Anya Alvaro #07

0
83
views

“Alvaro!” teriak Anya berjalan mendekati Alvaro yang sedang makan bersama Reihan.

“Duh, dia ngapain sih.” batin Alvaro.

“Al, hari ini temenin gue ke toko buku yuk.” ajak Anya tersenyum.

“Hah? Toko buku?” cetus Alvaro menaikan sebelah alisnya.

“Alvaro ada urusan sama gue.” sahut Reihan menatap Anya.

“Oh gitu, ya udah deh.” Anya langsung pergi dengan sedikit kecewa.

“Anya, gue mau temenin lu kok!” teriak Alvaro menatap Anya.

“Benarkah?” Anya langsung tersenyum menatap Alvaro.

“Al, rencana bolos kita gimana?” bisik Reihan.

“Sekitar jam 2 an kita balik kesini lagi.” sahut Alvaro sambil berbisik.

-0o0-

“Anya,” sapa Alvaro yang sudah berdiri di depan kelas Anya.

“E-eh, gue kira lu bohong.” ucap Anya sambil tersenyum.

“Gak lah, yuk.” ajak Alvaro.

Keduanya pergi bersama ke toko buku dengan menggunakan sepeda motor, Anya menatap Alvaro dari pantulan kaca spion.

“Lu kenapa sih Al, suka bolos?” tanya Anya.

“Gue pengen aja, gue bosen di sekolah terus.” sahutnya datar.

“Sejak kapan lu ngelakuin ini?” tanya Anya lagi.

“Sejak gue kelas 3 SMP, kenapa? Lu bingung kenapa gue bisa naik kelas?” celetuk Alvaro tersenyum tipis dari balik maskernya.

Anya terdiam menunggu jawaban Alvaro.

“Saat ujian gue selalu hadir, dan gue minta materi buat ujian nanti ke anak-anak. Lu kira berandal kaya gue gak pinter?” balas Alvaro.

Anya dan Alvaro telah tiba di toko buku yang di maksud Anya, kemudin Anya berkeliling di sekitar rak buku yang berisi buku yang masih tersegel.

Sementara Alvaro hanya menunggu Anya sambil memainkan ponselnya.

“Al, menurut lu bagusan yang mana?” tanya Anya menunjukkan dua buku yang dengan cover yang berbeda.

“Nih, lu baca dulu contoh dari bukunya. Baru lu bisa nentuin mana buku yang menarik buat lu.” jawab Alvaro sambil menyerahkan buku yang sudah tidak tersegel.

Sekitar 5 menit akhirnya Anya menemukan pilihannya setelah membaca kedua buku tersebut secara singkat.

“Gue beli dua-duanya deh.” tutur Anya sambil tersenyum.

“Dari tadi kek,” ucap Alvaro datar.

“Lu jarang senyum ya.” kata Anya sambil memegang pipi Alvaro.

Alvaro terkejut dengan perlakuan Anya langsung menepis tangan Anya dengan kasar.

“Apaan sih! Gue emang gak suka senyum.” tukas Alvaro datar.

“Coba deh mulai sekarang lu sering senyum, gue yakin dengan lu senyum hari-hari yang lu jalanin bakal terasa ringan.” ujar Anya tersenyum menatap Alvaro.

Alvaro masih terdiam menatap Anya.

“Yuk pulang,” ajak Anya sambil berjalan kearah kasir.

Dirumah Alvaro.

“Apaan sih itu cewek, berani-beraninya pegang pipi gue.” ucapnya sambil mengusap pipinya dengan kasar berharap tangan bekas Anya hilang.

Alvaro terdiam sejenak kemudian kembali mengingat kata-kata Anya.

“Tersenyum katanya?” gumam Alvaro bangkit berdiri menatap cermin di kamarnya.

Alvaro menatap dirinya di cermin sambil sesekali dia tersenyum. Kemudian kembali memegang pipinya lalu tersenyum lagi.

“Ck, gue ngapain sih!” ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Alvaro membuka ponselnya lalu menghubungi Reihan.

“Halo, kenapa Al? Hari ini kan kita gak ada balapan.” ucap Reihan dari balik telepon.

“Ck, gue tau bodoh! Gue mau nanya gue jarang senyum ya?” tanya Alvaro mengecilkan suaranya.

“Hah? Tumbenan banget Al, lu nanya kaya gitu?” tutur Reihan sedikit berteriak.

“Jawab Rei, iya atau gak?” tanya Alvaro kesal.

“Iya, lu jarang senyum Al, tapi menurut gue ketampanan lu meningkat kalau lu sering senyum.” jawab Reihan.

“Ck, jangan konyol Rei. Gue gak bisa senyum atau tertawa dengan lepas setelah ibu gue meninggal.” ungkap Alvaro sedikit mengenang masa kecilnya.

“Gue tau Al, oh ya nanti gue telepon lagi ya. Gue ada urusan sebentar.” Reihan menutup panggilannya.

Alvaro menatap dirinya kembali di cermin lalu pikirannya membawa dirinya kepada Alvaro kecil.

“Nanti kalau Alvaro udah besar, ibu ikut Alvaro ya ke bulan.” kata Alvaro kecil sambil menunjuk bulan.

“Ayah diajak gak?” tanya ibu Alvaro sambil tersenyum menatap anaknya.

“Pasti lah, bu. Tapi Alvaro maunya ajak ibu!” rengeknya.

“Makanya anak ibu makan yang banyak ya biar cepat besar, kalau udah besar kita pergi ke bulan.” ucap ibu Alvaro sambil mengelus rambut putranya.

Alvaro kecil tersenyum lebar menatap ibunya, lalu memeluknya dengan erat.

“Ibu…” Alvaro meneteskan air matanya sambil menatap foto ibunya yang dia simpan di atas meja belajarnya.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here