Bad Marriage #30

0
391
views

“Sayang, temenin aku malam ini. Aku sakit.” Terdengar suara parau Reta di sebrang telepon.

“Sakit apa?” tanya Reyhan panik.

“Aku demam, kalo sendiri aku takut kenapa-napa.”

Tanpa pikir panjang Reyhan langsung menyetujui. “Aku ke sana sekarang.”

“Oke. Aku tunggu di apotek deket apartment aku.”

“Katanya kamu sakit?”

“Gak papa, sekalian beli obat.”

“Yaudah, aku ke sana sekarang.”

***

Reyhan berjalan menghampiri Feby dengan tergesa-gesa. “By, aku ada berkas yang belum selesai buat meeting besok. Aku ke kantor lagi, ya? Lembur kayaknya.” Reyhan menangkap raut wajah Feby yang berubah masam. “Jangan cemberut gitu, dong.” Reyhan mendekati Feby dan megecup kening istrinya singkat. “Aku jalan, ya?” Tanpa menunggu Feby menjawab Reyhan langsung melesat pergi.

“Gue gak yakin. Gue harus ikutin Reyhan.”

***

Mobil mewah Reyhan berhenti tepat di depan apotek.

Reyhan keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati wanita dengan jaket tebal yang melekat di tubuhnya.

Diraihnya tubuh wanita itu ke dalam pelukan Reyhan. “Kamu, kok bisa demam?”

“Aku gak tau. Pokoknya aku takut. Kamu mau, kan nemenin aku malam ini?” bujuk wanita tadi—Reta.

“Iya.” Reyhan mengangguk, lalu mengurai pelukannya dan mengecup kening Reta lama.

***

Taksi yang Feby naiki berhenti lima meter tepat di belakang mobil Reyhan.

Feby berjalan mengendap ke arah mobil Reyhan.

Bersembunyi. Itulah yang Feby lakukan saat ini di belakang mobil Reyhan.

Feby memunculkan sedikit kepalanya ke samping mobil. Betapa terkejutnya Feby saat melihat Reyhan mencium kening Reta dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang singkat.

Tak terasa pandangannya memburam akibat air mata yang sudah menggenang. Dadanya terasa sesak. Tangannya terkepal kuat. Semua rasa bercamuk dalam benaknya, antara sedih, marah dan kecewa.

Menyadari Reyhan dan Reta yang berjalan ke arah mobil, sigap Feby berlari kecil menjauhi area apotek.
Feby terus berlari hingga kawasan apotek tak terlihat oleh pandangannya.

Kali ini ia berjalan dengan air mata yang sudah membanjiri pipi. Ia berjalan tak beraturan, terkadang berjalan di pinggir jalan, terkadang juga di tengah jalan, sehingga mengundang protesan dari pengendara beroda.

Kakinya terus menendang angin yang tidak bersalah. Pandangannya yang memburam membuatnya tak melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Feby mendongakan kepalanya yang semula tertunduk akibat silaunya cahaya—seperti lampu yang menyorot ke arahnya.

“AAAAAAA!!”

***

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here