Bad Marriage #29

0
112
views

Setelah sarapan Reyhan diantar Feby hingga teras rumah.

“Semangat kerjanya,  ya suami.” Feby berujar girang.

Reyhan tersenyum simpul, lalu mengecup kening Feby lama.

“Pasti. Yaudah, aku berangkat.” Reyhan ke dalam mobilnya.

Mobil melaju menjauhi pelataran rumah. Feby terus memandang mobil Reyhan yang lenyap di balik tikungan.

“Lagi apa, si Non?” Bi Anah tiba-tiba muncul di samping Feby, membuat Feby terkejut.

“Si Bibi, ngagetin aja. Itu lagi liatin pemandangan indah.” Bi Anah memajukan bibir bawahnya beberapa senti.

“Humm, yang akur,” ejek Bi Anah. “Saking akurnya, Bi Anah sampai-sampai denger suara lembut nan indah di kamar Tuan Reyhan semalam.”

Senyum di wajah Feby memudar. Ia menoleh ke arah Bi Anah. “Bibi semalam nguping?!”

***

Kini Feby tengah berada di ruang tamu. Sedari tadi ia hanya memandang kosong televisi di hadapannya.

“Kok, Reyhan belum pulang ya jam segini.” Feby menatap jam dinding yang menunjukan pukul delapan.

“Nih, udah pulang.” Ada seseorang yang menyahut ucapan Feby.

Feby mengedarkan pandangannya.

“AAAAA! Udah pulang? Kapan? Kok, aku gak tau?” Feby berlari ke arah suara yang tadi menyahut ucapannya. Reyhan.

“Baru aja.” Reyhan duduk di samping Feby. Ia langsung menggeser duduknya menjauhi Feby, lalu merebahkan diri dengan paha Feby sebagai bantalnya.

Feby tersenyum. Ia mengusap-usap kepala Reyhan, membuat Reyhan nyaman sendiri.

“By?” Reyhan mendongakan kepalanya.

Feby menunduk. “Apa?”

“Malam ini, lagi ya?”

Pipi Feby merona, membuat Reyhan gemas. “Emang harus setiap hari, ya?”

“Iya, mau, kan?” Reyhan mendudukan tubuhnya.

“E-emm, ta-tapi, yang kemarin masih sakit,” cicit Feby pelan.

Reyhan mendekatkan wajahnya ke wajah Feby. “Kali ini pelan-pelan, kok. Mau, ya?”

Lama terdiam, akhirnya Feby mengangguk samar.

Senyum indah terbit di wajah Reyhan. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Feby.

Tinggal beberapa senti lagi, dan ….

Drtt

Ponsel Reyhan bergetar. Reyhan menjauhkan wajahnya dari wajah Feby.

Reyhan merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya.

Tertera nama Reta di sana. Kini Reyhan dilema. Satu sisi ia ingin bersama Feby dan tidak ingin ada yang mengganggu. Tapi di sisi lain ia tidak mungkin mengabaikan Reta, karena bagaimanapun juga Reta masih menguasai sebagian hati dan pikirannya.

“Bentar ya, aku angkat telepon dulu.” Feby mengangguk ragu.

Reyhan menjauh dari Feby, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.

“Sayang, temenin aku malam ini. Aku sakit.”

 

***

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here