tengah berada di rooftop rumah mendiang Nenek dan Kakeknya, yang kebetulan dikosongkan karena akan dijual, tapi, sampai sekarang belum ada yang membelinya. Entahlah, mungkin harganya yang terlalu mahal atau memang tidak ada orang yang tertarik untuk membeli rumah ini.

“Sekarang, ini rumah kamu sayang,” ucap Feby sembari mengusap perutnya yang terus membesar.

***

Reta masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Badannya serasa tak mampu untuk digerakan, bahkan untuk meraih gelas di atas nakas yang berada di samping brankarnya pun ia tidak sanggup.

Ia ingin sekali menelpon seseorang untuk datang dan membantunya, tapi siapa? Satu-satunya orang yang peduli terhadapnya adalah Reyhan. Ah, tapi apakah Reyhan mau membantunya? Coba dulu, deh, pikirnya.

Reta bersusah payah meraih ponselnya di atas nakas, lalu menekan nama Reyhan di sana.

Dan … sambungan telepon pun tersambung.

“Halo! bisa datang ke sini gak?”

***

Hayyoloh, Damian sama siapa? Sama author aja kali ya?

 

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here