Bad Marriage #31

0
288
views

Damian keluar dari kantornya tepat pukul tujuh malam.

Ia berjalan ke arah parkiran—lebih tepatnya ke arah mobil miliknya berada.

Padatnya aktivitas kantor membuat ia lelah dan ingin segera merebahkan diri di kasur empuknya.

Ia memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.

Dari kejauhan ia sudah melihat ada sosok wanita yang berjalan di pinggir jalan. Namun, ia tak berpikir sosok wanita itu akan berjalan ke tengah, sehingga ia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Tanpa diduga sosok wanita itu berjalan ke arah tengah, membuat Damian panik sendiri.

“AAAAA!”

Ciitt ….

Sigap Damian menginjak rem mobilnya.

Mata Damian masih memandang kosong wanita yang hampir saja ia tabrak.

Cepat Damian keluar dari mobilnya, lalu menghampiri wanita tadi.

“Mbak? Mbak gak papa, kan?”

***

“Mbak? Mbak gak papa, kan?”

Mendengar suara seseorang membuat Feby membuka tangan yang menutupi wajahnya.

“Feby!” panggil suara tadi.

Feby yang semula memasang wajah terkejut seketika merubah raut wajahnya menjadi bingung.

“Si-siapa, ya?” tanya Feby takut-takut.

Orang yang tadi memanggilnya menepuk jidat. “Oh, maaf. Kenalin nama saya Damian.” Orang yang diketahui namanya Damian mengulurkan tangan. Bukannya menyambut tangan Damian, Feby malah menatap tangan itu lama.

“Ke-kenapa lo … tau nama gue?”

Damian menarik kembali tangannya, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Mbak, kan istri dari pengusaha terkenal di kota ini, masa saya gak kenal.” Jawaban itu terasa cerdas bagi Damian sendiri.

Feby bernafas lega, baginya jawaban itu cukup masuk akal.

“Mbak gak papa, kan?” tanya Damian sekali lagi.

Feby menggeleng kaku. “Nggak, kok. Maaf, gue tadi gak sadar kal—”

“Gak papa, kok. Mbak, kok malam-malam begini jalan sendiri?” potong Damian.

“Panggil Feby aja. Emm, lagi nyari angin, ini juga mau pulang.”

“Mau saya antar?”

***

“Aduh … kok Non Feby beli satenya lama, si?” Bi Anah mondar-mandir sendiri. Pasalnya tadi Feby pamit untuk membeli sate langgangannya pada Bi Anah saat pukul enam sore, tapi sampai sekarang—pukul tujuh lewat dua puluh menit, Feby belum kembali. Hal itu membuat Bi Anah didera rasa khawatir, apalagi tadi Feby berangkat tidak diantar Tarjo.

Bi Anah mendengar suara orang berbincang di luar rumah. Penasaran, akhirnya Bi Anah megintip di balik jendela.

Bi Anah terkejut, saat melihat ke luar. Nyonya muda-nya diantar pria asing?
“Itu siapa, ya?” gumam Bi Anah.

***

Part ini kurang seru, ya? Maaf

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here