(Ending) Asrama Angker #05

0
87
views

Siang nanti, Bu Yasmin berencana menemui Bu Sri. “Joko, bisa tolong ambilkan buku biru di atas meja kerja Ibu?” tanya Bu Yasmin.
“Baik, Bu.” Aku langsung saja melangkah menuju ruangan Bu Yasmin, yang kebetulan bersebelahan dengan ruangan Bu Sri.

“Baik, nanti malam akan saya laksanakan.” Terdengar suara Bu Sri yang berbicara dengan seseorang. Saat melewati ruangannya yang sedikit terbuka, Bu Sri sedikit terkejut. Ternyata tadi beliau tengah menelepon.

“Joko, mau ke mana kamu?” tanya Bu Sri.
“Bu Yasmin tadi menyuruh saya mengambilkan buku biru di atas mejanya.” Aku menundukkan kepalaku.
“Oh, ya sudah. Ambillah.” Segera saja kudekati meja Bu Yasmin lalu meninggalkan ruangan Bu Sri.

**°**

Setelah jam pelajaran usai, aku, Aldy, dan Rio mengikuti Bu Yasmin. Saat Bu Yasmin berada di ruangan Bu Sri, kami semua menunggu di luar.
Terdengar obrolan mereka.
“Maaf Bu, saya mau bertanya sesuatu,” ujar Bu Yasmin.
“Ya, pertanyaan apa itu?” tanya Bu Sri.
“Ada apa dengan asrama ini? Kenapa beberapa hari ini ada kejadian-kejadian aneh.”
“Kejadian seperti apa yang Bu Yasmin maksud?” tanya Bu Sri.
“Saya, dan beberapa penghuni asrama serta Bu Susi, Pak Hendra, dan Pak Deni juga mengalami kejadian aneh itu. Seperti penampakkan remaja di dekat kamar mandi belakang dan juga di pohon.”

“Tidak mungkin! Saya sudah puluhan tahun di sini. Belum pernah mengalami hal-hal aneh yang Bu Yasmin maksud!” Bu Sri tiba-tiba meradang.
“Maafkan saya, Bu. Saya mengatakan apa yang kami lihat. Saya tidak mengada-ngada,” ujar Bu Yasmin.
“Jangan mengarang cerita yang tidak-tidak!” Suara Bu Sri kembali menggelegar.
“Maafkan saya, Bu.” Kuintip dari jendela Bu Yasmin menundukkan kepalanya.
“Jangan sampai berita bohong ini menyebar ke luar. Itu akan merusak reputasi asrama yang sudah saya jaga berpuluh tahun lalu!” Bu Sri menghadap ke arah jendela.
“Baik, Bu.” Sekali lagi, maafkan saya.” Terdapat raut kecewa di wajah Bu Sri.
“Apa masih ada yang ingin Ibu tanyakan?” tanya Bu Sri.
“Tidak, Bu. Baiklah, saya mohon izin keluar.”
“Ya!” ujar Bu Sri tegas.

“Bu ….” Kupegang tangan Bu Yasmin. Kutahu dia teramat kecewa atas jawaban Bu Sri. Terlebih lagi kami mendengar semua obrolan mereka.
“Sabar, Bu. Lambat laun kita akan mengungkap kejadian yang sebenarnya.” Aldy menyemangati Bu Yasmin. Tampaknya Bu Yasmin kembali bersemangat.
“Baiklah, kita akan pecahkan misteri ini bersama-sama,” ujar Bu Yasmin.

**°**

Di ujung koridor asrama, terlihat Pak Deni dengan telepon seluler di telinganya, tampak dia tengah menelepon.
Saat jarakku dan Pak Deni hampir dekat, samar kudengar obrolannya dengan si penelepon.
“Baik, malam ini akan saya laksanakan.” Kata-kata itu tidak asing di telingaku. Seperti sudah mendengar sebelumnya.
Teringat waktu aku melewati ruangan Bu Sri. Ya, kata-kata yang sama yang diujar Bu Sri.
‘Mungkin hanya kebetulan saja,’ batinku.

“Heh! Joko, ngapain kamu di situ? Ngagetin aja!” Aku mengerutkan keningku. Kenapa Pak Deni juga terkejut, sama seperti Bu Sri tadi siang.

“Eh, gak ngapa-ngapain, Pak. Kebetulan lewat aja,” ujarku seadanya.
“Ya udah, lewat sana!” Aku melewati Pak Deni dengan rasa heran. Padahal aku jalan seperti biasanya, tapi kenapa dia kaget begitu?

Saat malam tiba, Bu Yasmin tiba-tiba mendatangi kamar kami. Entah sejak kapan dia masuk dan membangunkan kami.
“Joko, Aldy, Rio, bangun.” Bu Yasmin berbisik.
Dengan mata setengah terpejam, kududuk di tepi ranjang.
“Ada apa, Bu?” sambil mengucek-ngucek mataku.
“Sstttttt! Jangan berisik, pelan-pelan ngomongnya,” bisik Bu Yasmin.
“Ada apa, Bu?” Aku berbisik.
“Kalian semua, ikuti Ibu. Ada petunjuk yang Ibu dapat. Semoga bisa mengungkap misteri asrama ini,” ujar Bu Yasmin.

Lalu kami mengikuti langkah Bu Yasmin, entah ke mana kami akan dibawa. Yang pasti, rasa kantuk kami serta merta hilang karena dinginnya malam menusuk hingga ke tulang.
“Sini,” bisik Bu Yasmin.
“Ya, Bu. Ada apa?” tanya Aldy.
“Kalian lihat ini.” Bu Yasmin menunjukkan sebuah album lama yang sudah kusam warnanya.
“Kenapa dengan foto ini, Bu?” tanyaku.
“Lihat, tulisan di bawah foto ini.” Bu Yasmin menunjukkan tulisan merah di bawah foto itu.
“Mati … maksudnya apa, Bu?”
“Entahlah, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan asrama ini,” kata Bu Yasmin.

“Bu, lihat.” Aku menunjukkan tahun berdirinya asrama ini dan daftar nama pengajar-pengajarnya. Ada nama Bu Sri, sungguh tidak wajar, jika tahun berdirinya asrama itu dengan wajah dia yang sekarang nyaris tak ada perubahan. Seharusnya, Bu Sri sudah terlihat renta. Namun, ini tidak. Tak ada kerut sedikit pun, dia terlihat awet muda.

Pikiranku mulai menjalar ke mana-mana. Apa mungkin Bu Sri menumbalkan penghuni asrama untuk awet muda? Entahlah!
Bu Yasmin, juga tampak melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada di buku itu.

“Joko, apakah kita sepemikiran?” tanya Bu Yasmin.
“Entahlah, Bu. Saya harap semua itu hanya dugaan saja,” ujarku.

Tiba-tiba, terdengar suara mobil yang berhenti di depan asrama.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” tanya Aldy.
“Entah … mari kita sembunyi. Ibu takut, itu Bu Sri.” Lalu kami mencari tempat aman untuk bersembunyi.

‘tik-tuk-tik-tuk’ Terdengar bunyi langkah seseorang di koridor, tak jauh dari tempat persembunyian kami.
“Halo, saya sudah berada di koridor. Temui saya, sekarang!” Suara tegas itu adalah suara Bu Sri.

‘Sedang apa Bu Sri di sini? Menunggu siapa?’ batinku.
Kami semua berusaha mengatur napas, supaya tak mengeluarkan suara apa pun.
Seseorang yang ditunggu Bu Sri akhirnya datang.
“Mereka sudah mulai berulah, mereka mendatangi Bu Yasmin dan penghuni lainnya,” ucap Buk Sri.
“Ya, Bu. Saya tahu. Mereka juga meminta saya untuk mencari tahu tentang penampakkan mereka,” jawab Pak Deni.

“Segera saja lakukan ritual yang sudah kita susun. Mereka terlalu berbahaya. Bisa saja mereka mengetahui perbuatan kita.”
“Baik, Bu. Saya menunggu perintah Ibu.”
Apa yang akan direncanakan Bu Sri dan Pak Deni? Kenapa kecurigaanku terhadap Bu Sri semakin kuat. Apa memang dia, dalang dari semua ini?

**°**

Keesokan harinya, aku, Rio, Aldy, berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Walaupun sebenarnya, perasaan kami kacau balau. Antara takut dan ingin tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya. Bu Yasmin juga meminta kami untuk tidak bertindak gegabah, karena akan berakibat fatal.
Tunggu komando Bu Yasmin, baru kami bisa bertindak.

“Joko, kamu bisa ke ruangan Ibu? Ada sebuah map yang tertinggal di atas meja. Map warna merah. Tolong bawakan ke sini.”
“Baik, Bu.” Kulangkahkan kaki ke ruang Bu Yasmin. Tak sengaja, kudengar obrolan Bu Sri dengan seseorang. Ya, itu Pak Deni.

“Apa yang harus saya lakukan, Bu?” tanya Pak Deni.
“Bu Yasmin. Ancaman terbesar kita, dia bisa membocorkan perihal penampakkan di asrama ini, kapan saja.”
“Jadi, saya harus apakan Bu Yasmin itu?”
“Kamu habisi dia, buang saja jasadnya ke laut atau ke sungai.” Ucapan Bu Sri mengagetkanku.

“Lalu, habisi juga seorang penghuni asrama, sebagai tumbal awet mudaku!” perintah Bu Sri. Benar saja dugaanku, Bu Sri adalah dalang dari semua ini dan Pak Deni juga berperan di dalamnya.

Belum lagi map yang diminta Bu Yasmin kuambil, segera saja kutinggalkan tempatku berdiri tadi.
Dengan terburu-buru, napas yang tersengal berharap aku bisa memberitahu Bu Yasmin tepat waktu.

Belum lagi kutemui Bu Yasmin, tiba-tiba keadaan sudah gelap gulita. Saat tersadar tubuhku sudah terikat. Apa yang sudah terjadi? Kenapa aku bisa di sini dalam kondisi terikat? Ah, entahlah.

“Sudah sadar kau, bocah tengik?” suara serak milik Pak Deni membuyarkan kebingunganku.
“Lepaskan saya, Pak. Apa yang bapak inginkan?” tanyaku.
“Kau terlalu jauh mencampuri urusan orang dewasa!” pekik Pak Deni.
“Maksud Bapak, apa?” tanyaku berpura-pura tidak tahu.
“Bukankah kau telah mendengar semuanya!” Lagi-lagi Pak Deni memekik.
“Mendengar apa, Pak?” Aku masih berpura-pura tidak mengetahui apa pun.

“Sudahlah, dengan menyenggol pot bunga di depan ruangan Bu Sri saat kau menguping tadi, memudahkanku untuk menangkapmu.”
‘Haa, apa iya aku sudah menyenggol pot bunga itu? Kenapa aku tak menyadarinya?’ gumamku.

“Kenapa diam? Apakah kau mengingat sesuatu?” tanya Pak Deni sinis.
Sekarang, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Nyawa Bu Yasmin dalam bahaya, begitu juga dengan nyawaku.
Bagaimana aku bisa memberitahu Bu Yasmin tentang yang sebenarnya, sementara tubuhku terikat di sini. Di ruangan yang tak pernah kuketahui.
Di mana ini? Bagian asrama yang mana?
Kulihat sekeliling ruangan sempit yang pengap ini. Tak ada apa pun di sini, kosong. Hanya aku yang diikat di kursi.

‘Kring … kring … kring ….’ Ponsel Pak Deni berdering.
“Ya, Bu. Baik-baik, akan saya selesaikan malam ini.” Hanya itu yang bisa kudengar.
‘Menyelesaikan apa? Aku atau Bu Yasmin?’

“Jangan macam-macam, saya akan kembali secepatnya!” bentak Pak Deni.
Aku tak menghiraukan ucapannya, aku hanya memikirkan keselamatan Bu Yasmin. Kalau bukan aku, berarti nyawa Bu Yasmin dalam bahaya. Aku harus menolongnya, tapi bagaimana caranya? Tubuhku terikat dengan erat, bagaimana cara supaya bisa lepas?

Berbagai upaya kucoba untuk melepaskan ikatan di tubuhku, hingga akhirnya hasilnya tidak sia-sia. Ikatannya mulai melonggar, sehingga aku bisa meraih ikatan talinya.
‘Ah … bebas, tapi ke mana akan kucari Bu Yasmin? Aku harus cepat. Jangan sampai Bu Yasmin masuk perangkap Pak Deni.’

Langsung saja kulangkahkan kaki menuju kamar Bu Yasmin. Pasti Pak Deni juga berada di sana. Hampir sampai di kamar Bu Yasmin, terdengar olehku bunyi berisik dari ruang yang biasanya di pakai untuk gudang. Aku bersembunyi, mungkinkah itu Pak Deni? Tidak! Sepertinya itu bukan Pak Deni, ada suara-suara rintihan di dalam sana. Pelan-pelan kucoba untuk mencari tahu apa yang terjadi di dalam. Kucari asal suara itu, semakin lama suara itu semakin kuat. Dengan hati-hati kutelusuri asal suara, betapa terkejutnya aku dengan apa yang kulihat.
Ternyata Rio dan Aldy dibekap di sana. Ini sudah pasti ulah Pak Deni, demi melancarkan rencananya menghabisi Bu Yasmin.

Segera saja kubuka ikatan di tangan dan di kaki mereka, serta membuka sumpalan kain di mulut mereka.
“Kalian, tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Sudah, jangan khawatirkan kami. Kita selamatkan Bu Yasmin. Tadi, Pak Deni memukul kepala Bu Yasmin dengan kayu. Bu Yasmin pingsan, kami menjerit saat mengetahui hal itu. Lalu Pak Deni membekap kami di sini. Ayo cepat, kita selamatkan Bu Yasmin!” seru Aldy.
“Baik, ayo. Ke mana kira-kira Bu Yasmin di bawa?” tanyaku panik sambil berlari mencari Bu Yasmin.
“Entahlah, kita datangi tempat kejadian tadi. Semoga ada jejak yang bisa kita ikuti.” Aldy menyarankan untuk kembali ke tempat Bu Yasmin dipukul Pak Deni.

Sesampainya di sana, tak ada petunjuk apa pun. Namun, kami terus mencari apa saja yang bisa dijadikan petunjuk. Aku menemukan sebuah ponsel, mungkin punya Bu Yasmin yang terjatuh saat dipukul Pak Deni. Ada pesan masuk, segera kubaca, ternyata ini bukan milik Bu Yasmin, ini kepunyaan Pak Deni.

“Aldy, Rio, ini ponsel Pak Deni. Ada pesan masuk dari Bu Sri. Aku tau di mana Bu Yasmin.” Aku berlari ke arah tempat Bu Yasmin dibawa. Aldy dan Rio mengikutiku.

“Aldy, kamu bisa pegang ponsel ini? Aku akan mencari bantuan untuk menyelamatkan Bu Yasmin,” ujarku di sela-sela pengintaian kami di sebuah ruangan yang tak asing bagiku.

“Baiklah, kamu hati-hati ya?”
“Iya.” Segera saja kucoba untuk mencari bantuan. Aku teringat Pak Hendra, bukankah dia juga mencari tahu keanehan yang terjadi di asrama ini. Namun, terbesit di pikiranku apakah Pak Hendra mendapatkan peran atas sandiwara ini, atau dia benar-benar tidak tahu. Bu Susi, aku teringat lagi Bu Susi yang kesurupan beberapa hari yang lalu. Aku rasa beliau benar-benar tidak tahu tentang kejadian ini, sama seperti Bu Yasmin. Belum lagi aku sampai di kamar Bu Susi terdengar langkah kaki yang makin mendekat ke arahku. Aku langsung bersembunyi, di sebalik pot bunga besar. Langkah itu semakin dekat dan kini sudah berada tepat di depan tempat ku bersembunyi.

“Mereka merepotkanku! Aku harus bolak-balik untuk mengurusi hal tak penting ini!” hardik Bu Sri. Ya, dia yang datang ke asrama tengah malam begini.
Bu Sri kembali melangkahkan kakinya menuju tempat Bu Yasmin dan Pak Deni.
Semoga saja Aldy dan Rio bisa bersembunyi sebelum kehadiran mereka diketahui Bu Sri.

**°**

Rio dan Aldy masih tampak bersembunyi di tempat tadi, aku mendekati mereka yang tengah mengintip.
“Bu Yasmin baik-baik saja, kan?” bisikku.
“Tidak, Bu Yasmin dalam bahaya. Dia sudah babak belur dipukul oleh Bu Sri dan Pak Deni. Lihat … Bu Yasmin pingsan,” bisik Rio.

“Bagaimana, apa kamu sudah dapat pertolongan?” tanya Aldy.
Belum lagi kujawab pertanyaan Aldy, suara menggelegar memenuhi ruangan sempit itu.

“Bangun kau, Yasmin. Kau terlalu ikut campur dalam rencanaku! Kau terlalu berbahaya bagiku!” Bu Sri mengguyurkan segayung air ke wajah Bu Yasmin yang membuatnya gelagapan.
Bu Yasmin tampak lemah sekali, dia benar-benar butuh pertolongan. Saat aku hendak menolongnya, Aldy menahan tanganku.

“Jangan, ini terlalu berbahaya. Kita tidak akan bisa melawan mereka,” ujar Aldy.
Mataku berkaca-kaca saat melihat Bu Yasmin disiksa oleh mereka berdua.
Aku benar-benar tak berdaya, jika aku nekat berarti aku menyerahkan nyawaku kepada mereka.

“Apa yang Ibu inginkan? Apa maksud dari semua ini?” tanya Bu Yasmin dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Apa yang aku inginkan, bukanlah urusanmu! Keingin tahuanmu mengancam keselamatanmu!” hardik Bu Sri.
“Untuk apa, Ibu mengorbankan mereka semua?”
“Untuk apa katamu? Sudah kukatakan, ini bukan urusanmu!” Lagi-lagi Bu Sri membentak Bu Yasmin.
“Awalnya, saya hanya menduga-duga dan nyaris tidak percaya dengan sedikit bukti yang saya miliki, tapi setelah tahu yang sebenarnya, saya tak menyangka. Kenapa Ibu begitu tega mengorbankan nyawa mereka hanya untuk kepentingan Ibu? Tidakkah Ibu berpikir tentang kesedihan orang tua mereka?”

‘plaaak.’ Sebuah tamparan mendarat ke pipi Bu Yasmin. Jejak tangan Bu Sri menempel di wajah mulusnya.

“Diam, Kau! Aku menggajimu sebagai pengajar penghuni asrama. Berani-beraninya kau mengajariku!”
Aku yang sudah tidak tahan melihat penyiksaan ini, segera saja keluar dari persembunyianku.

“Cukup, sudah cukup kalian menyiksa Bu Yasmin!” Suaraku tak kalah menggelegarnya dengan suara Bu Sri.
“Hei, bocah tengik. Sejak kapan kau berada di situ? Bukannya kau tadi sudah kuikat?” tanya Pak Deni.
“Ikatanmu tak cukup kuat, Pak. Keinginanku untuk menyelamatkan Bu Yasmin lebih besar dari rasa takutku padamu!” Kutunjuk wajah Pak Deni.

“Kurang ajar, akan kuhabisi kau!” Aku berlari meninggalkan ruangan itu, sebelumnya Rio dan Aldy sudah kuberitahu untuk membebaskan Bu Yasmin, ketika aku berhasil memancing Bu Sri dan Pak Deni keluar dari ruangan itu.

Aku bingung harus lari ke arah mana, tentunya mereka berdua lebih paham seluk-beluk asrama ini. Ke mana pun aku bersembunyi, mereka pasti dengan mudah menemukanku.

Tiba-tiba, sesaat setelah aku melewati pohon besar di depan kamar mandi, terdengar teriakkan wanita.
‘Aaaaa.’

Bu Sri ambruk tertimpa pohon yang tumbang. Tak ada angin atau apa pun, tiba-tiba saja pohon tempat bersemayamnya makhluk menyeramkan itu roboh.
Dari pohon itu, terlihat seperti tulang belulang manusia. Apakah mereka semua korban dari Bu Sri?

Aku tak melihat Pak Deni, kemana dia? Kenapa aku melupakan, kalau dia tengah mengejarku.
‘Bug ….’ Sebuah hantaman keras mendarat di kepalaku.
Saat dia mengangkat tubuhku, Pak Hendra muncul dari belakang dari memukul tengkuknya.
‘Bug ….’ Dia pun ambruk.
Tak lama kemudian, beberapa polisi datang dan menangkap Pak Deni.
Sementara Bu Sri meninggal dunia.
Aldy dan Rio membopong Bu Yasmin yang masih lemah akibat dipukul Bu Sri dan Pak Deni.

Mereka mengguncang-guncang tubuhku, berusaha membangunkanku.
Aku melihat mereka semua menangis.

“Joko, maafkan aku. Andai saja aku lebih cepat menghubungi polisi, tentu saja kau masih bersama kami.” Tangis Aldy pecah saat mengetahui aku pun turut meninggal dunia setelah kepalaku dipukul Pak Deni.

Mereka mengurusi jasadku dan pihak kepolisian mengurusi tulang-tulang para korban ilmu sesat Bu Sri.

Asrama itu akhirnya ditutup.
Semoga aku dan korban lainnya pergi dengan tenang, tanpa rasa dendam.

°°TAMAT°°


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here