Asrama Angker #04

0
60
views

Buk Susi merintih sambil memandangi kami yang ada di bawahnya. Secepat kilat tubuhnya sudah berada di lantai, merangkak mendekati kami. Aku dan yang lain mundur perlahan, namun tidak dengan Buk Yasmin, dia tetap pada posisinya. Buk Yasmin mulai tampak komat-kamit, dengan lantang Buk Yasmin membaca ayat kursi ketika Buk Susi mulai mendekatinya. Tubuhnya meliuk-liuk, sepertinya setan yang merasukki tubuhnya kepanasan karena bacaan ayat alquran.
“Pegang, tangan dan kakinya!” seru Buk Yasmin.

Dengan perasaan takut kami mencoba untuk memegang tangan dan kaki Buk Susi. Sementara itu Buk Yasmin meneruskan membaca ayat alquran, Buk susi semakin meronta-ronta, kekuatannya seolah semakin kuat, sebelum akhirnya melemah dan tak sadarkan diri. Dingin sekali juga keringat bercucuran di tubuhnya.
“Joko, ambilkan segelas air putih, di sana.” ujar Buk Yasmin sambil menunjuk ke arah meja kecil di sudut kamar.

“Ini Buk, olesi hidungnya dengan minyak angin ini.” Pak Hendra memberikan sebotol minyak angin kepada Buk Yasmin.

“Terima kasih, Pak.”

Buk Yasmin mengolesi minyak angin itu ke hidung dan dahi Buk Susi. Perlahan terlihat Buk Susi membuka matanya.
Aku langsung saja menyodorkan segelas air putih yang kuambil tadi.

“Ini Buk, air putihnya.” ujarku sambil memberikan gelas yang berisi air putih itu kepada Buk Yasmin.

“Terima kasih, Joko.”

“Iya, Buk.” jawabku.

Saat Buk Susi siuman, Buk Yasmin memberinya minum.
“Apa yang terjadi? Kenapa saya tidur di lantai?” tanya Buk Susi.

“Tadi, Ibuk kesurupan.” ujar Buk Yasmin.

“Apaa?” Buk Susi tak menyadari kalau tadi dia dirasukki setan.

“Ya, tapi sekarang sudah enggak apa-apa.” Pak Hendra menenangkan.
Buk Yasmin menggenggam tangan Buk Susi.

“Baiklah, ini sudah hampir pagi. Kembalilah ke kamar kalian.” lanjut Pak Hendra.

“Baik, Pak.” ujar Kami serempak.

Dengan langkah seribu kami menuju kamar, lebih laju lagi ketika melewati pohon itu. ‘plaaaakk’ sebuah ranting patah dan jatuh ke tanah saat kami melewatinya. Sontak itu membuat kami terkejut dan berlari sekencang-kencangnya.

****

Saat tiba di kamar, kami tak bisa tidur. Akhirnya kami duduk di atas ranjang masing-masing, lalu kain penutup jendela terbuka dengan sendirinya. Saat Rio hendak menutupnya kembali, sosok menyeramkan itu tiba-tiba muncul dan menatap kami semua. Kami berlari dan membuka pintu, tapi tidak mau terbuka, padahal tidak dalam keadaan terkunci. Kami terus berusaha membuka pintu itu, tak lama kemudian sosok menyeramkan itu hilang, dan pintu terbuka dengan sendirinya. Saat hendak berlari ke luar, kami dihadang dengan kemunculan hantu-hantu. Kami kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu, kami seperti dikejar zombie.

“Sekarang, kita harus bagaimana?” tanyaku.
“Entahlah, mereka ada dimana-mana.” ujar Aldi.

Bingung entah kepada siapa kami meminta tolong, semua tempat seolah sudah dikepung para hantu itu, akhirnya kami berdiam diri di dalam kamar.

‘kletak … kletuk … kletak … kletuk….”
Lemari pakaian kami berguncang dengan sendirinya, seperti ada orang yang ingin keluar dari dalamnya. Guncangannya semakin kuat, seolah lemari itu akan jatuh saja.

‘tolooooong’ terdengar suara minta tolong dari dalam lemari itu. Kami semakin ketakutan, berpegangan tangan satu sama lain. Tak lama kemudian, tak ada lagi suara minta tolong dan lemari itu pun tak bergerak lagi.

Pagi pun datang, ternyata kami semua tertidur di lantai dalam posisi duduk. Aku bangunkan mereka semua, dan bersiap untuk ke sekolah.
Saat hendak mengambil seragam sekolah yang ada di lemari, kami semua kembali teringat kejadian semalam, perasaan takut itu datang lagi.
“Al, kamu aja yang buka lemarinya.” ujarku.
“Enggak ah, aku juga takut.” Dia menggelengkan kepalanya.
“Terus, siapa yang mau buka lemari itu?” lanjutku.

Mereka semua menggeleng dan mengangkat bahunya.

‘cekllleeekk’ ada yang membuka pintu, tapi masih dalam terkunci. Aku langsung saja membuka pintunya.

“Lho, kalian belum siap?” ternyata itu Pak Deni.
“Belum, Pak. Kami takut mau buka lemarinya.” ujarku.
“Kenapa takut?” tanyanya.
“Semalam, lemari itu gerak-gerak sendiri terus ada suara minta tolong dari dalamnya.” lanjutku.

Pelan-pelan Pak Deni mendekati lemari itu dan ia mulai membukanya.
“Tak ada apa-apa di sini.” ujarnya.

Kami semua pun melihat lemari itu, tampak biasa saja.
“Tapi, semalam Pak….” Pak Deni langsung menyanggah omonganku.
“Sudah … Siap-siap sana. Nanti terlambat!” serunya.
“Baik, Pak.” jawab kami serempak.

Setelah siap kami pun berangkat ke sekolah. Kejahilan kami di sekolah sedikit berkurang, karena pikiran kami sekarang lebih fokus dengan kejadian-kejadian yang kami alami.

Ketika masuk ke dalam kelas, suasana kelas berbeda dari biasanya. Kami mengira salah masuk kelas.
“Eh, kita salah masuk kelas deh.” ujar Aldi.
“Iya, kita salah masuk kelas.” ujarku.
“Nggak kok, ini beneran kelas kita. Masa iya kita lupa dengan kelas kita sendiri.” ujar Rio.
“Aku juga ngerasa gitu, tapi lihat ini bukan ruangan yang biasa kita pakai untuk belajar.” sambil melihat sekeliling ruangan itu.

Lalu aku melihat salah satu pajangan di dinding ruangan itu, ada daftar nama dan foto siswa yang belajar di kelas ini.
Kami melihat foto-foto itu, tak satu pun yang kami kenal dari foto itu. Kami berpandangan, namun pandanganku tertuju pada nama di seragam Aldi.
Bukan Aldi yang tertulis, tapi nama lain, dan nama itu ada di daftar foto itu.
Kami saling memandang nama yang ada di pakaian masing-masing, bukan nama kami juga yang tertulis. Tak lama kemudian bel pun berbunyi dan semua teman-teman masuk, yang anehnya mereka semua teman sekelasku. Lalu aku melirik ke arah pajangan tadi, foto dan namanya seketika berubah. Di bajuku juga tertulis namaku.
‘Ada apa ini? Sungguh membingungkan’ gumamku.

Suasana kelas sangat riuh sekali, sampai-sampai aku harus menutup telingaku.
“Diaaaaam!” teriakku.

Lalu semua mata tertuju padaku.
“Kenapa kamu, Joko?” tanya Buk Yasmin.
“Bising sekali kelas ini Buk. Saya merasa terganggu.” ujarku.
Buk Yasmin melihatku dan melihat teman-temanku.

“Tak ada yang bersuara, Joko. Semuanya tenang dan fokus belajar.” ujar Buk Yasmin.

Aku mengerutkan kening, aku tadi yakin sekali kalau ruangan ini sangat riuh.

“Ya sudah, kita lanjut belajarnya.” Buk Yasmin lanjut menulis di papan tulis.

***

Jam pelajaran sudah usai, aku bersiap untuk kembali ke asrama. Buk Yasmin menghampiriku dan bertanya tentang yang aku alami tadi ketika ia mengajar di kelas.

“Joko, apa yang kamu alami tadi, nak?”
“Banyak kejadian aneh hari ini Buk.” ujarku
“Apa saja?” tanyanya lagi.
Aku pun menceritakan semua yang kualami, dari awal masuk ke kelas ini hingga kejadian saat tengah belajar.

Buk Yasmin mengerutkan keningnya, sama bingungnya denganku.

“Baiklah, kebetulan Ibuk Sri sudah pulang. Ibuk akan bertanya kepada beliau tentang asrama ini.” ujar Buk Yasmin.

“Baik, Buk. Semoga kita bisa mendapatkan informasi tentang asrama ini dulunya.” lanjutku.
Aku kembali ke asrama dengan sejuta rasa penasaran.
Mudah-mudahan Buk Yasmin mendapatkan informasi tentang asrama ini.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here