Bad Marriage #27

0
48
views

Feby terus uring-uringan karena Reyhan tidur di kamarnya.

Bagaimana bisa? Tentu bisa, karena sedari tadi Reyhan terus menguntiti Feby bahkan sampai ke kamar. Feby sudah mengusirnya, namun bukan Reyhan namanya jika mudah menyerah.

Alhasil, Feby tidur di samping Reyhan dalam ranjang yang sama. Posisi tidur Feby membelakangi Reyhan, sedangkan Reyhan tidur terlentang.

Feby membalikan badannya menghadap Reyhan.

“Rey, lo jangan tidur di sini deh. Ganggu tau gak!” protes Feby.

Reyhan yang kebetulan belum tertidur menoleh kepada Feby. “Saya gak mau. Saya maunya tidur di sini … sama kamu.”

Blushing.

Pipi Feby seketika merona.

Reyhan memiringkan tubuhnya ke samping, hingga membuat keduanya saling berhadapan. Posisi itu membuat jantung keduanya berdegup dua kali lebih cepat.

“Em, ya-yaudah kalo lo mau tidur di sini, gu-gue tidur di sofa aja.” Feby hendak beranjak dari posisi tidurnya semula, namun Reyhan menggapai lengannya dan menariknya terlalu kencang, sehingga tubuh Feby ambruk di samping Reyhan, dengan tangan Reyhan yang memeluk tubuh Feby.
“Tidur di sini. Sama saya.” Suara Reyhan terdengar tegas, membuat Feby kikuk sendiri, apalagi ditambah posisi keduanya yang sangat dekat, bahkan tak ada jarak di antara mereka karena Reyhan memeluk tubuh Feby erat.
“O-oke.”

***

Sepuluh menit berlalu, keduanya belum memejamkan matanya.

“Kamu belum tidur?” tanya Reyhan yang melihat Feby bergerak-gerak gelisah.
Feby mendongak. “Lo juga belum tidur?”

“Belum.”

Hening.

“Feby?” panggil Reyhan lembut.

“Hemm,” respon Feby malas, pasalnya ia sudah mengantuk, tapi tangan Reyhan yang melingkar di pinggangnya membuatnya risi. Emm, sebenarnya si, bukan risi, tapi lebih ke—nyaman, tapi belum ada sebuah kepastian. Eaaa.

“Saya gak tau ini rasa apa, yang pasti saya nyaman saat bersama kamu.” Reyhan membuang nafas pelan.

Feby menatap Reyhan lekat.

“Feby. I love you.”

Seketika Feby membeku.

***

Reyhan berjalan bersama Feby ke dapur. Ini sudah lumayan siang, namun Reyhan belum siap-siap untuk berangkat ke kantor, mungkin ia akan kembali mengambil cuti.

Bi Anah yang melihat kemajuan dalam hubungan majikannya tersenyum tulus.

“Pagi, Non, Tuan.” Bi Anah tersenyum riang. “Tumben barengan? Lagi dimabuk asmara, ya? Kok, baru sekarang si dimabuk asmaranya? Pasangan lain, dimabuk asmaranya pas awalan nikah. Lah, ini, udah tiga bulan lebih baru mesra-mesraan.”

Wajah Feby dan Reyhan memerah. Mereka tersenyum-senyum sendiri.

***

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here