Antara Cinta dan Persahabatan # 40

0
44
views

Shofa duduk dibangku kelasnya. Diam dan membisu seperti biasa, menatap satu persatu teman yang sedang asyik ngobrol dengan tatapan semu.

“Kamu ini kenapa sih Fa?” tanya Yusuf yang datang dan duduk disebelah Shofa.

“Mungkin Shofa lagi galau Suf, Iya kan Fa?” celetuk Rindu yang ikut duduk tepat didepan Shofa.

Yusuf dan Rindu pun tertawa, “Kak Rindu kok masuk kelas kita, ngulang ya?” tanya Yusuf.

“Iya, nilai gw rendah, dosennya pelit nilai,”

“Fa, ngomong donk, diam aja dari tadi,”

Shofa hanya tersenyum, sambil melirik Yusuf,

“Aku lagi malas, Suf, udah deh jangan ngegodain mulu. ” ucap Shofa sambil berusaha memalingkan wajahnya.

“Siapa juga yang mau goda kamu? Nggak usah mikirin yang aneh-aneh deh!”

***

Shofa menyadari dirinya jadi lebih berbeda dari biasanya. Pasif, diam, dan pemurung, bahkan Nggak pernah mau keluar rumah. Setiap kali di ajak kumpul Shofa selalu menolak dengan alasan-alasan yang selalu dibuatnya.

“Fa, Kamu kok gitu, kenapa jadi pemurung gini, kamu nggak kayak yang dulu Fa?”

“Gak ada yang berubah dari aku Suf, ya aku masih Shofa yang dulu, ”

“Kamu jadi pasif gini sih, kamu sekarang suka nangis, kalau di ajak kumpul kamu nolak terus, ayolah Fa, jangan seperti ini,”

“Percuma juga kan kalau aku ikut kumpul, aku ga bisa apa-apa.”

“Maksud kamu, Fa?”

“Entahlah, Suf”

Shofa pergi meninggalkan Yusuf, begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari Yusuf, namun Shofa hanya diam dan menanggapi dingin akan hal ini.
Kesedihan Shofa yang tak berujung, terus menerus datang silih berganti, air mata juga tak henti-hentinya meluncur dari mata Shofa.
Shofa menuangkan kesedihannya dengan mencoret-coret dan membuat gambar-gambar sketsa baju-baju.

***

Dikamarnya yang sunyi, sepi tanpa suara, perlahan… samar-samar mulai terdengar sebuah petikan gitar dan diiringi dengan suara yang bernyanyi mengikuti nada gitar tersebut, sebagian lirik lagu Jikustik berjudul puisi dinyanyikan Shofa dengan suaranya yang pelan.

“kapan lagi kutulis untukmu
tulisan tulisan indahku yang dulu
warna warnai dunia
puisi terindahku hanya untuk mu
mungkinkah kaukan kembali lagi
menemaniku menulis lagi
kita arungi bersama
puisi terindahku hanya untukmu

terdengar suara pintu kamar terbuka, tampak Yusuf sedang berdiri di depan pintu kamar Shofa dengan sebuah minuman ditangannya.

“Oh iya, aku lupa, sebentar ya Fa,”

Yusuf kembali keluar dari kamar Shofa, dan tidak lama kemudian muncul dengan membawa sebuah boneka kesukaan Shofa, “Ini, buat kamu Fa,” Yusuf memberikan boneka minni mouse yang gedenya hampir sama dengan Adik Shofa.

“Makasih, Suf, kamu gak perlu repot-repot seperti ini,”

“Aku gak repot koq,”

***

Pagi hari Shofa terbangun dari tidurnya, sinar mentari pagi yang menembus kamarnya, dengan angin pagi itu membuat Shofa tenang, namun Shofa sedikit merasakan seperti sakit yang menusuk-nusuk kepalanya, Shofa mencoba untuk bangun, namun rasa sakit semakin menghantamnya.

“Sakit…” lirih Shofa, sambil tangannya disilangkan memegang kedua lengannya dan meremas rambutnya. Kembali muncul air di sudut mata Shofa.

“Ibu!!!” lirih Shofa, memanggil Ibunya, namun tidak satu orangpun yang mendengar teriakan Shofa.
Sampai akhirnya Tasya masuk kekamar dan sudah melihat Shofa tergeletak dilantai,

“Ibu… Kak Shofa pingsan,” teriak Tasya.

Mendung masih terlukis di langit . Awan-awan gelap yang menggelantung itu mengingatkan Yusuf pada sore kemarin. Yusuf yang sedang duduk termenung di depan ruangan ICU, hanya bisa menahan kesedihan yang menusuk-nusuk dadanya. Sesekali dia meneteskan air mata kemudian menghapusnya lagi.

“Bagaimana keadaan Shofa, Suf? ” tanya Arif yang baru saja datang.

“Aku gak tau, Rif… aku takut kehilangan Shofa, masih terbayang kejadian sewaktu dia koma dulu, aku takut Rif,”

” Kita doakan yang terbaik buat Shofa saja Suf,”

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 39

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here