Bad Marriage #32

0
178
views

Sinar matahari menelusup ke jendela kamar di apartment Reta.
Reyhan menggeliat, lalu perlahan membuka matanya. Ia terkejut saat melihat Reta berada di hadapannya.
Reyhan menepuk jidatnya. Benar, semalam ia tidur di apartment Reta. Berdua. Dalam ranjang yang sama.
Tiba-tiba terlintas bayangan Feby di pikirannya. Seketika ia merasa bersalah.

Mata Reyhan kembali terpejam, mencoba mengingat-ingat hal apa saja yang ia dan Reta lakukan semalam. Matanya membola saat mengingat ia dan Reta melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
Padahal, semalam Reyhan tidak berniat melakukan hal itu dengan Reta. Namun, Reta yang terlalu agresif meskipun sedang sakit, mau tak mau membuat gairah Reyhan muncul.

Saat hendak beranjak dari tempat tidur, lengan Reyhan ditahan oleh Reta.

“Mau ke mana?” tanya Reta.
“Pulang.” Reyhan melepaskan tangan Reta yang mencekal lengannya.
“Kamu gak lupa, kan? Semalam kita melakuk—”
“Aku pulang,” potong Reyhan, kemudian berlalu dari hadapan Reta yang memberengut kesal.

***

Pagi hari ini, Damian tengah menikmati sunrise bersama Alex—adiknya.

“Lex, kemarin gue nemu bidadari, dong!” ucap Damian antusias. “Cakep, imut, walaupun agak tomboy,” imbuhnya.
“Cakepan juga temen yang gue ceritain ke lo.”
“Yeeh, cakepan juga cewek yang gue temuin.”
“Lo suka sama tuh cewek?” tanya Alex sembari menaikan sebelah alisnya.
“Banget.”

***

Reyhan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia tidak melihat Feby yang biasanya menonton televisi.
“Bi? Feby mana, ya? Kok, tumben, jam delapan nggak berkeliaran di dalam rumah? Belum bangun, ya Bi?” tanya Reyhan pada Bi Anah yang tengah menyapu.

Bi Anah mendongak. “Semalam, setelah diantar pulang sama cowok Non Feby gak keluar kamar sampai sekarang.”
“Diantar cowok?” Dahi Reyhan mengernyit.

“Iya, semalem, pas Tuan pamit lagi ke kantor, Non Feby pamit buat beli sate depan komplek. Nah, pulangnya pas jam tujuh lewat, diantar cowok ganteng.”

Kata ‘cowok ganteng’ yang diucapkan Bi Anah membuat Reyhan cemberut. “Jadi sekarang Feby di mana Bi?”
“Di kamarnya.”

***

Reyhan mengetuk pintu kamar Feby. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya Reyhan memutuskan untuk membuka pintu kamar Feby sendiri, siapa tahu gak dikunci, pikir Reyhan.

Benar saja, pintu kamar Feby tidak dikunci. Reyhan masuk perlahan, lalu menutup kembali pintunya.
“By?” panggil Reyhan, seraya menghampiri Feby yang tengah berbaring di atas kasurnya. “Kamu kenapa?!” Reyhan terkejut melihat Feby menangis.

***

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here