Asrama Angker #01

0
166
views

Aku seorang anak lelaki beranjak remaja, kedua orang tuaku sangat kewalahan menghadapi kenakalanku. Hingga akhirnya mereka memasukkan ke sebuah asrama khusus anak-anak nakal sepertiku. Di sana juga terdapat sekolah pada umumnya, awalnya aku menolak, karena aku akan terasa seperti di penjara.

“Joko, kamu harus berubah. Tak selamanya Ayah dan Ibu terus mendampingimu. Jadilah orang yang berguna bagi orang lain.” ujar Ayah setelah menitipkanku di asrama, aku tak perduli dengan ucapan orang tuaku. sebab aku berpikir karena mereka tak sayang padaku sehingga aku diantar ke tempat ini.

Aku berlalu meninggalkan mereka dan menuju kamar yang sudah ditentukan pengurus asrama.
Saat kubuka pintu kamar, terlihat ada enam tempat tidur yang berjajar rapi, terlihat sangat sederhana, hanya kasur dan lemari tua yang ada di sini.
Aku mendapat posisi tempat tidur di dekat jendela, yang langsung menghadap ke arah luar.
Kutata pakaianku di dalam lemari yang ada di samping ranjangku.

Setelah itu, aku berkumpul dengan penghuni asrama lainnya, yang keseluruhannya anak laki-laki.
Ada yang sudah berubah menjadi anak baik-baik, ada juga yang masih nakal. Aku yang mendapatkan teman yang cocok denganku, dia salah satu yang ditakuti anak-anak asrama. Aku mencoba untuk akrab dengannya, dan tanpa basi-basi aku pun sudah bisa akrab dengannya.

***

Sore harinya seluruh anak-anak asrama mengantri untuk mandi, namun hal itu tidak berlaku pada Aldi. Ya, dia adalah teman baruku yang sangat ditakuti itu.
Saat dia akan mandi, secara langsung anak-anak asrama memberinya jalan untuk menuju kamar mandi. Dengan kasar dia mengetuk pintu kamar mandi, membuat orang berada di dalam bergegas keluar.

Setelah beberapa hari aku di sini, aku pun sudah sangat akrab dengan teman-temanku, kami sering menjahili penghuni asrama lainnya. Keseruan itu membuat kami bertambah nakal, karena bukan hanya menjahili saja, bahkan kami sempat melakukan kekerasan fisik pada mereka. Mereka sudah kami ancam, jika melaporkan kenakalan kami, maka mereka akan merasakan akibatnya.

***

Suatu malam, aku terbangun karena ingin ke kamar mandi. Walaupun aku termasuk geng yang ditakuti, aku tetap saja takut kalau ke kamar mandi sendirian di tengah malam. Akhirnya aku membangunkan Rio untuk menemaniku.
“Rio, bangun. Temenin aku ke kamar mandi.”
Dengan sedikit kesal Rio menepis tanganku yang telah membangunkannya.

“Apa sih, kamu ganggu aja.” ujarnya.
“Temenin aku, aku kebelet pipis.” ujarku.
“Iya … Ya.” sambil turun dari tempat tempat tidur.

Rio mengucek-ngucek matanya, sedangkan aku berjalan dengan cepat menuju kamar mandi.
Kamar mandi di sini tampak angker kalau di malam hari, ditambah lagi dengan penerangan yang seadanya menambah suasana ngerinya.
Setelah buang air kecil, aku pun membuka pintu, tapi pintu itu tidak bisa dibuka, padahal aku tidak menguncinya tadi. Lalu aku memanggil Rio yang berada di luar.
“Rio, bukain pintunya. Jangan bercanda!” bentakku.
Namun tak ada jawaban dari luar, ini keterlaluan, aku pun tak luput dari kejahilan mereka.

“Rio, buka pintunya. Jangan bercanda, nanti aku pukul kamu!” aku yang sudah sedikit kesal dengan keusilan Rio mengancam akan memukulnya jika dia tidak berhenti menjahiliku.

‘tok … tok … tok … tok ….” Kuketuk pintu itu dengan kuat.
Lalu ada seseorang dari luar sana yang bertanya padaku.

“Siapa di dalam?” ujar seorang wanita.
“Saya Bu, Joko.” ujarku.

“Cekleekk’ pintu kamar mandi terbuka.
“Kenapa kamu mengetuk pintu segitu kuatnya?” tanya Buk Yasmin, salah seorang guru di sini.
“Tadi saya pipis Buk, ketika saya mau keluar, pintunya terkunci.” ujarku.
“Terkunci, itu tadi Ibuk bisa dibuka tanpa kunci.”
“Entah lah Buk, tadi saya ditemenin sama Rio, enggak tahu kemana dia sekarang.”

“Ya sudahlah sekarang kembali ke kamarmu.” ucap Buk Yasmin.
“Baik, Buk.” aku pun bergegas menuju kamar dengan perasaan kesal dengan Rio.

Saat tiba di kamar, aku lihat Rio sudah kembali tidur. Ingin sekali aku memukulnya, sebab sudah mengunciku di kamar mandi dan sekarang dia malah tidur.
Aku pun kembali ke ranjang, saat tubuhku menghadap ke arah jendela, aku melihat sesosok mahkluk yang menyeramkan di antara pepohonan di luar. Seketika aku membalikkan tubuhku dan sosok itu berada di ranjang Rio.
Aku pun berteriak dan bersembunyi di balik selimutku.

***

Saat pagi hari Rio datang dan dia marah-marah padaku.
“Joko, kamu ini gimana sih? Tadi malam minta ditemenin ke kamar mandi, ketika udah selesai kamu tinggalin aku.” ujarnya kesal.
“Lho, kamu yang ninggalin aku kok.” ujarku.
“Aku tertidur di kursi yang tak jauh dari kamar mandi itu, untung saja Buk Yasmin membangunkanku, kalau tidak mungkin aku akan tertidur di sana sampai pagi.” lanjutnya.

Aku bingung, tadi malam kulihat Rio tertidur di ranjangnya sebelum sosok menyeramkan itu berada di tempat itu.

“Ya udah, maafin aku. Aku nggak tahu kalau kamu masih nungguin aku, sebab waktu aku terkunci, kamu tak datang untuk menolongku.” ujarku.

Lalu kami pun pergi ke kelas yang ada di asrama ini, aku dan teman-temanku tak memperhatikan guru yang tengah mengajar di depan. Kami asyik berbisik-bisik, saat pandanganku tertuju pada papan tulis, aku melihat seperti ada darah yang mengalir dari sana.

“Darah.” seruku.
Semua mata kini tertuju padaku, dengan raut wajah heran, mereka semua memandangku.

“Kamu kenapa Joko? Darah apa?” tanya Buk Yeni.
“Itu Buk, papan tulisnya berdarah.” ujarku.
Lalu Buk Yeni melihat ke papan tulis, dan menggeleng ke arahku.

“Mana? Tak ada darah Joko.” ujar Buk Yeni.
Aku mengucek-ngucek mataku, setelah itu aku lihat lagi papan tulis. Benar saja, papan tulis itu hanya di penuhi dengan tulisan-tulisan Buk Yeni, dan tak ada darah.
Buk Yeni pun kembali melanjutkan pelajarannya.

***

Jam istirahat aku duduk sendiri di kantin, aku merasa heran, kenapa aku melihat hal-hal aneh yang belum pernah aku alami sebelumnya.

“Hai Bro, kenapa kamu?” ujar Aldi.
“Eh, kamu Al.” jawabku sedikit terkejut dengan kehadirannya.
“Kamu, melamun? Apa yang kamu lamunin? Rindu Ayah Ibumu ya? Hahaha” Aldi mengejekku.
“Apaan sih, oh ya kamu pernah ngalamin hal aneh nggak sih?” tanyaku.
“Hal aneh apa maksudmu?” Aldi kembali bertanya padaku.
“Iya, seperti ngelihat setan gitu.” bisikku.
“Hahahaha …. Ada-ada aja kamu. Mana ada setan yang berani nunjukkin wujudnya kepadaku.” Aldi tertawa lebar.
‘uh … Sombong amat, ntar kalau udah ketemu, pasti terkencing-kencing kamu’ ujarku dalam hati.
“Ya udah, ayok gabung sama yang lain.” Aldi mengajakku untuk bergabung sama teman-teman yang lain.

Saat bersama teman-teman, aku tetap saja melamun, memikirkan kejadian yang aku alami. Tak lama kemudian Rio memanggilku,
“Joko, mikirin apaan sih?” tanyanya.
Aku hanya meliriknya, dan tak menjawab pertanyaannya.

“Woii, bengong aja.” ujarnya lagi.
“Rio, tadi malam beneran kamu nungguin aku sewaktu aku di kamar mandi?” tanyaku.
“Ya iya lah, aku nungguin kamu sampai tertidur. Emang kenapa sih?”
“Tapi, tadi malam aku terkunci di dalam kamar mandi, terus aku manggil-manggil kamu. Apa kamu tidak dengar?” tanyaku.
“Orang lagi tidur, ya nggak kedengaran kalau kamu manggil.” lanjutnya.

Aku teringat dengan Rio yang berbaring di tempat tidurnya, tapi dia bilang, dia tertidur di kursi di dekat kamar mandi.
‘Jadi siapa yang ada di ranjang Rio tadi malam?’ batinku

***

Saat tengah malam, kembali aku terbangun karena ingin buang air kecil, lagi-lagi kubangunkan Rio.
“Rio, bangun. Temenin aku lagi ya.” ujarku.
“Ah, males. Entar kamu ninggalin aku lagi.” ujarnya dan melanjutkan tidurnya.
“Enggak, aku enggak akan ninggalin kamu lagi.” pujukku.
Dengan rasa kantuk yang begitu kuat, sehingga dia memejamkan matanya saat berjalan menemaniku ke kamar mandi.

“Pintunya jangan di kunci.” ujar Rio dari luar.
“Ya.” jawabku.

Setelah buang air kecil, aku dan Rio kembali ke kamar, namun sebelum sampai di kamar, kami di kejutkan dengan sosok seram yang aku lihat kemarin. Rio yang awalnya mengantuk kini berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak.

“Haaaantuuuuuuuuuu.”

Kami pun masuk ke kamar dan menyelimuti seluruh tubuh kami.
Keringat dingin mengucur dari keningku.
Tiba-tiba …
Terdengar seperti orang yang sedang membuka pintu dan suara langkah kaki yang menuju ke arah kami.
Kami kembali berteriak saat seseorang menarik selimut kami.
‘aaaaaaaaaa’ ternyata orang itu adalah Pak Deni.

“Kenapa kalian tadi berteriak?” tanyanya.
Napas kami masih tersengal-sengal, sehingga kami tidak menjawab pertanyaan Pak Deni, dia adalah penjaga asrama ini.

“Tadi, waktu berkeliling asrama ini, saya melihat kalian berdua berteriak dan berlari dari arah kamar mandi. Kenapa kalian berteriak?” tanyanya lagi.

“Kami tadi ngeliat hantu, Pak.” ujarku.
“Ngawur, mana ada hantu di sini.” ucap Pak Deni.
“Beneran Pak, kami tadi melihat hantu berwajah seram.” lanjut Rio.
“Sudah lah, kalian tidur sana. Omongan kalian sudah ngelantur.” ujar Pak Deni sambil meninggalkan kamar ini.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here