Bad Marriage #09

0
176
views

“Kok kamu tau kalo saya bertengkar sama Reta?” Reyhan duduk di samping Feby.
“Cuma nebak,” ucap Feby sembari kembali memfokuskan pandangan pada televisi.
“Bohong! Kamu pasti nyewa penguntit kan, buat mata-matain saya?”
Feby mendelikan matanya, “curigaan lo mah. Ngapain juga gue nguntitin lo? Gak guna.”
“Huffthh.” Reyhan menyenderkan punggungnya di senderan kursi. “Tebakan kamu kurang tepat, saya tidak bertengkar dengan Reta, tapi dia marah sama saya, karena saya kasih tau dia kalo saya sudah punya istri.”
Hening.
Satu.
Dua.
Tiga.
“Huahahahahahahahahaha.” Feby tertawa sangat keras, membuat Reyhan yang tengah bersender langsung menegakan tubuhnya.
“Kenapa kamu tertawa?”
“Lucu aja, harusnya kan gue yang marah.”
“Terserah,” ucap Reyhan pasrah. “Feby, saya mohon bantu saya agar Reta tidak marah lagi.” Tidak ada jawaban dari Feby, karena lama menunggu akhirnya Reyhan memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
“Kalo gue yang marah kayak Reta, lo bakal minta tolong sama Reta supaya gue gak marah lagi?”
Reyhan menghentikan langkahnya saat mendengar suara Feby yang bergetar.
Reyhan membalikan badannya, “saya gak tau.”
“Kenapa? Karena lo gak cinta sama gue?”
Alih-alih menjawab Reyhan malah kembali melanjutkan langkahnya.
“Oh, gue mau kasih kabar. Entah ini kabar buruk, atau kabar bagus buat lo, yang pasti ini kabar bagus buat gue.” Reyhan kembali membalikan badannya.
“Kabar apa?”
“Gue udah mulai cinta sama lo. Lo percaya?”

***

Entah mengapa, sejak menikah dengan Feby, Reyhan jadi sering melamun di balkon.
“Cewek itu bisa romantis juga ya?”
Reyhan menggeleng-geleng tak habis pikir. “Kalo dilihat-lihat si, Feby lebih cantik dari Reta, cuma otaknya aja yang harus di operasi.”
Reyhan menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, “saya bilang apa tadi? Feby lebih cantik dari Reta? Aduh! Mata saya pasti katarak, masa Feby lebih cantik dari Reta?”

***

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here