Asrama Angker #02

0
72
views

Ke esokkan paginya, aku dan Rio tidak terlalu banyak bicara, teringat kejadian semalam membuat aku dan Rio merinding.
Hal itu disadari betul oleh Aldi, sehingga dia pun bertanya tentang perubahan kami.

“Hei, kalian kenapa? Nggak biasanya kalian diam seperti ini.” ujarnya.
“Gini, Al….”
“Eh, nggak apa-apa kok.” ujarku saat Rio ingin mnceritakan tentang kejadian semalam kepada Aldi. Aku yakin ini hanya akan menjadi bahan candaan untuk Aldi.

“Nggak usah cerita sama dia.” bisikku.
“Lha, kenapa?” tanyanya.
“Dia, nggak akan percaya. Aku udah pernah nanyain itu ke dia, tapi dia malah ketawa.” lanjutku
“Maksud kamu, kamu udah ngalamin kejadian semalam ya sebelumnya?” tanta Rio penasaran.
“Iya, kamu inget nggak waktu aku minta ditemenin ke kamar mandi beberapa hari yang lalu, kan kamu bilang kalau aku ninggalin kamu yang tertidur di dekat kamar mandi.”
“Iya, aku ingat. Terus?”
“Aku, malah mikir kamu yang ninggalin aku. Sebab waktu aku terkunci, Buk Yasmin yang membukakan pintu. Kamu nggak ada di sana, saat aku udah sampai di kamar, kamu udah berbaring di tempat tidur.” lanjutku.
“Ah, yang bener kamu Joko?”
“Iya, malah aku melihat sosok seram dari luar Asrama, aku yang ketakutan membalikkan tubuhku ke arah ranjangmu, dan yang kulihat bukan kamu melainkan sosok seram itu.” aku menjelaskan kejadian malam itu.

Rio terkejut mendengar ceritaku.
“Kamu, kok nggak ada cerita masalah itu?” tanya Rio.
“Aku mengira itu hanya halusinasiku saja, dan aku pikir kamu nggak akan percaya dengan yang aku alami, sama seperti Aldi yang menertawakanku saat menanyakan tentang penampakkan.” lanjutku

****

Hari-hariku berjalan seperti biasa, setelah kejadian penampakkan itu, aku berusaha untuk tidak bangun malam lagi. Namun yang namanya ingin buang air, tidak bjsa ditentukan pagi, siang, atau malamnya.
Akhirnya tengah malam itu, aku kembali terbangun untuk ke kamar mandi.
Aku membangunkan Rio untuk menemaniku, tapi Rio tidak mau. Dia masih takut dengan penampakkan malam itu, dengan terpaksa aku harus berjalan sendirian menuju kamar mandi.
Langkahku sangat pelan sekali, saat tiba di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba penerangan di sini kedap-kedip, jelas saja ketakutanku makin bertambah. Sesaat kemudian semuanya kembali normal, aku langsung saja masuk.
Saat keluar dari kamar mandi, aku dikejutkan dengan kehadiran Rio yang sudah berada di depan pintu.

‘aaaa’ sambil mengelus dada.
“Kamu, bikin kaget aja.” ujarku.
“Aku, tak tega melihatmu pergi sendirian, makanya aku susul.” jawabnya.
Saat menuju ke kamar aku mengobrol dengan Rio untuk menghilangkan rasa takut. Namun sebelum sampai ke kamar, aku dipanggil Pak Deni.
“Joko! Sini.” Pak Deni melambaikan tangannya.
“Bentar ya, Rio. Aku ke tempat Pak Deni dulu.” ujarku.
“Iya.” jawabnya singkat.

Aku pun melangkah ke arah Pak Deni, yang saat itu tengah berkeliling asrama.
“Kamu, dari mana?” tanya Pak Deni.
“Dari kamar mandi, Pak.” jawabku.
“Sendirian?” tanyanya lagi.
“Enggak Pak, tuh sama ….” aku menghentikan ucapanku, saat tak melihat keberadaan Rio.
“Sama siapa?” lanjut Pak Deni.
“Tadi, ada Rio di sana, Pak.” ujarku sambil menunjukkan arah aku dan Rio tadi berdiri.
“Enggak ada siapa-siapa, Joko. Bapak dari tadi melihat kamu seperti tengah mengobrol, tapi yang Bapak lihat kamu itu sendirian.” ujar Pak Deni.
“Enggak mungkin, Pak. Tadi ada Rio yang nemenin saya.” aku meyakinkan Pak Deni.
“Ya, sudah gini aja, ayok Bapak antarkan kamu ke kamar, terus lihat di sana ada Rio atau tidak?”
“Baik, Pak.” ujarku.

Saat sudah sampai di kamar, aku melihat Rio tertidur pulas di ranjangnya.
“Tuh, kamu lihat sendirikan. Rio tertidur pulas.” ujar Pak Deni sambil menunjukkan tubuh Rio yang berbaring di tempat tidur.
“Ya, bisa saja ketika Bapak manggil saya, dia langsung kembali ke kamar.” ujarku.
“Enggak, Joko. Kamu tadi itu ngomong sendirian, nggak ada Rio atau siapa pun di samping kamu.” lanjut Pak Deni.

‘nggak mungkin, tadi nyata kok Rio nemenin dan ngobrol sama aku kok’ ujarku dalam hati.

“Ya, sudah kamu tidur saja lagi, Bapak mau keliling asrama lagi.” ujar Pak Deni.
“Iya, Pak.” jawabku.

Aku merasa heran, kalau tadi itu bukan Rio, lalu siapa?
Mendadak ketakutanku makin bertambah, tiba-tiba ranjangku bergoyang-goyang. Seperti tengah terjadi gempa, kupegang erat tepian ranjang dan guncangannya semakin kuat.
‘tolongggggg’ teriakku.
Namun tak ada yang mendengar teriakkanku, perlahan ranjangku mulai berhenti bergoyang. Napasku tersengal, kenapa aku mengalami semua ini?
Kutarik selimut dan kututupi seluruh tubuh, lalu tidur dengan rasa takut.

****

Saat berada di dalam kelas, aku menghampiri Rio, dan bertanya tentang kejadian semalam.
“Rio, semalam kamu yang nemenin aku ke kamar mandikan?” tanyaku.
“Enggak, kan aku udah bilang semalam. Aku takut.” ujarnya.
“Tapi, semalam kamu nyusulin aku, terus kita sama-sama kembali ke kamar, tapi sebelumnya aku dipanggil Pak Deni, saat aku menghampirinya, kamu sudah tidak ada dan sudah kembali ke kamar.” lanjutku.
“Nggak mungkin, aku semalam nggak kemana-mana kok.” ujar Rio.
“Iya, Pak Deni juga bilang gitu. Katanya aku sendirian, nggak ada siapa pun yang menemaniku.”
Aku dan Rio saling berpandangan, terlihat keringat Rio membasahi keningnya, kurasa Rio sama takutnya denganku.

“Hai, kalian kenapa sih? Akhir-akhir ini kalian banyak diam.” Aldi pun menghampiri kami.
“Percuma kamu tahu, kamu juga nggak akan percaya.” ujar Rio.
“Emang, apaan sih?” tanya Aldi yang penasaran.
Aku dan Rio kembali berpandangan, ragu, antara cerita atau enggak masalah ini kepada Aldi.

“Kamu, janji nggak akan tertawain kami?” ujarku.
“Iya, aku janji.” jawabnya.
“Kami, berdua beberapa kali digangguin hantu. Awalnya hanya aku saja tapi kemarin Rio juga mengalaminya.” ujarku.
“Haa, mustahil. Kenapa aku nggak pernah digangguin?” tanya Aldi.
“Entahlah, yang jelas sosok itu menyeramkan.” lanjut Rio.
“Hmm … Aku jadi penasaran.” ujar Aldi.
“Jangan sampai kamu ketemu, ngeri Al.” ujar Rio.
“Gimana, caranya supaya bisa ketemu itu hantu.” Tanya Aldi sedikit sombong.
“Kamu, yakin?” tanyaku.
“Iya, aku yakin.” Jawabnya.
“Ya sudah, tengah malam nanti kamu pergi ke kamar mandi. Kamu pasti ketemu hantu itu di sana.” ujarku.
“Ok, siapa takut.” Serunya.
Rio mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya.

****

Sebelum tidur, aku sengaja untuk buang air kecil terlebih dahulu, agar tak terbangun tengah malam nanti, setelah itu aku tidur.
Rasanya baru saja aku memejamkan mata, tiba-tiba ada yang membangunkanku.
“Joko, bangun, hei … Ayo bangun.” Aldi membangunkanku.
“Apaan sih Al, aku ngantuk nih.” seruku.
“Ayo, katanya mau ngeliat hantu.” ujarnya.
“Ah enggak, kamu aja sendiri. Aku takut dan aku juga ngantuk nih.” ujarku sambil tidur kembali.
“Ayo, bangun, Rio, kamu bangun juga.” Aldi juga membangunkan Rio.
Aldi dan beberapa teman yang lain sudah menunggu, sementara aku dan Rio masih berbaring di tempat tidur.

“Joko, Rio, ayo bangun. Kalau tidak, aku akan beri kalian pelajaran.” ancam Aldi.
Aku mendengar ancaman itu langsung saja bangun dan duduk di pinggir ranjang, begitu juga dengan Rio.
“Ya sudah, ayo.” ajak Aldi.

Dengan berat hati, aku ikuti langkah Aldi dan teman-teman yang lain.
Aldi sangat sombong sekali, seolah-olah dia tidak takut kalau nanti ketemu hantu.
“Mana, hantunya haa?”
‘sombong sekali, kalau nanti bener-bener ketemu, yang ada dia lari duluan.’ ujarku dalam hati.
“Joko, mana?” tanyanya dengan penub kesombongan.

‘dubrraaaaakkk’ tiba-tiba pintu kamar mandi itu tertutup sendiri, dan benar dugaanku, Aldi orang pertama yang berteriak ketakutan.
“Tuh kan, hantu itu sudah datang.” ujarku dengan tubuh yang gemetar.
“Ma … Ma … Mana?” tanyanya yang kembali penuh kesombongan.
“Udah deh Al, jangan takabur gitu. Ntar dia bener-bener muncul.” ujar Rio.

‘hu … hu … hu …’ kemudian terdengar suara tangisan seseorang. Kami semua melihat sekeliling tempat kami berdiri, mencari asal suara itu. Tangisan itu berasal dari sebuah pohon di depan kamar mandi. Pelan-pelan kami mendekati pohon itu, tangisannya semakin kuat. Terlihat ada seseorang yang memunggungi kami, lalu Aldi bertanya kepadanya.
“Hai, kamu siapa? Kenapa menangis di situ?”
‘hu … hu … hu … hu ….” tangisannya semakin kuat, lalu Aldi menepuk pelan bahu itu. Dia berhenti menangis, saat dia membalikkan tubuhnya, kami semua terpental karena terkejut melihat wujudnya yang seram dan dipenuhi luka beserta darah.
Kami semua lari terbirit-birit, dan kembali ke kamar.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here