Bad Marriage #14

0
113
views
Feby menatap Reyhan nyalang, “lo kira-kira dong kalo mau nyumpel mulut gue! Jangan pake kaus kaki napa. Bau tauu!”
Reyhan tersenyum miring, “terus mau disumpel pake apa? Pake bibir saya?”
***
Feby terus uring-uringan, ia tidak bisa tidur akibat peristiwa beberapa jam yang lalu.
“Masa iya, baru disumpel pake kaus kakinya aja gue udah baper? Cewek macem apa gue ini?!”
“Aduhhh! Gue gak bisa tidur! Aargghh!!”
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
“Horrkk, horrk,” terdengar dengkuran halus dari mulut Feby.
Apa tadi Feby bilang? Gue gak bisa tidur? Heh, bahkan di menit ketiga pun ia sudah membuat pulau.
***
Feby kini tengah bersantai di depan televisi, sembari memakan kue nastar yang dibuat Bi Anah.
“Kamu lagi apa?” tanya Reyhan tiba-tiba duduk di samping Feby.
Feby menoleh sekilas, lalu memfokuskan kembali pandangannya pada televisi. “Lo buta? Apa katarak? Gak liat, gue lagi nonton?”
“Liat. Cuma basa-basi aja, biar ada obrolan.”
“Hemm. Oh ya, lo gak ke kantor?”
“Kamu pikun? Apa amnesia? Kamu gak inget, ini hari Minggu?”
“Inget. Cuma basa-basi aja, biar ada obrolan.” Feby tercengir lebar.
Reyhan menggelengkan kepalanya heran. “Punya istri kok pikunan!”
Feby ikut menggelengkan kepalanya. “Punya suami kok katarakan!”
“Kamu kok nyebelin?” protes Reyhan, sembari memasukan satu jari telunjuknya ke dalam hidung.
“Biarin. Wlee.” Feby menjurkan lidahnya.
Sigap Reyhan menempelkan jari telunjuknya yang tadi digunakan untuk mengupil ke lidah Feby.
Reflek Feby menepis tangan Reyhan. “Lo ngapain?” tanya Feby curiga.
“Nitip upil di lidah kamu,” jawab Reyhan santai.
Seketika mata Feby membola. Mungkin jika Feby ini adalah animasi kartun, pastilah di kepalanya terdapat dua tanduk serta hidung yang menguarkan asap.
“Lo kok ngeselin si?!!”
“Biarin. Wlee.” Reyhan mengikuti Feby menjulurkan lidahnya.
“Lo mau gue jurus
kamehameha?”
“Silakan! Saya juga punya jurus saringan.”
“Saringgan, bego!” ucap Feby membenarkan.
“Ya itu.”
“Sini lo! Gue tinju sampe dasar samudera pasifik, baru tau rasa lo!”
“Sombong! Saya dorong kamu sampai atas ranjang, baru tau rasa kamu!”
Mulut Feby ternganga lebar, “lo berani?!” tantang Feby.
“Nggak.”
“Cemen!”
“Biarin.”
Seketika hening.
“Rey?” panggil Feby.
“Apa?”
“Nggak, cuma nyapa.”
Hening kembali.
“Feb?”
“Hemm?”
“Nggak, cuma nyapa.”
“Oh. Rey?”
Krik Krik Krik
Tidak ada jawaban dari Reyhan.
“Reyhan?”
Masih tidak ada jawaban dari Reyhan.
“Dasar tuli!”
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here