Antara Cinta dan Persahabatan # 38

0
55
views

Tanpa pikir panjang Arif langsung membopong Shofa kedalam mobil, dan Arif membawanya kerumah sakit, diperjalanan Arif tidak lupa menelpon Yusuf.
Sesampainya dirumah sakit Shofa langsung ditangani oleh Dokter Musa Papanya Yusuf.

Limabelas menit kemudian Yusuf tiba dirumah sakit dan langsung menghampiri Arif yang sedang menunggu didepan ruangan periksa.
Tampak Arif mondar-mandir didepan ruangan itu.

“Rif, bagaimana Shofa? ”

“Aku gak tau Suf, ayah kamu lagi memeriksanya, tadi kata Shofa, kakinya tidak dapat digerakan, bahkan untuk menggeser kakinya yang terkena beling dia gak bisa.”

“Ya Allah, Shofa, baru kemaren aku melihat kamu bersusah payah membangkitkan semangatmu, tapi kali ini kamu jatuh lagi, aku berharap ini tidak membuat kamu semakin terpuruk, Fa.” lirih Yusuf.

” Sabar, Suf!! Shofa itu anak yang kuat. ”

” Untung ada elu Rif, gw heran, kenapa gw selalu tak pernah bersama dia, ketika dia seperti ini, kenapa selalu ada elu. ”

” Itu takdir, Suf. ”

Pikiran Yusuf mulai kacau. Emosinya memanas seiring dengan peluh yang terus mengalir di kening dan lehernya.

“Gw udah coba untuk berpikir tenang, namun selalu gak bisa, Rif.”

Dokter Musa keluar dari ruangannya, dan langsung dihampiri Yusuf dan Arif.

“Biarkan Sbofa beristirahat dirumah sakit dulu, Papa heran kenapa dia bisa menurun drastis seperti ini, papa mau cek ulang lagi. ”

“Yusuf, Bisa temui Shofa, Pa?”

“Sebentar, tunggu dia dipindahkan keruangan perawatan.”

***

Setelah Shofa dipindahkan keruangan perawatan, Yusuf dan Arif langsung masuk. Terlihat Shofa yang sedang tertidur

“Fa.. ” panggil Yusuf.

Shofa membuka matanya, Ingatannya kembali terbang. Menperjelas ingatannya tentang kejadian tadi, Mencoba mengingatnya kejadian tadi kembali meluapkan air mata yang memberontak keluar dari ujung matanya.

” Barusan saja aku melihat wajah malaikat, Wajah tanpa beban yang selalu tersenyum, meskipun segudang masalah dan cobaan menerpanya. ” ucap Yusuf sambil menghapus air mata Shofa yang tumpah dikedua pipinya.

” Mungkin aku terlalu banyak membuang energi, padahal aku tidak lari ataupun bergerak yang berlebihan, tapi kenapa semakin kemari aku semakin seperti ini, Suf. ”

” Apa yang kamu rasakan, Fa? tanya dokter Musa yang masuk keruangan perawatan Shofa.

“Om, Kaki Shofa tadi sama sekali gak bisa di gerakin. ”

” Kamu terlalu banyak gerak ya, terlalu capek. ”

” Shofa masih bisa jalan kan om? ” ucap Shofa dengan air mata yang kini jatuh kembali.

Dokter Musa tidak menjawab, ” Kamu istirahat aja disini dulu ya Fa, kita tunggu ibu kamu kembali, tadi om sudah mengabari ibu kamu. ” lalu dokter Musa pergi meninggalkan Shofa.

” Rif, tolong jaga Shofa bentar ya, aku mau nyusul papa. ”

***

” Pa… Tunggu!! Yusuf mengejar papanya.

“Shofa lumpuh Suf, papa gak bisa kasih tau dia. ”

” Permanen, Pa? ”

Dokter Musa mengangguk, ” Kasih Shofa semangat, Suf, Papa lagi cari cara memberi tau dia dengan cara papa, untuk sementara, katakan saja dia belum boleh berjalan, karena luka yang dikakinya. ”

Yusuf menyandarkan tubuhnya kedinding, saat itu Dini yang baru saja datang mendengar obrolan Yusuf dan Papanya.
Dini menghampiri Yusuf yang terduduk lemas, dilantai koridor rumah sakit itu.

” Suf, ” Dini mengenggam tangan Yusuf, spontan Yusuf memeluk Dini, ” Shofa.. Din, ”

“Gw tau, Suf, gw denger apa yang dikatakan papa lu, gw juga gak tau harus berkata apa sama Shofa, gw gak tega melihat dia, pasti dia hancur banget saat dia tau, jika dia lumpuh.”

“Kita harus tetap suport Shofa, Din”

***

“Eitss… Ada yang lagi ngelamunin aku, nih” Tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Shofa melirik ke arah Arif,
“Ishh.. Lu apaan sih? Kalau Yusuf tau gimana? Aku kan malu. ”

Shofa memelankan nada suaranya, ” Biarkan dia tidur, Rif, Semalaman dia jagain gw. ”

” Terkadang, gw salut sama Yusuf, begitu gigihnya dia memperjuangkan elo, Fa. ”

” Gw malah kasihan sama dia Rif, apa yang diharapkannya dari gw yang berpenyakitan ini. ”

” Lo layak diperjuangkan Fa, dan yakin lah elu pasti sembuh, lu tau kan Firman Allah dalam surat Al baqarah 286 لا يكلف الله نفساً إلا وسعها , bahwa Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya, Jadi Allah memberikan cobaan ini karena elu mampu untuk melewatinya. ”

” Thanks Rif, atas suportnya”

***

Merasa bosan beberapa hari ditempat tidur, Shofa ingin melihat pemandangan dari jendela kamar rumahsakit itu, Shofa mencoba untuk turun dari ranjangnya, saat kakinya menapaki lantai, “Bruuuuukkk” Shofa tidak dapat menopang kedua kakinya. Shofa mencoba terus berusaha untuk berdiri, namun hasilnya tetap sama.

“Shofa!!! ” teriak Yusuf saat melihat Shofa dibawah ranjangnya sambil menangis.

” Kamu kenapa ada dibawah gini? ”

” Aku kenapa, Suf? kenapa aku ga bisa berdiri, aku kenapa? ”

” Kamu kan masih lemah Fa, makanya kamu belum kuat untuk berdiri, kamu mau kemana? ”

” Kamu bohong!! aku kenapa? jawab Suf? ”

” Naik dulu keatas ranjang kamu, nanti biar Papa yang jelasin. ”

Saat Yusuf hendak mengangkat Shofa, Shofa mendorong Yusuf, ” Fa!!! ”

” Aku lumpuh?? ”

Yusuf memeluk Shofa, ” Kamu pasti kuat hadapi semua ini, Fa. ”

” Jadi bener aku lumpuh? aku gak mau lumpuh.”

Yusuf mengangkat tubuh Shofa kembali keatas ranjangnya,
Shofa masih terus menangisi dirinya.

“Kamu yang sabar ya Fa.”

“Kenapa masih disini, pergi sana!! tinggalin aku, Suf. ”

” Kenapa kamu menyuruh aku pergi? aku gak akan pernah meninggalkan kamu, dan jangan pernah menyuruh aku untuk hal itu. ”

” Apa yang kamu harap dari aku? aku gak bisa apa-apa sekarang, aku lumpuh, kamu berhak mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari aku, Suf. ”

” Fa, Hidup adalah sebuah kenikmatan, jangan jadi orang yang kufur nikmat, Kesetiaan bagi ku adalah segalanya, karena kasih sayang bagi ku merupakan salah satu bentuk dari cinta, dan cinta adalah anugerah yang harus kita syukuri, jadi jangan pernah punya pikiran atau menyuruh aku buat ninggalin kamu, karena itu gak akan pernah. ”

” Tapi.. Suf.. ”

” Gak ada tapi-tapi, malahan aku berpikiran ingin menikahi kamu. ”

” Ga lucu!! ”

“Iya emang gak lucu, aku serius.”

Shofa terdiam, matanya menatap Yusuf, “Dasar bodoh”

Yusuf bangun dari duduknya dikursi, lalu duduk disamping Shofa diatas ranjang Shofa.

“Biarkan aku nakal kali ini, dan biarkan lelaki bodoh ini mencintai kamu. ” ucap Yusuf lalu mengecup kening Shofa.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 37

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here