Bad Marriage #52

0
220
views

Feby menggeliatkan tubuhnya. Tubuhnya serasa pegal setelah melakukan beberapa adegan panas semalam bersama Reyhan.

Feby menatap wajah Reyhan yang menurutnya semakin hari semakin tampan.
Tangan Feby terulur mengusap rahang tegas milik Reyhan. Gerakannya terhenti saat tangan Reyhan memegang tangan Feby.

“Lagi apa, si?” Reyhan menatap Feby nakal. “Mau diulang lagi adegan semalam? Belum puas?”

Feby menggerak-gerakan matanya tak tentu arah. “Nggak. Ge-er!” Reyhan terkekeh, senang rasanya bisa kembali akur dengan Feby.

“Ngapain, si pake ketawa?!”
“Lucu aja liat wajah kamu.” Reyhan hendak mencubit pipi chubby milik Feby. Namun, deringan ponselnya menggangunya.

“Bentar, ya.” Reyhan meraih ponselnya yang berada di atas nakas.
“Halo,” ucap Reyhan membuka obrolan.
“Apa?!” Setelah beberapa saat suara Reyhan meninggi, membuat Feby penasaran.
Setelah sambungan telepon terputus, Reyhan kembali ke tempatnya semula.
“Kenapa?” tanya Feby heran.

“Reta ….” Reyhan menggantungkan kalimatnya.
“Reta kenapa?”
“Reta masuk rumah sakit!”

***

Reyhan mondar-mandir di depan ruangan di mana Reta dirawat.
Feby yang melihat itu jengah sendiri.
“Rey, duduk. Aku tau kamu pegel.” Kini Feby berbicara lebih lembut, ya, menggunakan aku-kamu.

Reyhan menoleh. “Tapi By.” Reyhan merengek, ia tak melanjutkan ucapannya.
“Duduk sayang.” Feby memaksakan senyumnya. Jujur, ia sakit hati. Sangat. Ya, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah menyanggupi.
Reyhan menurut, ia duduk di samping Feby. Feby meraih kepala Reyhan untuk bersandar di dadanya.

Seketika sudut hati Reyhan menghangat. Ia pikir ini adalah perlakuan termanis Feby selama mereka menikah.
Tanpa sadar Reyhan menyunggingkan senyumnya. “Makasih,” ucap Reyhan pelan, namun masih bisa didengar oleh Feby.
“Sama-sama.”

***

Setelah beberapa saat menunggu. Akhirnya keluarlah pria paruh baya dengan jas putih melekat di tubuhnya.

“Reyhan dan Feby segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Reta.

“Gimana keadaan ….” Reyhan bingung sendiri harus menyebut Reta sebagai siapanya.
“Gimana keadaan kakak saya?” Feby membantu Reyhan bertanya.
“Pasien belum sadarkan diri. Sepertinya kanker otak yang dideritanya sudah stadium akhir.” Reyhan dan Feby membuka mulutnya lebar. “Apakah, saudari Reta tidak pernah melakukan kemoterapi atau pengobatan semacamnya?”

“Ehmm, kakak saya suka bandel kalo disuruh kemoterapi,” elak Feby. Sebenarnya ia tidak tahu menahu tentang Reta dan pengobatan penyakitnya.

“Apakah ada kemungkinan untuk kakak saya bisa sembuh?” tanya Reyhan tiba-tiba.
“Jika pasien rutin melakukan kemoterapi, dengan seizin Allah, in syaa Alloh pasien bisa sembuh.”

“Jadi, intinya apa, dok? Kakak saya bisa sembuh, kan?” tanya Feby tak sabar.
Sang dokter tersenyum. “Saya dan tim medis lainnya akan berusaha semaksimal mungkin.” Dokter tersebut berjalan melewati Feby dan Reyhan begitu saja.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here