Asrama Angker #03

0
178
views

Suasana kamar yang awalnya hening menjadi gaduh karena jeritan-jeritan kami. Kami semua ketakutan, terutama Aldi, dia orang yang paling takut.
Tak lama kemudian, Buk Yasmin, Buk susi, Pak Deni dan Pak Hendra datang.

“Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak?” ujar Pak Hendra.
“Ada, ha … ha … hantu Pak.” ujar Aldi.
“Kalian ngawur, di sini mana ada hantu.” ujar Pak Deni.

“Kenapa sih, Bapak nggak pernah percaya? Di sini ada hantu, Pak.” seruku.
“Ya sudah, sekarang kalian bawa kami ketempat di mana kalian melihat hantu itu.” ujar Buk Yasmin.

Kami saling berpandangan dan menggelengkan kepala.
“Ayo, cepat. Antarin kami ke sana!” bentak Buk Susi.
Kami kaget ketika Buk Susi membentak dan minta di antarkan ke tempat hantu itu.

“Kami, takut Buk, Pak.” ujar Rio.
“Kan ada kami semua, kalian tak perlu takut.” ujar lembut Buk Yasmin.
Kami kembali saling lempar pandangan.
Lalu Buk Yasmin merangkulku keluar dari kamar, dan mereka semua mengkutiku.

Tibalah kami di dekat pohon tadi, namun tak ada siapa-siapa di sana.
“Di sini, Buk.” aku menunjuk sebuah pohon di depan kamar mandi.

“Mana? Saya nggak ada lihat siapa pun.” ujar Pak Hendra.
“Tadi ada seseorang yang menangis di sana Pak, lalu kami mendekatinya. Saat itu tangisannya berhenti dan dia membalikkan tubuhnya. Tubuhnya penuh luka dan darah Pak.” Aldi menjelaskan kejadian yang kami alami.

Pak Deni dan Pak Hendra mengelilingi pohon itu, memang tak ada siapa pun. Pak Hendra berdiri tepat di bawah pohon itu, dan seperti ada cairan yang mengenai kepalanya, cairan itu mengalir ke keningnya. Saat Pak Hendra mengusap keningnya, ternyata itu tetesan darah. Pak Hendra terperanjak dan melihat ke arah pohon itu, ia melihat seseorang sedang bergelantungan di sana penuh luka dan darah.

“Hantuuuuuuuuu.” teriaknya sambil berlari sekencangnya.
Kami semua juga ikut lari menjauhi pohon itu, kami mengikuti Pak Hendra.
Namun saat tak terlihat Buk Yasmin.

“Berhentiiiiii!” teriakku.
Mereka semua berhenti dengan napas yang tersengal-sengal.
“Ada apa Joko?” tanya Buk Susi.

“Buk Yasmin, mana?” tanyaku.
Mereka pun baru menyadari kalau Buk Yasmin tidak bersama kami.
“Apa mungkin Buk Yasmin ke arah yang berbeda dengan kita?” ujar Pak Deni.
“Atau Buk Yasmin pingsan di dekat pohon tadi?” ujar Pak Hendra.

Lalu dari kejauhan kami melihat Buk Yasmin berjalan ke arah kami.
“Buk Yasmin.” seru Buk Susi.
“Kenapa kalian lari?”
“Kami takut Buk, Ibuk dari mana?” ujar Aldi.
“Untuk masalah seperti ini, menghindar bukanlah solusinya. Saya tadi membacakan beberapa ayat suci alquran di sana, alhamdulillah hantu yang dimaksud hilang dengan sendirinya.” lanjut Buk Yasmin.
Kami semua mengangguk.

‘hebat, Buk Yasmin. Sedikit pun dia tidak takut dengan hantu itu.’ ujarku dalam hati.

“Sebenarnya ada apa di asrama ini, Buk?” tanyaku.
“Ibuk juga kurang tahu, mungkin Pak Deni bisa menjelaskan, kan Bapak udah lama bekerja di sini.” ujar Buk Yasmin.
“Saya juga kurang tahu, Buk. Karena sebelumnya belum pernah terjadi yang seperti ini.”
“Hmm … Besok saya cari tahu ya, sekarang kita semua kembali ke kamar masing-masing.” Buk Yasmin meminta kami semua untuk kembali ke kamar.

Semuanya bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Aldi kelihatannya masih takut dengan kejadian tadi, namun dia menutupi ketakutannya dengan kesombongannya.

“Untung aja tu hantu nggak nongol di depanku. Kalau iya, bakal aku tonjok tu.” ucapnya.
Kami pun cekikikan mendengar ucapan sombongnya itu.
‘hahaha padahal tadi dia yang lari paling kencang.’ ujarku dalam hati.

Saat sampai di kamar, kami terkejut melihat keadaan kamar sudah berantakkan. Semua ranjang berpindah tempat, pakaian dari lemari juga sudah berhamburan.

“Lho, kenapa dengan kamar kita?” tanyaku heran.
“Iya ya, tadi waktu kita keluar nggak kaya gini deh.” ujar Rio.
“Jangan-jangan ….” aku menghentikan ucapanku.

“Udah deh, Joko. Jangan berpikir yang aneh-aneh.” ujar Rio.
“Sudah-sudah, kita beresin aja kamar ini, terus lanjut tidur.” ujar Aldi yang mulai menggeser ranjang pada posisinya lagi.

****

Ke esokkan paginya ketika di sekolah, Buk Yasmin menghampiri kami.
“Kejadian semalam, jangan sampai diketahui anak-anak asrama lain ya. Nanti mereka semuanya pada ketakutan.” ujar Buk Yasmin.
“Baik, Buk.” jawab kami serempak.
Buk Yasmin pun meninggalkan kami.

Sejak kejadian semalam, aku, Aldi, Rio, Medi, dan Joni, tidak begitu banyak bicara. Masih ada rasa takut kalau mengingat kejadian semalam.

Sepulang sekolah kami kembali ke kamar dan melanjutkan aktifitas seperti biasanya.
Terlihat Pak Hendra dan Buk Yasmin berdiri di depan kantor pemilik asrama ini.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kelihatan pembicaraan mereka itu sangat penting, terlihat dari raut wajah Buk Yasmin yang kebingungan.

“Teman lihat itu, Pak Hendra dan Buk Yasmin, mereka lagi ngomongin apa ya? Aku kok jadi penasaran.” ujarku.

“Enggak tahu, gimana kalau kita samperin aja.” ajak Aldi.
“Ya sudah, Yuk.”

Kami pun tiba di tempat Pak Hendra dan Buk Yasmin.

“Ada apa, Buk?” tanyaku.
“Ibuk menunggu Buk Sri, mau menanyakan tentang masa lalunya asrama ini. Tadi Ibuk digangguin oleh mereka ketika Ibuk di kamar mandi.” Buk Yasmin berbisik kepada kami.
“Sudah bicara dengan Ibuk Srinya?” tanyaku.

“Belum, beliau sedang keluar kota. Karena ada urusan di sana.” ujar Buk Yasmin.

‘braaaaaakkk’ terdengar ada benda jatuh dari ruangan Buk Sri, padahal ruangan itu terkunci.
Dari jendela, Pak Hendra mengitip, ia melihat buku-buku, pajangan, semua barang-barang yang ada di ruangan itu berjatuhan, seperti ada yang sengaja menjatuhkan, tapi tidak terlihat siapa pun di dalam. Aku pun menceritakan tentang kamar yang dalam keadaan berantakkan tadi malam.
Buk Yasmin semakin kebingungan, dia mengerutkan kening dan memegang dagunya.

“Apa sebenarnya yang terjadi di asrama ini.” gumam Buk Yasmin.

****

Malam itu, kami sudah menyusun rencana untuk mencari tahu tentang kehadiran hantu-hantu itu.
Perasaan takut kami sedikit berkurang karena keberadaan Buk Yasmin.

“Kalian semua sudah siap?” tanya Buk Yasmin.
“Ya, Buk. Kami sudah siap.” jawab kami serempak.
“Pokoknya, apa pun yang terjadi, jangan ada yang lari.” lanjut Buk Yasmin.
“Iya, Buk.”
“Pak Hendra, sudah bawa senterkan?” tanya Buk Yasmin.
“Sudah, Buk.” jawab Pak Hendra.

“Buk Susi mana, Buk?” tanyaku.
“Dia tidak ikut, mungkin karena ketakutan semalam, sekarang suhu tubuhnya panas sekali.” jawab Buk Yasmin.

Lalu kami menuju berkeliling asrama, hantu itu tidak menampakkan wujudnya secara langsung, tapi kami dapat merasakan kehadirannya. Ada yang berbentuk bayangan hitam melewati kami, atau pun ada hembusan angin seperti ada yang melesat kencang di belakang kami, dan tibalah kami di depan kamar mandi asrama, di mana tempat itu hantu menampakkan wujudnya.

‘hu … hu … hu …’ terdengar suara seseorang yang sedang menangis. Bukan satu, tapi dua dan bahkan banyak suara tangisan.

“Jangan ada yang takut.” ujar Buk Yasmin.
Walaupun kami dibentengi oleh Buk Yasmin, namun rasa takut itu tetap ada.

“Siapa kalian? Mau apa kalian menampakkan wujud kalian?” tanya Buk Yasmin.
Satu persatu suara tangisan itu berhenti, dan satu persatu hantu-hantu itu keluar. Dengan kondisi yang sama, luka dan berdarah.
Kami semua berpelukkan, kecuali Buk Yasmin.
Dia sibuk membaca ayat alquran, hantu-hantu itu pun hilang.

“Sepertinya, memang ada yang tak beres dengan asrama ini.” ujar Buk Yasmin.
“Iya, Buk. Siapa mereka? Kenapa mereka terluka dan berdarah? Dan sepertinya mereka seusia anak-anak di asrama ini.” ujar Pak Hendra.
“Kita akan dapatkan jawabannya setelah Buk Sri kembali ke asrama ini.” ujar Buk Yasmin.

Tiba-tiba terdengar teriakkan dari kamar Buk Susi, kami semua berlari menuju asal teriakkan itu. Saat sudah berada di kamar Buk Susi, kami tak melihatnya di sini.
Kami mencarinya terus, terdengar suara rintihan. Kami berhenti mencari dan suara rintihan itu berasal dari atas kami, saat kami mendongakkan kepala, Buk Susi sudah menempel di plafon kamarnya seperti cicak.

Bersambung dulu yak, vertigo emak bangsa kambuh 😣


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here